
acara tahlilan di rumah pak Yudi berlangsung lancar bahkan semua sungguhan yang di buat oleh Nia ludes.
bagaimana tidak, Nia ini di kenal sebagai pembuat makanan terbaik, itulah kenapa warung nasi miliknya selalu laris.
"ayo pamitan dulu sama om," jaya Nia yang akan mengajak anaknya pulang.
"Ndak mau, mau di cini sama ayah," kata Raka yang mengejutkan Nia.
"apa... kok panggil ayah, aduh maaf ya mas, adek gak boleh nakal kayak gini, om juga harus istirahat," bujuk Nia.
"tidak apa-apa Nia,"
"jangan mas, ayo pulang ya dek," bujuk Nia.
"iya dek kasihan bunda jika kita tak pulang terus bunda di rumah sama siaia?" kata Fahri yang membantu membujuk adiknya.
"gak papa nduk, ini juga sudah seperti rumah bagi raja, ibu juga seneng kalau Raka dan Fahri di sini, biar bisa buat temen Yudi," kata Bu Yanti.
"jangan Bu, saya tidak enak dengan para warga Bu, terlebih kami begitu merepotkan," kata Nia yang terus membujuk putranya.
"sudah Nia tak apa-apa biarkan dia disini," kata pak Yudi.
"ya sudah mas ayo pulang nanti bunda buatin spaghetti sama udang goreng, biarin adek gak mau kok," kata Nia melirik putra terkecilnya itu.
mendengar itu, nampak Raka sepertinya mulai bimbang, "ayo pulang nda, mau etti cama udang," kata bocah itu.
"aduh dek kamu ini kalau masalah makanan, sudah sekarang pamit sama om dulu," kata Nia dengan tersenyum.
"ayah kami pulang ya, Mbah uti kami pulang," kata Fahri yang memeluk Bu Yanti.
"aduh Mbah uti sedih nih, rumahnya bakalan sepi," kata wanita itu yang entah kenapa mudah sekali menyayangi kedua anak itu.
terlebih Nia juga sangat baik, dia sadar jika selama ini dia terlalu memanjakan menantunya.
dan saat kehilangan Susi, datang dia orang pengobat hati yang sangat baik.
__ADS_1
yaitu kedua bocah tampan itu, belum lagi pak Yudi yang juga mendapatkan kembali senyumannya yang sempat hilang.
tak lama Nia sampai di rumah dan benar-benar membuatkan spaghetti dan udang goreng.
saat akan makan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Nia pun bergegas membukakan pintu rumahnya.
ternyata pak Yudi, "loh mas Yudi, ada apa?" tanya Nia yang kaget.
"malam dek, aku mau ngantar baju sama jajan anak-anak tadi,kamu lupa tak membawanya, kata ibu takut kamu nyari jadi aku di suruh ngantar ke sini," kata pak Yudi.
"ya Allah mas, aku merepotkan mas terus, masuk dulu mas makan sama anak-anak," ajak Nia
"terima kasih, assalamualaikum..." salam pak Yudi yang masuk rumah.
"calam... ayah," kata Raka senang.
akhirnya mereka duduk bersama dan makan bersama, pak Yudi pun merasa sangat senang bisa melihat senyum kedua anak yang selama ini bersamanya.
ternyata tak sengaja Bu Anas dan pak Anas lewat, keduanya pun memutuskan berhenti karena mau pesan beberapa kue untuk acara lamaran.
"waalaikum salam,loh Bu RT, Monggo masuk Bu .. pak," kata Nia mempersilahkan.
"aduh aduh ada yang apel toh, mas Yudi cepet ya sat set," kata pak Anas menggoda pak Yudi.
"pak RT ngomong apa, orang main saja, ini ngantar baju anak-anak saja," jawab pak Yudi
"aduh saya kesini itu bukan mau ganggu sebenarnya, cuma mau pesan tahu ranjau, tahu bakso, sama kue basah yang setampan itu loh Nia, buat acara lamaran Minggu depan, bisa gak," tanya Bu Anas.
"bisa Bu bisa, kalau kue basahnya itu yang isinya berapa?"
"tolong yang macem-macem ya, maklum biar kelihatan banyak, yang satu tampah aku pesan dua ya," kata Bu Anas.
"siap Bu,"
"kalau pak Yudi dan Nia kapan lamaran, tak baik loh nanti keburu di ambil orang gigit jari lagi," goda Bu Anas.
__ADS_1
"Bu RT ini ngomong apa, saya ini tak pantas untuk mas Yudi, lagi pula saya masih trauma karena pernikahan sebelumnya, terlebih kami melaluinya dengan sangat buruk, terutama untuk kudan Fahri," jawab Nia yang mencoba tetap tegar.
"kamu nyari pria baik gimana lagi Nia, itu sudah di depan mata, sayang sama kedua anak ku, duda juga, baik, pekerja keras, kenapa tak coba di jalanin saja, kan untuk pria tak ada kata masa Iddah, bagaimana mas Yudi," kata pak Anas.
"saya belum tau mas, saya belum kepikiran sampai sana," kata pak Yudi yang tiba-tiba ragu.
"kalau mas Yudi tidak mau, biar Nia saya kenalin sama teman sekolah saya, dia juga lagi cari istri, dia itu baik, pekerja keras, PNS, dan yang paling penting suka anak-anak," kata Bu Anas yang memanas-manasi pak Yudi.
"ya ... kalau jadi pak Yudi gak bisa ke temu anak-anak, orang rumahnya di Madiun," kata pak Anas menambahi.
"bagaimana Nia, mau tidak, saya jamin dengan hidup saya, kamu dan anak-anak pasti bisa hidup senang," kata Bu Anas menyentuh tangan Nia.
"kenalan saja Bu, untuk masalah itu, biar saya pikirkan," kata Nia yang mengejutkan pak Yudi.
setelah pembicaraan panjang itu, mereka semua pamit, Nia melihat anaknya yang masih kecil mungkin mereka masih butuh sosok ayah.
jadi tak ada salahnya untuknya membuka hati untuk orang lain, sedang pak Yudi masih dilema karena kematian istrinya baru.
tapi dia tak mau kehilangan anak-anak yang selama ini bersamanya.
Bu Yanti menyadari perubahan sikap pak Yudi yang baru pulang dari rumah Nia.
pria itu tampak murung dan sedih, "ada apa Yudi? kenapa kamu murung begitu?"
"entahlah Bu, aku merasa sedih karena mendengar Bu RT ingin mengenalkan Nia pada seorang pria,bukan karena Nia tapi aku takut tak bisa ketemu Raka dan Fahri," kata pak Yudi yang tak pernah bisa berbohong di depan ibunya.
"kalau begitu kenapa tidak kamu menikah saja dengan Nia, Yudi... yang sudah tiada ya sudah dia tak akan kembali, ingat kamu masih muda, jadi pantas saja jika kamu membina rumah tangga,"
"tapi baru kemarin Bu, baru kemarin," kata pak Yudi
"sholat istikharah minta petunjuk, harus bagaimana," kata Bu Yanti yang ingin melihat putranya itu.
pak Yudi diam dan tak tau harus bagaimana, apa perlu dia sholat minta petunjuk.
sedang Nia yang tidur bersama dua anaknya pun memikirkan hal yang sama.
__ADS_1