Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
berjuang (Nia)


__ADS_3

wanita itu tak menyangka dia bisa membeli kulkas sendiri dan mulai menyimpan semua bahan tadi, meski ada kulkas lama yang masih berfungsi.


tapi kulkas itu tak muat menampung semua bahan makanan itu, dan kedua anaknya membantunya untuk menusuk sate.


Fahri sudah bisa membantunya, sedang raja sangat menurut untuk tidak nakal.


"adek Raka sedang apa?" tanya Nia yang melihat putra keduanya.


"dek dang ain bunda, mas Ahri tak boleh dek antu," jawab bocah itu yang memang kosa katanya belum lengkap.


"baiklah, adek nanti bantu bunda jualan saja, mas Fahri sudah belajar, apa ada tugas dari guru?" tanya Nia.


"sudah selesai tadi, waktu bunda masak bumbu, aku sudah mengerjakan semua tugas," kata Fahri.


"aduh anak bunda yang tampan dan pintar," jawab Nia.


ya kedua putra Nia memiliki paras tampan seperti ayahnya, dan kulit putih menurun dari dirinya.


pukul sembilan malam semuanya selesai, dan mereka beristirahat karena besok pagi Nia harus bangun jam tiga pagi.


beruntung Raka meski masih balita, bocah itu tetap sangat pintar tak pernah bangun malam.


pukul tiga pagi Nia berangkat ke pasar saat sudah mulai menanak nasi.


beruntung dia tinggal belanja sayur yang tak banyak, hanya mencari timun, bihun, kubis, kecambah panjang dan kacang panjang.


tak lupa dia membeli kerupuk untuk pelengkap nasi uduknya, setelah dari pasar.


dia mulai menanak nasi di pawonan yang sudah panas jadi mudah. dan dia tinggal memasak semua lauk.


membakar sate-sateannya juga sangat cepat di pawonan jaman dulu, dan untuk kayu bakar juga dia tinggal beli kayu yang cukup anteng.


pukul lima pagi,semua masakan dari Nia sudah matang dan sudah siap di tata di luar, Fahri juga sudah bangun .


setelah cuci muka, dia menata buku pelajaran dan kemudian membantu mengemas kerupuk untuk orang yang bungkus.


bahkan saus kacang juga sudah di bungkusi, entah bagaimana Nia itu bekerja bisa sat-set.


Bu Eka yang penasaran dengan jualan wanita itu memilih untuk membeli untuk sarapan


tapi dia kaget karena melihat antrian dari para tukang ojek berjaket hijau, "Nia mau pesan dong,",

__ADS_1


"Bu ambil antrian dong," protes para tukang ojek itu


"hadeh, mau beli nasi saja seperti beli apa," gumamnya.


Bu Eka duduk bersama Bu Toto yang sudah duluan, "dari tadi?"


"tentu saja tidak, orang nomor antrian kita saja berurutan," kata Bu Toto.


"mas Fahri itu ham berapa, jangan sampai telat ke sekolah," kata Nia.


"tidak kok bunda, aku sudah mandi bareng adek, dan sedang buatkan susu adek," jawab Fahri yang memang sangat mandiri.


akhirnya pesanan para tukang ojek itu selesai, dan Nia merasa tak enak, "maaf ya Bu, jadi nunggu lama," kata Nia.


"iya nih, kamu ini pakai penglaris aia kok laris banget," tanya Bu Eka yang terlihat kesal.


"Alhamdulillah Bu, hanya masak dengan hati, dan sepertinya semua cocok," jawab wanita itu.


"sudah deh Bu, aku pesan empat, sate jeroan enam dan usus lima ya,"


"inggeh Bu Toto," jawab Nia.


wanita itu terlihat sangat cepat dalam membungkus nasi, dan dengan cepat selesai pesanan itu.


"siap Bu," jawab Nia


akhirnya semua orang pulang dan terlihat Nia bisa bernafas sedikit,dan dia melihat dua putranya itu sedang sarapan lauk dadar telur yang tadi sempat dia buatkan.


bahkan Fahri menjaga adiknya, bahkan dia menyuapi dengan telaten.


"sudah selesai sarapan sayang?"


"belum bunda, sedikit lagi, adek lama kalau makan,"jawab Fahri.


"adek itu kasihan kakaknya nanti telat," kata Nia


"iya nih, apa nasi dagangan habis bunda?" tanya Fahri.


"belum masih ada lima porsi, tapi mas mau biar bekal?" tanya Nia.


"tidak usah bunda," jawab bocah itu.

__ADS_1


akhirnya Fahri berangkat ke sekolah, dan Nia mengantar dan melihatnya dari kejauhan.


saat dia sudah mrligat anaknya masuk kesekolah, Nia kembali pulang untuk menghitung uang untuk belanja lagi.


dia menyisihkan setiap untungnya yang tak seberapa itu untuk di tabung, dan makan bisa seadanya.


perlahan tapi pasti usaha Nia berkembang, Bu Susi yang memiliki cafe pun merasa tersaingi.


"eh Nia, kamu itu pakai dulu ya, kenapa Isa begitu laris," kata Bu Susi yang datang dan langsung ngomel.


"maaf ya Bu, apa maksudnya ini, kami ini pelanggan lama mbak Nia loh sat punya usaha nasi di kota dulu," kata salah satu pelanggan


"alah itu gak mungkin, atau kamu itu menjual tubuh mu agar para pelanggan itu kembali," hina Susi lagi.


tanpa di sadar Bu Susi, salah satu pelanggan merekam aksinya, "lihat gaes, orang itu ngelabrak warung laris karena usahanya tak laku, mengelikan bukan," kata perekam video.


"ya Allah Bu Susi,jangan asal bicara, saya tau saya itu janda di tinggal mati, saya punya anak kecil yang harus di hidupi, aku juga tak serendah itu untuk menjadi pelacur yang menjual diri," kata Nia yang merasa sedih.


pak Anas dan keluarga yang juga sedang makan di sana, pun tak habis pikir bagaimana Bu Susi bisa melakukan hal gila.


"Bu Susi hentikan, kamu membuat malu dirimu dan suamimu, jika warung mu sepi bukan salah Nia, tapi salah sendiri ketus saat jualan," kata pak Anas yang ada di sana.


"eh RT gak guna diem ya," kata Bu Susi yang memancing Bu Anas untuk bertindak.


"hei... lambe turah, kamu ini tak tau diri ya, sudah pernah di tegur sama tuhan tak bisa tobat,semoga suamimu tidak mati berdiri karena malu punya istri seperti mu, sudah pergi sana, warung mu sepi itu karena kamu yang tak berguna mengurus usaha mu kenapa malah menghina orang lain," kata Bu Anas.


"bener tuh, dasar tak tau malu," kata pelanggan yang merasa terganggu


karena malu akhirnya dia memutuskan untuk pergi menjauh.


akhirnya video itu di sebar luaskan, danvu Susi langsung dapat cibiran dari warganet karena tingkahnya.


dan video e pun viral, bahkan di sekolah anak Bu Susi di ejek karena video ibunya.


dan pak Yadi pun malu memiliki istri seperti Bu Susi yang tak bisa menahan amarahnya sedikitpun.


dan kini malah membuatnya malu seperti ini. bagaimana tidak sekarang warung mereka makin sepi karena imbas video itu.


"ini semua karena janda gatel itu," marah Bu Susi


"cukup hentikan Bu, ini semua bukan salah warga batu itu yang jualan nasi, ini salah mu yang menaikan harga seenak mu, kamu tau benar jika warung kita ini di pinggir desa, tak usah sok-sokan kayak warung besar di kota, jadi berhenti menyalahkan orang lain,"

__ADS_1


"itu tak benar, tapi karena dia itu yang membuat warung kita sepi," banyak Bu Susi.


"baiklah terserah padamu mau melakukan apa, tapi ingat aku akan mengajukan gugatan cerai karena aku sudah tak mau hidup dengan wanita yang toxic seperti mu, aku muak aku bisa mati muda jika terus begini," kata pak Yadi yang pergi meninggalkan warungnya.


__ADS_2