
pak Yudi keluar dari kantor miliknya, dan melihat rombongan paling desa, dan dia pun menghampiri mereka.
"assalamualaikum... kok gak bilang mau datang," kata pak Yudi bersalaman dengan semua orang.
"iya pak, ini tadi dadakan di ajak pak lurah, untuk merayakan pak Eko yang tak jadi di pecat," kata pak Rozak.
"Alhamdulillah soalnya pak Eko ini selalu baik dalam bekerja, jadi sudah pesan?" tanya pak Yudi.
"sudah mas, di sini sendiri tha nyonya baru ikut?" tanya pak lurah.
"ikut pak, kalau di tinggal di rumah rakit di colong grandong, itu dia, dek tolong bawakan gorengan untuk bapak-bapak ini ya," panggil pak Yudi.
"inggeh mas," jawab Nia yang kebetulan lewat
seorang pegawai membawakan tiga riring gorengan full beserta sambal untuk para bapak-bapak itu.
tak hanya itu tak lama pesanan mereka selesai, pak lurah melihat Bu Eka seperti ada yang beda.
"Gun, jangan melihat ku seperti itu, aku tau loh kalau aku masih cantik," kata Bu Eka yang menatap semua menu di meja.
"mampus gak tuh..." lirih pak Eko tertawa.
pasalnya bu Eka ini satu-satunya orang yang memanggil pak lurah dengan namanya, yaitu Gunawan.
ya bagaimana pun mereka dulu satu sekolah dan terkenal sebagai pasangan gila' di sekolahnya dulu.
"opo o, tidak boleh saya melihat mu, kok tambah tua ya sekarang, kakekan ngamok ya," kata pak lurah menggoda Bu Eka.
"diam Gun, mau tak sambelin tuh mulut, huh..." kesal Bu Eka.
wanita itu pun akhirnya ke belakang menyisakan para pria itu yang melongo karena pak lurah yang terkenal tegas.
kini malah bersikap santai di depan Bu Eka, bahkan pak Yudi kaget saat melihat Nia bisa memeluk Bu Eka.
padahal kapan hari mereka masih sempat bersitegang karena masalah sepele.
bahkan para pegawai terlihat begitu menghormati Bu Eka, "sudah Monggo sekecaaken ngeh," kata pak Yudi yang pamit.
dia masuk ke dalam kantornya untuk memeriksa pesanan yang akan di antar sore ini.
terlihat para pria itu nampak lahap, dan gorengan berbagai jenis juga sudah habis padahal masih jam tiga sore.
dan beberapa menu juga habis, jadi Nia memutuskan untuk menutup warung setelah para tamu selesai.
dan plang habis sudah di pasang, pak Eko tak menyangka bisnis milik pak Yudi semakin besar.
mobil truk yang mengantarkan sayuran datang, Nia yang memeriksa setiap kualitas dan kuantitas barang yang di kirim.
__ADS_1
kini para pegawai dapur sibuk menyiapkan semua untuk di simpan, agar saat besok buka jualan semua tinggal memasak Tania harus repot potong-potong lagi.
tiga orang berangkat membawa motor tossa untuk mengambil semua bumbu yang baru saja selesai di masak di rumah.
ya warung ini bisa menghabiskan ratus kilo ayam dalam satu hari, belum lagi protein lainnya, dan sayuran yang tak terhitung, terlebih mereka juga menerima pesanan catering juga.
tak hanya itu karena tak membuka cabang jadi warung ini bisa mempertahankan rasa.
bahkan kini pak Yudi sedang mengincar bangunan rumah di sebelah kiri warung untuk di beli dan di jadikan tempat dengan dua lantai.
karena yang sebelah kanan sudah ada ruang terbuka hijau dan parkiran yang luas.
pak lurah datang untuk membayar, kebetulan Bu Eka sedang belajar dengan dara untuk pegang kasir.
pak lurah memberikan uang tip langsung pada Bu Eka, "masakan mu enak,"
"terima kasih Gun, dan tetap jadi orang baik ya," kata Bu Eka yang tau tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"terima kasih,aku pulang," pamitnya.
Bu Eka hanya mengangguk saja, Nia yang melihatnya pun mendekati Bu Eka, "uhuy... pak lurah nih,"
"ngomong apa sih, sudah pulang sana, nanti keburu magrib gak baik," kata Bu Eka yang langsung ke dapur.
pak Yudi dan Nia pun pulang, dan mereka memasrahkan urusan warung pada orang mereka saja, karena pak Yudi juga tau pendapatan hati ini memang lebih besar dari kemarin.
pak Eko sampai di rumah, dan kaget melihat ada Bu Lastri yang datang ke rumah, "mau aia kesini, bukankah kamu sudah membuang ku," katanya dengan dingin yang langsung masuk kedalam rumah.
Bu Lastri masih diam, dia merasa jika sangat kesal saat ini karena pak Eko yang tampak cuek.
"jika kamu sekali saja memohon maaf padaku, aku akan memaafkan mu dan kita bisa bersama lagi, bagaimana," tawar Bu Lastri.
"tak berminat, kebetulan aku nyaman sekarang hidup sendiri," saut pak Eko.
"apa... kamu tak merasa kesepian dengan keadaan mu, bagaimana bisa dasar pria aneh," tegur Bu Lastri.
"aku menjalani hidupku, dan aku tak harus mengurusi dirimu yang terus menerus membuat masalah dengan para tetangga, dan itu membuatku tenang, jadi jika sudah tak ada yang di bicarakan, silahkan pergi," kata pak Eko.
"sialan, kamu lupa ini rumah siapa, berani-beraninya kamu mengusirku," marah Bu Lastri.
"Kamu yang bodoh ya, kura mengontrak rumah ini karena kamu tak mau tinggal di rumah ku yang sederhana di ujung desa, jadi rumah ini bukan milik mu," kata pak Eko.
"kamu bohong, kata pak Agus, rumah ini sudah di beli lunas," kata Bu Lastri.
"mana buktinya, karena rumah ini memang bukan milik mu dan milikku jadi jangan bertingkah," kata pak Eko yang membuat Bu Lastri diam.
Bu Anas dan Bu Tomo serta Bu Yanti, yang melihat dari rumah Bu Yanti pun menyimak dengan seksama.
__ADS_1
mereka bertiga ini benar-benar hebat, karena seperti detektif dan Intel bahkan tak ada gosip yang terlewat sedikitpun.
mobil pak Yudi datang,dan Nia heran melihat tiga wanita itu yang terlihat sangat fokus.
"ini ibu dan yang lain lagi pada ngapain sih?" gumam pak Yudi.
saat dia melihat apa yang menjadi fokus ketiga wanita itu, pak Yudi hanya bisa geleng-geleng, karena mereka menyaksikan keseruan dari pada drama di televisi.
Bu Eka sudah pulang ke rumah, dan dia merasa jika hari ini terasa berat, tapi semuanya terbayar dengan baik.
bahkan dia banyak menerima tips pribadi dan gabungan, karena di warung itu.
jika pelanggan ingin memberikan tips karena masakan yang di masak enak sudah ada kotak khusus.
begitu pun dengan pelayanan, itu juga permintaan dari pelanggan. akan baru pulang les melihat ibunya yang juga baru sampai.
"bagaimana hari pertamanya Bu?"
"semuanya baik, ibu juga tak menyangka jika bekerja seperti ini bisa membuat ibu sangat bahagia," jawab Bu Eka.
di rumah Bu Anita, wanita itu sedang duduk santai bersama dengan ibu Harun tetangga samping kanan rumahnya.
saat mereka melihat dari rumah pak Wisnu keluar seorang wanita muda dengan mengunakan setelan baju yang minim.
"Bu... itu siapa ya, kok keluar dari rumah pak Wisnu, padahal pak Wisnu kan duda," kata Bu Harun.
"mungkin saudara jauhnya Bu," jawab Bu Anita yang juga bingung mau jawab apa.
"aduh Bu Anita ini gimana, kita ini sebagai tetangga itu jangan mendiamkan saja, takutnya jika ada masalah nantinya kan kita juga yang kena sebagai tetangga," kata Bu Harun.
"dari pada ibu mikirin orang lain, tadi suaminya sudah di buatkan kopi belum," kata pak Rudi yang menyahut sambil memandikan burung miliknya.
"lah tenang saja suami saya kan mandiri," kata Bu Harun.
"jangan lupa loh Bu, kemarin pak Eko itu selingkuh juga karena di kira mandiri oleh Bu Lastri," kata Bu Anita yang membuat wanita itu langsung pamit pulang.
bisa-bisa bojay jika suaminya itu berani selingkuh nantinya, sedang pak Rudi tertawa melihat wanita itu ketakutan dan pulang.
melihat pak Rudi datang, Bu Anita langsung masuk kedalam rumah.
"assalamualaikum pak, mau antar uang untuk agustusan," kata pak Wisnu.
"terima kasih ya, oh ya pak tadi itu siapa yang datang dengan mobil dan pakaian yang cukup ketat, bukan saya usil ya pak, kita kan hidup di desa, jadi bisalah bapak timbang sendiri harus bagaimana," kata pak Rudi yang memberikan saran.
"oh iya pak, itu putri-putri saya yang kerja di Surabaya, maklum dia memang begitu, biar nanti saya kasih tau," kata pak Wisnu.
"siap pak, memang berapa anak pak Wisnu,"
__ADS_1
"saya punya lima anak, tiga perempuan dan dua laki-laki, semua sudah berumah tangga, dan kebetulan mereka ada seminar di hotel Yusril, jadi mereka menginap disini sekalian jenguk ayah mereka ini," kata pak Wisnu