
Bu Eka mendengar semua yang di bicarakan oleh orang-orang, dia masih belum percaya jika Susi sudah benar-benar habis.
dia tak mengira jika Yudi akan di berhentikan oleh mas Yono, padahal dia tau benar jika Yudi sudah ikut pria itu bertahun-tahun.
bahkan dari pertama kali mas Yono memiliki usaha kulak gabah itu, dan sekarang habis karena mulut istrinya.
"sudah, sekarang diam kamu di rumah, kamu lihat sekarang, Susi dan Yudi sudah dapat karma, karena istrinya sekarang Yudi jadi penyakitan, tinggal nunggu jamu nih, mau aku jadi sepertinya," kata pak Surip yang duduk menikmati kopi miliknya.
"bapak itu ngomong apa sih, kenapa ngomongnya gitu," kata Bu Eka yang tak suka.
"ya benar, kamu dan Susi itu mirip, sama-sama gak punya rem kalau sudah membicarakan aib orang, bahkan kamu tau jika kamu itu bisa membunuh orang dengan ucapan mu, entah berapa banyak lagi orang yang harus mati karena mulut mu itu," kata pak Surip.
"bapak itu ngomong apa, aku tak mungkin melakukan itu, sudah gak usah di bahas," kata Bu Eka yang merasa tak enak.
sedang di rumah Bu Lastri, dia sekarang juga sedikit lebih tenang, terlebih dia dan suami juga memiliki hubungan bisnis dengan mas Yono.
jadi mereka tak ingin pria itu marah dan memutus segalanya seperti yang di lakukan pada keluarga pak Yudi.
"sekarang Bunda, jangan ngomong yang tidak-tidak, karena mas Yono sedang tak bercanda, kamu lihat Yudi sudah gabis dia, sekarang siapa yang mau memperkerjakan dia, orang di desa ini semua berhubungan dengan mas Yono," kata pak Eko.
"iya yah, ibu ngerti," jawab Bu Lastri yang juga tak ingin habis.
Wulan sedang duduk di samping suaminya itu, melihat istrinya yang cantik.
mas Yono pun memutuskan untuk tidur berbantal paha istrinya itu, "mas aku dengar pak Yudi akan pulang dari rumah sakit, kita jenguk yuk,"
"tidak usah, aku sudah menyuruh seseorang ke tempatnya, dan sekarang lebih baik kita bersiap-siap yuk, kita jalan-jalan saja," kata mas Yono.
"memang mau jalan kemana?"
"sudah siap-siap saja," jawab mas Yono.
karena sudah malam, jadi mereka berdua langsung pergi begitu saja, dan tak lupa Wulan membawa sedikit baju.
ternyata mas Yono ingin mengajak istrinya itu main ke malang untuk menikmati suasana santai dan berhenti memikirkan tentang apa yang terjadi.
__ADS_1
ya mas Yono ingin istrinya itu melupakan semua masalah yang terjadi di desa.
keesokan harinya, suasana pagi di desa sangat dingin, karena habis hujan deras.
pagi ini pak Yudi pun di perbolehkan pulang setelah menjalani pemasangan ring di jantungnya.
terlihat Bu Susi sedikit murung, saat sampai di rumah pun tak ada orang yang datang.
"dasar tetangga miskin, dulu jika ada yang sakit terus kita tak jenguk pasti di omongin, sekarang gak ada tuh yang datang kesini," kesalnya.
"sudah ma, semua pasti ada masanya, itulah kenapa aku menyuruh mu untuk menjaga ucapan mu, karena setiap orang yang di percaya itu omongannya," kata pak Yudi.
"huh... sudah bapak istirahat di sini, aku mau membuatkan minuman hangat untuk mu dulu," kata Bu Susi yang tak bisa menjawab suaminya itu.
karena dokter menyarankan dia untuk selalu menjaga emosi dari suaminya.
"assalamualaikum... mas Yudi," salam Andik yang datang dengan istrinya.
tak lupa mereka membawa kue dan buah-buahan untuk keluarga pak Yudi.
"waalaikum salam Andik, Monggo masuk, ma... ini ada Andik datang dan istrinya," panggil pak Yudi
"iya Bu, karena kemarin masih sibuk, bagaimana keadaan mas Yudi," tanya Andik tersenyum.
"aku sudah mendingan, tapi sekarang aku tak bisa terlalu lelah saat bekerja," kata pak Yudi.
"oh ya pak, ini ada titipan dari bos Yono, beliau minta maaf tak bisa datang sendiri untuk menyampaikan ini, karena bos nih sedang liburan di malang bareng istrinya itu," kata Andik memberikan amplop coklat yang cukup tebal.
"apa ini, kenapa bos memberikan ini?" tanya pak Yudi
"bos bilang ini uang saku karena susah di berhentikan, dan semoga uang ini bisa untuk membuat usaha terlebih pak Yudi sudah tak bisa bekerja berat," kata Andik.
"tolong ucapkan terima kasih ya,"
"tak perlu berterima kasih -" kata Bu Susi yang datang membawa minuman untuk tamu.
__ADS_1
"hentikan omongan mu itu, kamu masih belum sadar diri dan lupa karena siapa semua ini, jadi mulai sekarang tak usah keluar dan ngerumpi, sekarang duduk di rumah dan bantu aku usaha, kamu mengerti kamu Susi," kata pak Yudi.
"iya mas," jawab wanita itu.
ya Bu Susi kali ini tak bisa berkata apapun dan membantah suaminya itu.
siang hari hingga sore banyak warga yang datang menjenguk pak Yudi yang baru pulang.
warga yang datang ini sebenarnya sungkan kepada pak Yudi yang selama ini memang terkenal baik.
sedang di rumah Bu Sundari, wanita itu baru keluar kamar pukul lima sore.
dia mengikat rambutnya yang acak-acakan, dia tak menyangka jika kegiatannya jadi sangat melelahkan.
terlebih itu adalah pertemuan terakhir kali dengan menantunya karena keluarga putrinya itu pulang ke rumah mertuanya yang memang sudah sepuh.
"aku pasti akan merindukannya," gumam Bu Sundari.
sebenarnya kegilaan ini bermula dari dia yang tak sengaja masuk ke kamar mandi saat menantunya itu mandi karena pintu tak di kunci.
kemudian ya akhirnya perselingkuhan itu pun terjadi begitu saja.
sore itu Bu Eka dan suami serta Bu Lastri serta sang suami juga berkunjung ke rumah Bu Susi untuk menjengguk pak Yudi.
sesampainya di rumah mereka, mereka tertawa dan berbincang dengan hangat.
"anu pak polo, jika saya bikin usaha di desa nih butuh surat izin gak ya?" tanya pak Yudi.
"tentu saja tidak pak, kecuali anda mau meminjam uang bank baru harus buat surat keterangan di desa," jawab pak Eko.
"mau jualan apa nih pak kira-kira, kalau bakso atau mie ayam di sini sudah banyak yang jual deh," kata pak Surip
"bagaimana kalau gorengan, seperti risol, dan martabak mie khas Madura, pasti pak Yudi pernah makan bukan," kata Bu Lastri.
"ah itu benar Bu, itu juga boleh dengan sambel petis yang enak pasti banyak yang beli," kata pak Yudi.
__ADS_1
"cocok tuh, biar Bu Susi bantu biar sekalian diet ya bu," kata Bu Eka.
"dek..." kata pak Surip yang tidak suka ucapan suaminya.