Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
kabar heboh


__ADS_3

"Mungkin dia kabur karena malu, memang kamu yakin dia tak kabur?" tanya Bu Anas yang melihat Bu Ika.


"Ibu saya mohon, saya memang salah, tapi saya khilaf Bu, dan tolong bantu saya untuk mencari suami saya," mohon Bu Ika.


"Baiklah, aku akan meminta warga untuk membantu mencari Imron," jawab pak Anas yang merasa bertanggung jawab karena dia RT di sana.


"Aku ikut, aku gak percaya dengan wanita ini," kata Bu Anas yang tak ingin suaminya di goda


Sedang Bu Ika tak menyangka jika akan mendapatkan reaksi seperti ini, karena selama ini ibu Anas adalah orang yang netral.


Akhirnya mereka pun jalan bertiga, dan Bu Anas memastikan jika anak-anaknya itu tak ada yang keluar terutama Vina.


Pak RT memanggil bantuan beberapa warga, awalnya istri para pria itu melarang.


Tapi berkat Bu Anas yang masih bersikap biasa, akhirnya mereka semua mengizinkan.


"Ini Imron kemana sih, masak bisa hilang di tempat kelahirannya kok aneh," gumam pak Anas.


"Ya jangan si cari di bawah saja lah pak, siapa tau ada di atas, sedang merenung," kata pak Surip


"Kamu ini aneh-aneh kok rip, memang kamu kira Imron itu kuntilanak atau genderuwo," kata pak Eko.


Dia adalah kepala dusun desa dan suami dari Bu Lastri, dia merasa tak enak karena semua ini berawal dari tingkah istrinya yang kepo.


"Ya siapa tau saja dih pak," kata Julianto.


Pemuda itu dengan iseng menyorotkan senternya ke atas pohon asem yang cukup besar.


"Tu.. tu... tu... apa pak !!" teriak mereka dengan sangat kaget.


Semua orang pun menyorot ke arah yang di maksud, semua pun ikut kaget melihatnya.


"Mas Imron!!" teriak Bu Ika yang syok melihat tubuh suaminya tergantung di pohon itu.


Bahkan pria itu sudah tewas dengan lidah menjulur dan mata yang melotot.


"Kenapa diam saja, cepat cari sesuatu untuk menurunkannya," kata pak Anas.


Pak Eko langsung menghubungi pak RW untuk mengumumkan hal itu, tanpa semua orang juga tak menyangka akan hal itu.


Bu Susi yang sedang berada di toko Bu Sundari kaget mendengar siaran yang di umumkan di masjid desa.

__ADS_1


"Apa aku gak salah dengar, itu Imron suaminya si Ika nih yang mati?" tanya Bu Susi.


"Sepertinya, sudah ayo kita lihat dulu, karena aku juga penasaran tau," kata Bu Sundari yang langsung menutup tokonya.


Mereka pun segera bergegas ke rumah Bu Ika, ternyata benar, wanita itu sedang menangis memeluk jasad suaminya.


Semua orang merasa kasihan dengan Imron yang malu hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


"Sekarang mau bagaimana pak RT, kita semua tau jika di desa kita tak akan ada yang mau mengurus jenazah pak Imron karena dia bunuh diri," saut salah satu warga.


"Ya setidaknya kita harus memakamkan jenazah dengan layak," saut pak Eko.


"Tapi siapa yang mau," kata warga lainnya.


"Biar aku yang bantu," kata pak Surip.


"Aku juga akan bantu, karena dia itu warga ku," kata pak Eko.


"Tapi ayah," kata Bu Lastri yang tak ingin melihat suaminya itu mendapat malapetaka


"Cukup Bu, cukup!" kata pak Eko.


Akhirnya Julianto bergabung untuk membantu pak Eko dan pak Surip juga, bahkan pak Anas juga.


Mungkin beberapa ada yang merasa kasihan, tapi setelah ingat kenapa pak Imron bisa memutuskan untuk mati.


Mereka merasa jika Bu Ika ini cuma pura-pura sedih saja, dan malam itu jenazah pak Imron di makamkan.


Bu Susi pun tak menyangka jika kabar itu akan melukai pak Imron hingga membuat pria itu memilih mengakhiri hidupnya.


"Sekarang aku harus bagaimana, bagaimana aku akan hidup tanpa mu mas... terlebih aku hanya memiliki mu," tangis Bu Ika.


"Sudah Ika, kita pulang tak baik kamu di sini malam-malam," kata Bu Anas


Mereka semua pun pulang, dan Bu Ika masih telihat begitu sedih karena kematian suaminya.


Para warga istirahat seperti tak terjadi apapun, karena pak Eko melarang ada yang membahas masalah itu lagi.


Dan jika masih ada yang ketahuan membicarakan tentang hal buruk ini, akan di beri sangsi sosial.


Tak terasa seminggu berlalu dari kisah sedih itu, terlewati begitu saja tanpa ada hal yang aneh.

__ADS_1


Bu Sundari sedang di toko dan melihat beberapa on-line shop yang memang sering dia belanja di sana.


Wulan datang bersamaan dengan Ninik yang ingin belanja, "loh Wulan mau beli apa?"


"Ini mbak mau beli telur dan keperluan dapur, maklum tadi kesiangan bangun karena mas Yono libur," jawab Wulan.


"Aduh yang langgeng ya pengantin baru," kata Ninik tersenyum.


"Kalau kamu nik, sudah hampir satu bulan tak melihat suami mu, ya kali betah sekali meninggalkan istrinya di rumah sendirian," tanya Bu Sundari yang meletakkan ponselnya.


"Ah itu Bu, saya sudah memasukkan gugatan cerai, karena kami tak bisa melanjutkan pernikahan lagi," jawab Ninik yang membuat Wulan dan Bu Sundari kaget.


"Ya Allah mbak, yang sabar ya..."


"Makannya jangan pernah membuat suami mu, jangan sampai hal seperti ini terjadi ya Wulan, jadi mau beli apa?" tanya Bu Sundari.


"Ya Allah Bu, jangan bilang seperti itu, siapa yang ingin mengalami hal buruk begitu,"


"Sudah tak perlu mengajari aku, mau beli apa?" tanya Bu Sundari.


"Mau beli telur satu setengah kilo, mie bakso satu yang besar dan ayamnya satu kilo," kata Wulan yang memilih sayur.


"Kalau kamu nik? mau beli apa?" tanya Bu Sundari.


"Saya mau beli telur satu kilo dan mie goreng nya sepuluh ya Bu, sama sawi satu ikat dan kubis satu kilo," kata Ninik.


"Ini kenapa kok pada beli sayur, sama mie, kalian ini memang tak pintar masak ya?" tanya Bu Sundari.


"Aku bisa masak kok, ya lagi ingin masak mie, memang tak boleh ya Bu?" tanya wulan.


"Bukan begitu, memang mau buat apa mie sebanyak ini,dan ayam itu," tanya Bu Sundari.


"Mau buat nasi bungkus, sudahlah itu urusan kami, jadi semuanya berapa Bu, karena mas Yono sudah menungguku di rumah," kata Wulan yang tak suka terlalu lama di toko itu.


Jika bukan karena toko Bu Sundari yang paling lengkap, mereka berdua juga tak ingin belanja di toko itu.


Wulan dan Ninik pun segera pamit pergi setelah belanjaan mereka selesai.


Wulan sedang berjalan dengan Ninik, keduanya sedang asik mengobrol.


Karena Wulan sangat cocok dengan wanita itu, terlebih mereka saling berbagi pengalaman.

__ADS_1


"Semoga setelah ini mbak Ninik bisa bahagia, dan siapa tau akan ada pria yang akan membuat mbak Ninik bahagia suatu saat nanti," kata Wulan.


"Amiin ya dek, amiin..." jawab Ninik tersenyum ramah.


__ADS_2