
"assalamualaikum mbak, mas polo, idih makin ganteng saja, gimana mbak katanya mau di kenalin duda," tanya Santi.
"gak jadi, kamu kayak gini, lagi pula mas mau gak ngizinin," kata Bu Lastri cemberut.
"lah kenapa to mas polo, memang adik ipar ku ini kurang cantik?" tanya Santi dengan gayanya yang centil.
"bisa mati tuh orang kalau nikah sama kamu, bagaimana tidak lepas dari istrinya yang pelit, eh dapat kamu yang tau tau gender, lagi pula kasihan kalau punya istri kakuntau saja yang temannya tidak rela, sudah aku mau keluar dulu," kata pak Eko yang bisa makin stres di rumah melihat dua wanita ajaib itu.
"emang orangnya gimana sih mbak, kok penasaran aku, tunjukin dong," tanya Santi yang benar-benar penasaran.
"oke, biasanya mereka jam segini ngumpul di depan rumah kalau tidak ya di warung miliknya," kata Bu Lastri.
keduanya langsung pergi melewati rumah pak Yudi tapi pria itu sedang bermain dengan dua anak Nia.
"ihh... mbak bohong nih katanya tidak punya anak, tuh punya dua malah," kesal Santi.
"bukan, itu anak tetangganya, tapi kalau menurut mu ganteng gak mas Yudi?"
"ganteng sih mbak, badannya juga oke, sepertinya orang punya deh, mau dong aku," kata Santi.
"gampang bisa di atur," jawab Bu Lastri.
kini keduanya berbalik dan ingin menghampiri pa Yudi, tapi sayang ada Eko yang sudah ada di sana dan tengah melotot ke arah keduanya.
dan mereka pun tak berani berkutik jadi langsung menancap gas motornya.
"memang kalau boleh tau, siapa sih ibu bocah-bocah tadi, aku jamin pasti tak lebih cantik dari aku," kata Santi dengan percaya diri.
"itu memang benar," jawab Bu Lastri.
saat motor melewati jalan timah Nia, ternyata wanita itu masih sibuk melayani pembeli, di bantu seorang wanita setengah baya.
"tuh orangnya," kata Bu Lastri.
__ADS_1
"alah mbak masih cantik aku kemana-mana, sudah ayo pulang, aku yakin aku pasti bisa merebut hati mas Yudi itu," kata Santi penuh keyakinan.
padahal yang di lihat Santi itu berbeda dengan maksud dari Bu Lastri.
pasalnya yang di kira santri adalah pegawai yang membantu Nia, itulah kenapa dia sangat yakin jika dia menang dari Nia.
pukul lima sore Nia baru selesai mengerjakan semua pesanan, dia juga sudah cantik dan kini dia bersiap untuk menjemput kedua anaknya.
dia pun bergegas karena tak enak dengan pak Yudi, terlebih pria itu selalu repot mengurus dua anak Nia.
sesampainya di rumah pak Yudi, Nia mengetuk pintu, tapi pria itu tak menjawab.
"assalamualaikum... mas Yudi," panggil Nia.
tok...
tok...
tok...
tapi dia malah mendengar suara motor yang baru datang, dan menoleh.
pak Yudi tersenyum ke arah Nia yang juga langsung memeluk putranya Raka, "dari mana sayang, kok beli seperti ini sih, itu kasihan om Yudi dong,"
"tidak apa-apa Nia, ini tadi saya janji kalau mereka mau tidur siang dan Fahri bisa mendapat nilai A di sekolah saya akan belikan jajan di minimarket," jawab pria itu.
"aduh mas Yudi, ini berlebihan tapi terima kasih sudah menjaga mereka, entah apa yang akan terjadi jika tidak ada bantuan dari mas," kata Nia
"sudah ku katakan berkali-kali jangan sungkan, oh ya aku pesan nasi untuk empat puluh harian ya, dan juga kuenya sekalian," kata pak Yudi.
"mau kue berapa macam mas?"
"terserah kamu saja, aku menurut dan aku tolong buatkan yang satu kotaknya harga tiga puluh ribu sudah dengan kue, dan aku pesan tujuh puluh lima ya," kata pak Yudi
__ADS_1
"iya mas, untuk lusa kan," kata Nia.
"kok kamu tau?"
"karena itu bertepatan dengan hari kematian suamiku juga, tapi kalau Suamiku baru satu tahun," jawab Nia yang terlihat begitu tegar.
"kamu masih cantik Nia, kamu bisa menikah lagi," kata pak Yudi.
"ha-ha-ha mas Yudi bercandanya, siapa yang akan mau dengan janda dia anak seperti saya, lagi pula saya takut jika ayah sambung mereka tak bisa baik pada mereka berdua," jawab Nia yang tersenyum.
sebenarnya Nia selalu merasa senang jika anak-anak begitu suka bermain dengan pak yudi.
bahkan panggilannya berubah saat pernah Nia panik karena dia putranya tiba-tiba panas tinggi.
dia pun secara tidak sadar menghubungi pak Yudi untuk minta tolong di bantu mengantar putranya ke rumah sakit.
"tenang Nia, Fahri dan raja itu anak-anak yang kuat kok," kata pak Yudi menenangkan wanita itu.
"tapi mereka sangat pucat dan badannya sangat panas pak... aku takut mereka akan..." tangis Nia yang tak terbendung dengan tubuh gemetar.
melihat itu, pak Yudi memeluk Nia untuk membuat wanita itu tenang, akhirnya perlahan Nia pun merasa tenang di pelukan pak Yudi.
ternyata kedua anak Nia mengalami keracunan sosis yang di jual di pinggir jalan.
dan semenjak itu entah bagaimana, hubungannya dan pak Yudi semakin dekat karena pria itu yang menawarkan diri.
"bagaimana jika kamu titipkan saja Raka padaku, dan Fahri bisa datang saat pulang sekolah," tawar pak Yudi.
"tapi pak, itu merepotkan," kata Nia tak enak.
"tidak apa-apa, aku juga ke warung bisa mengajak mereka, toh kehadiran mereka seperti obat untuk ku yang sudah kehilangan semuanya," kata pak Yudi mengusap kepala Fahri dengan lembut.
"terima kasih pak, kalau begitu saya akan sangat merepotkan," kata Nia
__ADS_1
"tak masalah, sebagai bayarannya tolong jangan panggil aku pak, panggil aku mas biar terdengar akrab,"
"iya mas, terima kasih..."