Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
area bahaya


__ADS_3

pak Yudi sudah menghampiri Nia, dia pun mulai menyentuh lengan Nia, dan istrinya itu menunduk malu.


pak Yudi mengangkat wajah Nia, "jangan menutup mata Nia, aku ingin kamu melihat aku," bisik pak Yudi.


Nia pun membuka matanya, dan pak Yudi mencium kening Nia, kemudian pak Yudi memeluk Nia.


"kamu belum siap ya,"


"bukan begitu, terlalu lama tidak berdekatan seperti ini dengan pria, membuat ku gugup, jangan melihat ku," kata Nia


pak Yudi tertawa mendengar Nia, dia pun mengajak Nia duduk, kemudian pak Yudi menyentuh dan mengusap pelan pipi dari Nia.


"mas..."


akhirnya pak Yudi pun melepaskan kaos yang dia pakai, kemudian dia menidurkan Nia ke ranjang.


keduanya pun berciuman dengan mesra, bahkan pak Yudi tak menyangka jika dia akan merasakan deg-degan seperti ini


bayi juga ingin melanjutkan aksinya, sebuah ketukan pintu mengejutkan keduanya.


tok.. tok.. tok..


"Yudi, Nia apa kalian susah tidur, itu ada seseorang yang mencari kalian," kata Bu Yanti memanggil keduanya.


"inggeh Bu sebentar," jawab Nia yang membenarkan bajunya.


bahkan dia segera mengambil jilbab yang ada di lantai, sedang pak Yudi mencari sarung.


ya dia berubah membuat tenang adiknya yang terlanjur on malah gagal.


"inggeh Bu ada siapa?" tanya Nia.


"aku juga tidak tau, dia seorang wanita yang datang membawa anak," jawab Bu Yanti.


Nia pun melihat sudah jam sembilan malam, tapi siapa yang datang malam-malam begini.


Nia keluar dan kaget melihat sosok itu, "mau apa kamu datang kesini, apa belum puas kamu mengambil semuanya," marah Nia yang melihat sosok wanita itu.


bahkan Bu Yanti kaget melihat reaksi dari menantunya itu, "ada apa dek?"

__ADS_1


"pergi, aku tak mau melihat mu," marah Nia mendorong wanita itu pergi.


"Nia maafkan aku, aku bangkrut dan aku butuh bantuan mu, dia juga anak kandung mas Bey, tolong bantu kami," kata wanita itu memohon.


"kenapa kamu mencariku, dengan tanpa malu dulu kamu merebutnya hingga punya anak dengannya, kamu merebut usaha ku yang aku rintis dari nol, saat dia terlilit hutang karena hutang perusahaannya, kamu meninggalkannya, dan aku harus menjual semua barang untuk melunasi setelah bank mengambil semua, bahkan aku dan anak-anak ku harus pulang ke rumah orang tuaku, sudah sekarang jamu juga harus berjuang sendiri, tolong jangan melakukan ini lagi, aku baru saja memiliki keluarga baru, tolong jangan menghancurkannya lagi ..."


"ada apa ini kok rame sekali?" kata pak Anas yang sampai keluar rumah.


"saya adalah teman Nia, dan saya datang ingin minta tolong tapi dia malah mengusirku," kata wanita itu.


"tunggu dulu, kamu tadi bilang kamu punya anak dari suami terdahulu Nia bukan, berarti kamu bukan temannya tapi kamu perusak rumah tangga, jadi tak salah jika Nia mengusir mu, dan sebagai suaminya yang baru aku tak mengizinkan dia berhubungan lagi dengan mu."


"apa wanita perusak rumah tangga, lebih baik kamu pergi sebelum aku menjambak mu dan membakar mu hidup-hidup karena aku paling benci wanita seperti itu," marah Bu Anas yang mengambil batu bata.


"wah ibu hebat," kata pak Anas.


"aku akan menghajar wanita seperti itu, cih..." kata Bu Anas yang memang paling tak suka seperti itu.


sedang wanita itu pergi dengan marah, karena dia tak mau membesarkan anak pria yang tak berguna.


jadi dia meninggalkan bayinya yang berusia satu setengah tahun itu di sebuah panti asuhan begitu saja.


"kamu tak perlu minta maaf, karena itu bukan salah mu, dan lagi jangan terlalu baik seperti ini, lain kali kamu harus menampar wanita seperti itu,jadi harus bisa tegas oke," kata Bu Anas.


"baik ibu," jawab Nia


akhirnya mereka semua bisa pulang, dan beristirahat, dan pak Yudi melihat istrinya itu begitupun Bu Yanti.


"Yudi bawa istri mu istirahat, bir ibu yang jaga anak-anak," kata Bu Yanti.


"inggeh Bu, ayo dek," ajak pak Yudi untuk membantu Nia masuk kedalam kamar.


saat di dalam kamar, pak Yudi bersiap akan tidur, tapi Nia malah memeluknya erat, "terima kasih mas, sekarang aku punya kamu yang membelaku dan tidak membuang ku," lirih Nia.


"bagaimana bisa aku membuang istri secantik dirimu sayang, lagi pula kita baru menikah juga," kata pak Yudi yang mengaruk kepalanya tak gatal.


Nia pun mendorong suaminya hingga jatuh ke ranjang, kemudian Nia naik ke atas pangkuan suaminya itu.


"boleh aku menunjukkan diriku yang lain," bisik Nia yang mengecup bibir suaminya.

__ADS_1


"tentu saja, aku tak sabar menantikannya?" bisik pak Yudi.


Nia pun berusaha untuk memanjakan suaminya, karena dia tak mau di tinggalkan lagi.


pak Yudi tak menyangka akan melihat Nia yang begitu ganas, tapi dia tak mau kalah duluan, jadi kini dia yang mengambil alih.


dia pun kini merasakan jepitan hangat dan lembab, dan karena minuman yang di minumnya sebelumnya.


kini dia dan Nia melakukannya hingga meraih kepuasan, dan Nia ingat jika sedang dalam masa subur.


"mas... aku sudah tak KB dua tahun ini, dan sekarang sedang masa subur ku," lirih Nia yang kaget.


"memang kenapa kalau jadi, skuntak keberatan untuk punya dua atau lima anak lagi," kata pak Yudi.


"mas...." kata Nia yang malu.


malam itu pak Yudi sangat bangga karena dia menemukan istri yang tepat seperti Nia.


jadi tak ada alasan untuk mengeluh, terlebih sudah ada dua anak di antara mereka tambah dua lagi tak masalah untuk pak Yudi.


pukul empat pagi, Nia sudah di warung untuk membuat pesanan, sebenarnya dia kesiangan karena saat bangun tadi.


dia harus mau melayani suaminya dulu yang meminta jatah ulang, bahkan pak Yudi seperti tak ingin melepaskan istrinya itu untuk pergi ke warung.


beruntung Nia bisa lepas, dan di sinilah dia sekarang, semua karyawan yang di minta datang duluan pun juga sudah datang.


mereka kaget melihat cara Nia memasak, karena wanita itu sangat terampil.


"kalian tinggal tata di box, karena tinggal capcay saja," jawab Nia yang sekarang mengenakan setelah celana jeans, kaos warung dan celemek.


bahkan wanita itu juga mengenakan sepatu, dan pakaiannya itu sangat menantang bagi para pria yang melihatnya.


"hei jaga mata mu, kamu ingin di colok sama pak bos," kesal Dila.


"baiklah cerewet sekali sih,"


pria itu langsung mengemasi box nasi yang sudah siap, jadi mereka langsung mengirimkan kotak-kotak itu kepada pemesan yang sudah menunggu.


tak lama pak Yudi datang ke warung bersama anak-anak, tanpa di duga pak Yudi dapat pelukan hangat dari Nia.

__ADS_1


"sayang ini di depan banyak orang," kata pak Yudi yang tersenyum lebar.


__ADS_2