
Bu Anas dan yang lain sudah sampai di rumah, ternyata belanjaan mereka sudah sampai di rumah Bu Anita karena rumah wanita itu yang paling dekat dengan tempat yang biasa di adakan lomba.
Nia memilih merebahkan dirinya, "tolong saya, saya gerah sekali...", kata Nia yang memang berkeringat parah.
"pantes orang AC mati, sebentar ya mbak,oh ya kita mulai untuk mengemas semuanya sambil membuat persiapan untuk acara lusa ya," kata Bu Anita.
"baiklah, ayo kita semangat, dan biar aku minta di kirimin gorengan dan es jeruk juga ya," kata Nia yang menghubungi suaminya.
tak di sangka para pria datang untuk membantu, pak Yudi tertawa saat membaca pesan dari istrinya.
pasalnya pria itu sudah tau jika Nia ini sangat menyukai jeruk peras. itulah kenapa ia sengaja membawanya khusus tanpa gula.
sedang untuk yang lain es jeruk dengan gula, pak Yudi pun duduk di samping Nia.
dan beruntung Bu Anita yang punya rumah mau membuatkan es itu, setelah semua di tempeli nomor hadiah.
mereka mrligat kupon yang nanti akan di bagikan tenyata ada lima gepok.
karena mereka yakin akan banyak sekali orang yang ikut dalam jalan sehat nantinya.
jadi untuk sembako mereka biarkan begitu saja jadi nanti akan di bagikan mie instan dua dan minyak, sedang untuk beras lima kilo itu di bagikan begitu saja.
akhirnya semua sudah selesai di bungkus bahkan hadiah lomba juga, dan tak lupa untuk lomba panjat pinang juga.
tak lupa mereka juga membagikan seragam untuk para panitia, dan pak Yudi memberikan kaos yang berukuran besar untuk istrinya agar sangat longgar.
"Pastika untuk ibu-ibu tolong kalau pakai celana jangan terlalu ketat ya, ya Allah nisa gagal fokus ini bapak-bapak," kata pak Yudi.
"alah bilang saja tak mau istrimu terlihat seksi," kata pak Eko tertawa.
"emang," jawab pak Yudi jujur
semua orang tertawa mendengar ucapan pria itu, pasalnya mereka sangat tak menyangkanya.
"baiklah aku akan pakai kulot saja, lagi pula itu lebih nyaman," kata Nia yang memang tak ingin repot dengan baju yang menyiksa.
"baiklah, besok kita harus mulai untuk persiapan hari untuk tahlilan, dan sedekah desa ya," kata pak Yudi.
"siap pak ketua," kata mereka semua.
mereka semua bubar, dan pak Yudi merangkul istrinya dan melakukannya di depan semua orang.
"pamer terus!!! aku tak moleh ae," kata pak Eko yang membuat semua orang tertawa.
tak hanya itu, mereka juga tau jika pria itu sedang menghadapi masalah dan sekarang sudah seperti berpisah dengan Bu Lastri.
keesokan harinya di rumah Bu Yanti sangat sibuk sebab para wanita memasak di sana.
"tak hanya itu mereka juga kebagian membuat tujuh tumpeng lengkap sesuai dengan yang di perintahkan oleh Mbah sesepuh.
setelah acara membuat topeng selesai, kini mereka ganti untuk membuat camilan.
__ADS_1
pak Yudi dan para bapak-bapak sudah sibuk mempersiapkan apa yang di butuhkan untuk acara sore nanti.
bahkan tempat untuk dia juga sudah di persiapkan, tak hanya itu mereka juga benar-benar mencoba agar nanti malam tak hujan.
kan bisa repot jika saat tahlilan hujan turun, jadi setelah bersih-bersih psk Abas mulai melakukan doa untuk menangkal hujan.
ya pria itu memang di kenal sebagai pawang hujan yang cukup di hormati.
Bu Lastri tanpa di duga datang ke rumah Nia, dan yang melihat wanita itu adalah Bu Eka.
"wik... dia singa datang yuk, lihat tuh," kata Bu Tomo yang menarik Bu Anas yang sedang membuat hiasan.
"weleh... weleh... bisa perang dunia kesepuluh ini," katanya dengan semangat tapi malah ikut nonton.
"wah lihatlah, seseorang yang datang tanpa malu ini, kenapa kesini hah, kamu sudah tak tahan di campakkan suamimu," kata Bu Eka.
"eh kalau punya mulut di jaga ya, kamu itu janda gak tau diri, udah mulutnya pedes banget," kata bu Lastri yang tidak terima.
"hentikan, jangan bertengkar di sini, kuping ku panas mendengar ocehan kalian, dan untuk mu Bu Lastri, jika datang mau bikin masalah mending pergi deh, jangan ganggu kami yang sibuk menyiapkan untuk acara kampung," kata Nia yang sudah tak tahan lagi.
"eh kamu itu cuma wanita tak tau malu ya, bisa-bisanya mengusirku, aku ini masih menjadi istri dari polo di desa ini, kalian itu tak sopan ya, terlebih dengan wanita ganjen seperti mu itu, cih...." kata Bu Lastri dengan sombong.
entah setan apa yang merasuki Nia, dia mengambil baskom berisi hiasan dari cabe yang di buat Bu Anas.
byur..
air itu dengan apik menguyur seluruh wajah Bu Lastri dan membuat wanita itu basah kuyup.
"makannya punya mulut itu di jaga, berani-beraninya anda menghina saya sebagai tuan rumah di sini," kata Nia yang marah dan membantuku ember itu hingga pecah.
semua orang syok dan terkejut, pasalnya Nia baru kali ini menunjukkan siapa dirinya.
Bu Lastri yang kesakitan langsung mencari air, beruntung Bu Toto memberinya air untuk mencuci wajahnya yang merah.
"aku akan mengadukan mu kepada polisi karena sudah melakukan kekerasan," kata Bu Lastri.
"silahkan saja, aku juga punya bukti jika kamu yang datang tanpa tau malu dan menghina kami," kata Nia yang langsung menunjukkan video yang di rekan Bu Anita.
"selamat kami tidak bodoh, dan kami muak dengan wanita seperti ku, dan lihatlah baik polo terbaik kaki sudah datang," kata Bu Anita yang menunjuk ke arah jalanan.
ternyata benar pak Eko dan pak Yudi datang ke rumah, Bu Lastri datang ke arah pak Eko dan berharap pria itu membelanya.
tapi yang membuatnya tidak terduga adalah, sebuah tamparan di berikan oleh pak Eko dengan keras.
"mas kamu kenapa, aku masih istrimu!!" teriak Bu Lastri tak terima.
"kamu itu membuat malu, kita sudah dalam proses perceraian kenapa mafih datang kesini dan mengusik ibu-ibu yang sedang bekerja, berhentilah bertingkah Lastri, apa belum puas kamu memperlakukan begitu buruk sebelumnya," kata pak Eko yang membuat wanita itu diam.
ternyata Bu Harun yang menelpon pak Eko, beruntung dia membawa ponsel suaminya karena tadi pas berangkat tertukar.
para ibu-ibu ini berhasil membuat Bu Lastri kapok dan malu, akhirnya wanita itu pergi.
__ADS_1
sedang pak Eko meminta maaf, dan pak Yudi tak menyangka dengan apa yang di lakukan istrinya saat sudah terlalu kesal.
"pergi sana gak usah balik, huuu..." teriak ibu-ibu yang sudah terlalu gemas dengan wanita itu.
semua kembali fokus dengan apa yang di kerjakan, tak lama mereka juga sudah sibuk kembali.
akhirnya malam tahlilan dan sedekah desa berlangsung dengan sangat meriah, dan tak hanya itu mereka juga mengadakan beberapa lomba malam itu hingga pukul sebelas malam.
dan lomba pertama adalah lomba sepak bola berdaster panjang, dan itu membuat semua tertawa karena para bapak-bapak nampak begitu senang memakai daster istrinya.
sedang para ibu menyiapkan konsumsi, pak Yudi yang ikut berpartisipasi menjadi unggulan karena pria itu begitu lihai.
"ojok ganteng-ganteng yah, kata bunda nanti ayah tidur di luar!" teriak Fahri.
"siip..." jawab pak Yudi yang langsung mundur dan melepaskan dasternya.
"hei kok malah pamer perut, sudah sana main!!" kata Nia bingung dengan tingkah suaminya.
akhirnya besok tinggal dua tim yaitu tim pak Rudi yang berisikan Alan dan teman-temannya.
melawan tim pak Yudi yang berisi seluruh tim panitia, yang semuanya bapak-bapak dengan perut buncit, terutama pak Tomo dan pak Toto.
lomba selesai, di lanjut esok padi, dan pak Yudi belum apa-apa sudah pincang karena kakinya kram.
Nia melihat itu ingin sekali tertawa, padahal sudah mulai sering olahraga malah kesakitan karena tak pemanasan dengan benar.
"ayo pulang aku buatkan STMJ karena besok masih panjang, dan nanti aku pijat deh," jawab Nia.
tadi Raka sudah di ajak pulang duluan sama Bu Yanti karena tak boleh begadang, bahkan Nia mengenakan jaket tebal karena kondisinya.
sesampainya di rumah pak Yudi mandi dan langsung dapat jamu khusus dan pijatan yang yahut.
begitu pula dengan pak Rudi dan para bapak panitia yang lain, sedang Alan di antar oleh pak lurah karena Bu Eka pulang duluan karena putri pertamanya datang.
keesokan harinya, pak Rudi dan pak Yudi datang ke daerah dekat rumah pria itu untuk mulai mengecat tempat lomba karena semalam mereka sibuk lomba jadi lupa.
beruntung meski kaki mereka masih pincang tapi sudah lebih baik, "ini yakin ada yang bisa ikut panjat pinang? kok aku sangsi ya," kata pak Yudi
"ya nanti kita panjat sendiri saja, lumayan hadiahnya, masak bisanya manjat istri doang Sampek jadi, lakik dong pak!!' jawab pak Rudi.
"laki sih laki pak, ya kali remek pak di Hajar terus-terusan," kata pak Yudi tertawa.
akhirnya pukul delapan pagi, mereka mulai memanggil para ibu-ibu dan yang lain.
anak-anak sudah di data untuk lomba, Alan mengordinir semua bersama coba dan remaja yang lain.
Nia dan Bu Anita juga melakukan hal yang sama, dan sudah heboh dengan ibu-ibu yang termasuk sulit di atur karena semuanya mau menang sendiri.
melihat ketegangan yang terjadi pak Eko pun ambil alih, "ibu-ibu kalau gak bisa di atur, tahun depan saya buat lomba nyatu tonggo loh, kok isone ibu panitia ini di lok no, kalau gak mau ikut dan dapat hadiah, besok semuanya gak usah dapat hadiah, hadiah e tak pek Dewe, ngerti!!" kata pak Eko.
"ngerti pak polo ..."
__ADS_1