
setelah hari itu, perlahan keluarga Bu Susi banting setir jadi penjual gorengan dan itu di lakukan di depan rumah.
dan yang membuat gorengan itu laris adalah dengan cara menjualnya online juga.
jadi sekarang tim ngerumpi mereka berkurang satu, tapi tetap saja heboh saat kumpul bareng namanya juga ibu-ibu.
seperti siang ini, Bu Eka, Bu Lastri dan bu Tomo datang ke tempat Bu Susi untuk beli gorengan martabak mie yang sangat laris itu.
ternyata di sana sudah ada Bu Anas dan Bu Toto yang sedang duduk menikmati gorengan juga.
"aduh ini ibu berdua, udah duluan saja, Susi pesan gorengan martabaknya dua puluh, tahu isi sepuluh dan tempe enak ya, ingat sambel petisnya," kata Bu Eka.
"iya iya, duduk dulu," kata Bu Susi yang membantu suaminya untuk membuat pesanan itu.
saat mereka sedang menunggu, tiba-tiba ada mobil yang datang dan berhenti di rumah Ninik.
"aduh, mbok Rondo kinyis di apelin tuh, emm... bawa mobil loh," kata Bu Lastri.
"itu sudah lama Bu, udah sekitar sebulan ini deh," kata Bu Susi yang padahal sibuk buat pesanan masih bisa nyahut.
"owalah, tapi kok kayak gak ading ya," kata Bu Eka yang memperhatikan pria itu seksama.
"ya gak asing, orang itu sepupunya mas Yono, ketinggalan berita nih Bu Eka, ha-ha-ha," kata pak Yudi
"apa, makanya kok gak ading, jangan-jangan itu sepupu Yono yang pegawai pemerintahan di kota Sidoarjo itu, ealah dia itu juga duda baru dan gak kalah kata dari Yono," kata Bu Eka heboh
"aku Yo gelem," sahut Bu Tomo.
"wong edan, ingat suamimu yuk," kesal Bu Lastri menoyor kepala temannya itu.
"sudah gak usah ribut, kenapa kalian heboh sih orang yang di apeli saja santai," kata pak Yudi yang mendengar ucapan ibu-ibu
"yey pak Yudi ini gak tau, kita kan di kenal ibu-ibu yang harus tau berita nomor satu," kata Bu Tomo.
"termasuk istrimu juga," kata Bu Lastri.
__ADS_1
"iya wes iya..." kata pak Yudi
tiba-tiba anak dari pak Yudi keluar dari dalam rumah, "pa.. ini ada pesanan dari om Yono, besok mau pesan dua puluh martabak mie, tiga puluh tahu ranjau, dua puluh risoles kentang, dan ini bacanya apa ma?" tanya bocah itu.
"tiga puluh gorengan campur," jawab Bu Susi.
"loh banyak banget, di jawab ke, siap bos, untuk jam berapa?" kata pak Yudi.
"katanya untuk jam empat sore, di antar ke rumah, mama dan papa juga di undang acara itu," kata bocah itu.
"jawab le, pasti datang besok libur ya," kata pak Yudi.
Bu Susi tak mengira meski sudah tak jadi sopir, tapi Yono dan Wulan membantu dengan mempromosikan semua dagangan mereka.
hingga kini penghasilan mereka lebih besar dari pada saat pak Yudi jadi supir.
"loh yuk, memang ada acara apa?" tanya Bu Anas pada Bu Eka.
"aku juga tak tau, mungkin acara arisan yang biasa di lakukan dengan semua pegawainya," kata Bu Eka.
"ya gak selamanya aku harus ikut apapun kegiatan mereka, sudah ini gorengannya kok lama," kata Bu Eka.
"Iki loh, wong kok gak sabaran," kesal Bu Susi yang kesal dengan bu Eka.
tanpa di duga, Ninik dan pria yang datang ke rumahnya itu keluar dan berjalan menuju ke tempat pak Yudi.
keduanya tampak begitu serasi karena sekarang Ninik terlihat lebih cantik dan bahagia.
"waduh, mas Abidin, mau peden apa mas, saya sudah banting setir ini," kata pak Yudi dengan ramah.
"walah ini pasti enak, dek kamu pesan apa?"
"saya pesan martabak mie spesial lima saja deh, mas Abidin biasanya suka gorengan ketela?"
"boleh deh lima sama tahu isi spesialnya lima ya, kita duduk di sini atau tunggu di rumah?" tawar Abidin.
__ADS_1
"di sini juga gak papa," jawab Ninik yang kini duduk di teras tapi sedikit menjauh dari ibu-ibu.
"aduh mbak Ninik punya kekasih baru kok gak di kenalin ke kami sih," kata Bu Anas yang selalu Bu RT.
"iya Bu RT, masih saling mengenal, nanti kalau sudah mau menikah pasti Bu RT di undang," kata Ninik.
"tapi apa mbak Ninik tak kasihan sama mas-nya, kan kasihan kalau menikah dengan wanita yang tak bisa punya anak,"
jeder....
ucapan bubrka sangat kejam dan menohok, Ninik pun merasa sakit hati tapi mau bagaimana lagi.
"memang ibunya tau jika dek Ninik tak bisa punya anak, lagi pula mau bisa punya anak atau tidak itu bukan masalah, saya sih asal bisa melihat senyum dek Ninik itu sudah cukup, dan yang terpenting kami itu saling mencintai," kata Abidin santai.
"ya Allah mas, ya kali gak punya anak bahagia, memang kalau tua kalian mau di rawat siapa?" tanya Bu Tomo.
"kami punya uang,kami bisa dewa perawat, dan lagi pula saya tak mau menyusahkan istri saya untuk hamil dan merusak tubuhnya, kami bisa mengadopsi anak dari panti asuhan, itu lebih baik bukan, sudah ibu pikirkan saja keluarganya, tak perlu bingung memikirkan kami," kata Abidin yang berhasil membungkam semua mulut ibu-ibu rumpi itu.
pak Yudi menahan tawanya bersama Bu Susi, bagaimana tidak, baru kali ini mereka melihat para ibu-ibu bermulut pedas ini tertampar.
"ini mas Abidin, oh ya besok di undang ke acara mas bos?"
"tentu saja dong cak, terlebih itu acara istimewa loh," kata Abidin.
Abidin dan Ninik terlihat sangat saling menyayangi, bahkan keduanya terlihat begitu serasi.
sedang ibu-ibu ini pun tak bisa berkomentar, hingga sesuatu menarik mereka semua.
"loh... itu bukannya Bu Sundari dan menantunya, kok begitu dekat ya," kata Bu Tomo.
"tapi aneh u, aku sering banget loh lihat Julianto itu ke rumah Bu Sundari sendirian," kata Bu Toto yang memang rumahnya hanya berjarak beberapa rumah dari Bu Sundari.
"jangan-jangan..." kata Bu Lastri yang membuat muka serius.
"mulai lagi gosipnya," kesal pak Yudi dengan para ibu-ibu rempong ini.
__ADS_1