
mereka pun langsung menuju ke tempat kejadian peristiwa berdarah itu.
terlihat polisi mengerahkan banyak personil di bantu warga, "maaf pak, kalau boleh tau korban ini atas nama siapa ya?" tanya pak Surip
"tidak di ketahui pak, tapi jika ingin tau anda bisa ke rumah sakit umum, karena kedua jenazah di bawa ke rumah sakit," jawab polisi tersebut.
mendengar itu pak Yudi dan pak Surip pun pergi, tapi saat tak sengaja pak Yudi melihat sesuatu di kajauhan.
dia kira itu bola karena tepat tersembunyi di tumpukan jerami yang sudah membusuk.
dia menyalakan lampu ponselnya dan mendekat, "Yuda!!" teriak pak Yudi yang langsung memeluk kepala anaknya.
bahkan pria itu pingsan sambil memeluk kepala bocah yang sedang di cari oleh polisi itu.
semua warga dan polisi kaget mendengar teriakan pak Yudi dan pak Surip menangis menyaksikan itu
bagaimana tidak bocah yang selalu terlihat ceria kini sudah tewas dengan sangat mengenaskan.
akhirnya mereka pun di ajak ke rumah sakit, pak Surip di minta memastikan dua jenazah itu
dia tak menyangka jika istrinya akan mengantar Bu Susi dan putranya pada ajalnya seperti ini.
sedang pak Yudi yang sadar, langsung lari mencari pak Surip dengan tangis yang tak terbendung, "pak istriku pak!" teriaknya.
"tenang pak Yudi, tenang kamu bisa melihatnya tapi tolong tenangkan diri bapak dulu," kata pak Surip yang juga sudah terisak lirih.
"pak istri dan anak ku pak," kata pak Yudi yang lemas.
pak Surip mengangguk dan menapak pak Yudi di bantu seorang polisi mengajak pria itu ke ruang jenazah.
saat penutup kain itu di buka, terlihat kondisi Bu Susi yang sudah tak bernyawa dengan bekas bacokan di kepala dan mulutnya.
sedang tubuh dan kepala Yudi sudah di satukan, pak Yudi hampir pingsan lagi beruntung pak Surip menahannya.
"kenapa ini terjadi, kenapa kamu pergi tak bilang pada ku ma, kenapa kalian meninggalkan aku seperti ini..." tangis pak Yudi.
akhirnya keduanya di bersihkan agar bisa segera di urus dan di makamkan.
__ADS_1
pak Surip menghubungi pak Eko dan memberitahu tentang berita duka yang di alami pak Yudi.
"yang benar pak Surip, innalilahi wa inna ilaihi Raji'un..." kata pak Eko yang mendengar berita itu
"iya pak, iya biar saya umumkan, dan warga bisa bersiap," kata pak Eko yang langsung bangun.
"ada apa sih pak, ini masih jam empat pagi," kata Bu Lastri yang ikut terbangun karena suaminya.
"itu buk, mbak Susi istrinya mas Yudi meninggal dunia karna di begal di desa carang guling, dan jenazah sudah di rumah sakit dan saat semua adminitrasi sudah di selesaikan, maka jenazah akan di bawa pulang," kata pak Eko.
"ya Allah... tapi tadi bu Susi bawa anaknya pak," kata Bu Lastri.
"itulah Bu, Bu Susi dan Yuda yang jadi korban," jawab pak Eko yang langsung membuat Bu Lastri diam.
dia tak menyangka wanita yang kemarin masih berkumpul dan membahas gosip.
kini meninggal dunia dengan sangat tragis, pak Eko langsung mengumumkan berita duka itu di masjid.
semua warga RW nol empat pun terkejut bukan main, mereka semua langsung keluar rumah untuk membantu.
sedang Bu Eka merasa takut, karena dulu dia yang memberitahu tempat itu pada Bu Susi.
"sudah pak, ini bukan salah bapak, karena istriku yang memang sudah sesat, semoga lain kali tak ada lagi yang terkena musibah seperti ini," kata pak Yudi yang tampak sudah linglung.
pagi pun menjelang di rumah pak Yudi semua orang sudah menunggu kepulangan jenazah.
Nia terpaksa meminta putra pertamanya Fahri untuk libur tidak sekolah karena tak ada yang menjaga rumah dan Raka.
semua orang berkumpul di sana, saat motor pak Surip sampai duluan, "pak nanti bantu untuk turunin pak Yudi ya," kata pak Surip.
"iya pak"
dua mobil jenazah datang dengan bunyi sirine yang sangat keras, Nia seperti mengulang masa buruk hidupnya.
menyaksikan belahan jiwa pergi selamanya, pak Yudi turun dengan lemas hingga perlu di papah.
dua peti mati di keluarkan, dan semua orang Raj menyangka nasib buruk itu akan menimpa Bu Susi.
__ADS_1
akhirnya mereka semua menyolatkan kedua jenazah dan kemudian membawanya untuk di makamkan.
pak Yudi terus mengiringi kedua belahan hidupnya itu, bahkan dia terus saja menangis karena kepergian keduanya yang mendadak.
semua orang pamit pulang, begitu pun pak Surip yang menemani pak yudi yang sedang terpukul.
saat sampai di rumah mereka melihat dua anak kecil, "maaf pak lihat bunda tidak," tanya Fahri yang mengandeng adiknya.
Raka tiba-tiba berhenti menangis dan memeluk pak Yudi, "puk... puk..." kata bocah itu.
pak Yudi pun makin terisak memeluk bocah kecil itu, bagaimana tidak bocah itu benar-benar seperti obat yang sedikit menutup kesedihannya.
"itu tadi bunda mu sudah pulang, mungkin lewat jalan lain," jawab pak Tomo.
"terima kasih, ayo dek pulang, nanti bunda cari kita," ajak Fahri yang melihat Raka sudah diam.
kedua bocah itu pun pergi, pak Yudi melihat keduanya, "sudah pak Yudi, kita istirahat dulu," kata pak Eko.
sore di akan pengajuan ibu-ibu di rumah pak Yudi, dan para ibu yang mengatur segalanya.
pak Surip yang menanggung semua biaya pengajian karena merasa ini tanggung jawabnya karena istrinya lah akhirnya terjadi hal seburuk ini.
di pengajian pun Bu Eka tampak tak suka, karena setelah pemakaman dari Bu Susi.
dia habis di marahi suaminya bahkan mengancamnya untuk di tinggalkan jika tak ingin berubah.
pengajian berjalan dengan baik, dan besok adalah tiga harian Bu Susi dan Yuda, "terus ini gimana besok, kita harus pesan atau masak sendiri, tapi tak nyaman loh kalau mask di sini, karena rasanya Bu Susi ada di sini," bisik Bu Toto yang ketakutan karena rumah itu.
"Bu tolong pesan saja agar tak merepotkan, untuk acara tiga harian," kata pak Yudi yang keluar dari kamar membawa uang.
"tapi catering Bu Eny libur pak, karena sedang pulang ke rumah orang tuanya," kata Bu Anas.
"itu sama Nia saja, dia kan juga bisa masaknya," kata Bu Tomo.
"boleh deh, bagaimana pak, nanti biar saya bantu agar sesuai adat kita," kata Bu Anas
"saya percayakan semua pada ibu-ibu untuk acara itu," kata pak Yudi yang memberikan uang lima juta.
__ADS_1
Nia yang dapat pesanan pun langsung belanja keperluan, dan ternyata yang itu cukup untuk sampai tujuh harian.
Nia di bantu ibu-ibu untuk menyelesaikan pesanan untuk acara besok.