
"maafkan aku karena pertanyaan ku melukaimu, tapi aku tak bermaksud begitu, karena yang sebenarnya aku beberapa hari lalu mengalami hal buruk setelah dari tempat mu, itulah yang membuat ku bertanya seperti ini," kata pak Eko.
"iya pak saya mengerti," jawab wanita itu.
"jadi begini saja, sebagai permintaan maaf, aku ingin memberikan kupon ini pada mu, oh ya sebagai permintaan maaf ku, besok acaranya datang bersama pak Gono dan adik mu jika bisa, lumayan ada lima kupon karena semua hadiahnya sangat bagus," kata pak Eko mengeluarkan kupon bagiannya.
"terima kasih ya pak, nanti saya akan bilang pada bapak, ibu dan adik saya," kata Novi dengan senang hati.
pak Eko mengangguk, sekali lagi dia minta maaf karena dia tak sengaja membuat anak orang kepercayaannya itu sedih.
akhirnya gadis itu pulang, dan pak Eko juga beristirahat karena besok pagi tugasnya dari subuh.
sedang para remaja di bantu bapak-bapak yang lain untuk menata hadiah untuk besok pagi, bahkan para remaja Tarang taruna tak tidur demi menjaga hadiahnya.
keesokan harinya, semua di wajibkan memakai kaos putih dengan celana hitam untuk panitia.
pak Yudi terlihat tampan dengan jaket yang seragam dengan Nia bahkan anak-anak mereka.
Bu Anita tak mau kalah juga seragam bersama anak menantunya.
Bu Anas juga sekarang mengunakan leging sama dengan Vina dan pak Anas mengunakan baju yang sama dengan putranya itu.
pak lurah juga datang bersama putra putrinya, dan mereka langsung menyalami Bu Eka.
itu membuat Alan dan kakak perempuannya heran, "ini kita sekalian ketemuan keluarga gitu tha?" tanya Aliya.
"sepertinya, tapi ya sudahlah jika ibu bahagia aku juga tak keberatan," jawab Alan lirih.
"selamat datang semuanya, sepertinya jalan sehat kali ini sangat meriah, pak lurah sebagai tamu kehormatan, Monggo di pimpin," kata pak Eko yang mempersilahkan pria itu naik dan memegang bendera.
dan akhirnya jagung segar pun di mulai, Alan sudah sibuk mengatur dan memastikan semua tanda jalan sesuai.
Nia, Bu Anita, Bu Anas dan Bu Toto bersiap di pos untuk membagikan kupon yang berwarna pink.
pak Eko memberikan air minum pada Novi dan pak gini,"semangat ya.." kata pria itu yang memberikan jempol pada Novi yang memang terlihat cantik dengan baju yang di kenakan.
pak Gono pun melihat putrinya itu malu, "pak lurah, widih... pepet terus jangan kasih kendor!!" kata pak Eko yang melihat pak lurah berjalan bersama bu Eka.
dan anak-anak mereka berjalan di depan bersama pasangan masing-masing.
ternyata dia kupon yang memiliki warna berbeda itu sengaja karena yang hijau untuk warga RW nol empat secara khusus.
sedang yang pink untuk masyarakat bebas yang mengikuti acara jantung sehat itu.
Nia mulai membagikan kupon pada masyarakat, "nanti taruh kupon di kotak sesuai warna," katanya dengan pengeras suara.
jantung sehat kali ini benar-benar heboh, setelah selesai pembagian Nia dan ibu-ibu langsung pergi menuju ke tempat start.
orkes Melayu yang di panggil sudah datang, tapi anehnya mereka tidak memanggil artis penyanyi.
melainkan para ibu-ibu desa yang akan menyanyi sendiri, terlebih mereka semua mantan artis dangdut top.
"Monggo kita cek sound dulu, bisa minta suara mic di naikan, terima kasih..." kata Nia yang mulai melakukan pemanasan.
dia menyanyikan lagu pecah seribu yang di populerkan oleh Elvi Sukaesih, bahkan itu terdengar sangat tinggi.
"mbak Nia yakin lagi ini sangat wah..." kata Bu Anita yang juga pernah jadi penyanyi orkes.
Nia mengangguk dan mulai menyanyi...
Bimbang, ragu
Sementara malam mulai datang
Hasratku ingin bercermin, tapi
Cerminku pecah seribu, pecah seribu
Ibarat bunga
Aku takut banyak kumbang yang hinggap
__ADS_1
Aku tak mau
Patah, patah, tangkaiku patah
Aku tak mau
Bimbang, ragu
Sementara malam mulai datang
Hasratku ingin bercermin, tapi
Cerminku pecah seribu, pecah seribu
ho-oh-oh
(La-la-la-la-la-la-la-la)
(La-la-la-la-la-la-la-la) ho-oh
Hanya dia
(Dia, dia, dia, dia, dia)
(Dia, dia, dia, hanya dia)
Hanya dia
Yang ada di antara jantung hati
Tempat bermanja, tempatnya rindu
Tempat curahan hati yang damai
Entah apa
Bagaikan kayu basah dimakan api
Api kerinduan yang membara
Oh, angin, kabarkan
Melati di depan rumahku menantimu
(Ha-ah-ah-ah)
mendengar suara dari Nia yang menyelesaikan lagi dengan baik, itu membuat semua orang takjub.
kini giliran Bu Anita yang menyanyikan lagu oleh-oleh dari Rita Sugiarto, kedua wanita ini benar-benar punya suara yang bagus.
"Joss ya, tak perlu panggil artis karena di desa sudah ada artis sendiri, baiklah kita nyanyikan satu lagi lagi karena sepertinya suara sirine ambulan desa yang menjadi penanda akan segera datang," kata MC orkes itu yang di acungi jempol dari Nia.
dia meminta lagu Tiara tapi versi koplo, dan itu di setujui oleh Bu Anita.
akhirnya suara musik mulai mengalun dan para warga yang datang dan melihat dua wanita yang sedang menyanyi pun heboh.
pasalnya suara keduanya tak kalah dengan artis top, pak lurah naik ke atas panggung dan memberikan saweran seratus ribu pada Nia dan Bu Anita dengan nominal yang sama.
pak Yudi dan pak Rudi naik dan juga memberikan saweran dengan uang dua ribuan.
"ya Allah.... Duwet gede sayang," kata Nia kaget melihat uang saweran suaminya.
"lek njaluk seng gede Nok omah sayang," jawabnya yang langsung memperoleh teriakan warga.
akhirnya semua pun selesai, kini mulai pemanggilan kupon sesuai dengan nomor yang tertera.
"hadiah hiburan pertama alat mandi, terdiri dari handuk, sabun sama jebor," kata pak Yudi mengangkat hadiah itu.
"pak polo ambil dua puluh, jadi sepuluh hijau dan sepuluh merah," kata pak Anas
"siap..."
__ADS_1
setelah dapat yang di minta satu persatu nomor itu mulai di bacakan, dan untuk yang hijau tenyata adik dari Novi yang dapat.
awalnya pak Yudi bertanya, tapi karena penjelasan pak Eko akhirnya pemuda itu dapat.
"masih hadiah hiburan, sekarang minyak goreng sak mie instan e, pak RW ilang tha, pak RW tolong ambil tiga puluh, sepuluh hijau dan dua puluh merah," kata Nia yang bersiap akan menyanyi lagi.
pak Yudi meminta tak ada yang baik ke panggung kecuali panitia, karena dia tak ingin istrinya atau bu Anita di ganggu nantinya.
jadi kalau nyawer di izinkan dari bawah. panggung besar itu, setelah pembagian hadiah sekarang istirahat dulu.
Nia mulai menyanyi lagi, setelah dapat satu lagi, dia duduk dan mengawasi pembagian hadiah hiburan lagi.
"sekarang hadiahnya, ember besar, bakul dan opo Iki? oh... ini ada Robson satu renteng, pak ketua panitia, tolong ambil dua puluh lima hijau dan lima belas yang merah," kata Bu Anita.
pak Yudi pun mengambilnya dan kini Bu Anita yang bersiap untuk menyanyi tapi tunggu satu hadiah hiburan lagi yang di bagikan.
"oke sekarang hadiah hiburan seskin besar, ada wajan beserta sutil dan serok, minyak goreng satu liter, dan gila satu kilo, ini enaknya siapa ya, pak Babinsa... tolong ambil lima belas, lima hijau dan sepuluh warna merah, dan setelah ini akan ada persembahan lagi dari Bu Anita dan suami judulnya mblebes," kata Nia.
akhirnya hadiah di bagikan malah yang dapat Fahri dan Bu Yanti. Nia tertawa bagaimana bisa Keduanya dapat hadiah sama.
Bu Anita dan pak Rudi mulai bersiap, dan kini mereka pun duet, dengan lagu yang di minta Nia.
Dik, sakjake kok ono perlu
Sik esuk kok nangekke aku?
Ning tanganmu kok nggowo palu?
Opo to sing rusak dipanku?
Wis, kowe ra usah suloyo
Ndek bengi metu karo sopo?
Ning klambimu, lipstike sopo?
Yen dudu bocah wadon liyo
Ndek bengi aku ora neng ngendi-ngendi
Malah aku njaluk tulung dikeroki
Pirang-pirang dino ora mbok turuti
Rasane gegerku koyo disunduki
Wong wadon ngendi sing bakal kuat ati
Klumprak-klumpruk ben dino makani tinggi
Njolak-njaluk ning blanjane ora mesti
Opo aku arep mbok pakani wedhi?
Wis, ndang nyingkrih, ndang nyingkrih, ndang nyingkrih, ndang nyingkrih
Emoh, Dik
Yen ngono aku wae sing nyingkrih, sing nyingkrih
Ojo, Dik
Aku masih cinta padamu
My darling, I love you
tentu saja semua orang bertepuk tangan melihat kemesraan gemas keduanya.
"Iki lek sampai ada yang nikah karena jalan sehat tak buwuhi lima ratus ribu, pripun pak lurah siap nikah?" kata pak Rudi.
"siap..." jawab semua tim panitia.
__ADS_1