Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
tolong berhenti bicara


__ADS_3

di desa Sawahan, keluarga miskin memang tak banyak tapi tentu saja masih ada beberapa.


begitu pun dengan janda miskin, seperti salah satu warga desa itu yang baru di tinggalkan mati suaminya.


siapa yang tak mengenal Bu Nia, seorang wanita yang harus berjuang keras untuk menghidupi dua putranya yang masih kecil.


terlebih suaminya yang meninggal itu meninggalkan hutang yang cukup banyak.


pasalnya pria itu hancur setelah di tipu temannya,bahkan rumahnya yang di kota sudah di jual untuk melunasi hutang suaminya, dan dia memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di desa.


sudah seminggu ini dia di desa, beruntungnya dia masih memiliki tabungan meski tak banyak bisa di buat bertahan bersama dengan anaknya.


"aku harus cari kerja, tapi bagaimana dengan dua anakku, tak mungkin aku bisa meninggalkan mereka sendirian di rumah," gumamnya.


pasalnya dia sudah tak punya Sanak saudara di desa ini, jadi dia bingung tapi dengan uang yang tersisa dia tak akan bisa menghidupi dia dan dua anaknya.


"baiklah biar aku jualan nasi saja di depan rumah, dan aku bisa memanfaatkan media sosial untuk berjualan, demi mereka aku harus kuat untuk berjuang hidup," katanya menyemangati dirinya.


pukul tiga pagi, dia pun pergi ke pasar saat memastikan kedua anaknya yang berumur sepuluh dan lima tahun sudah tidur nyenyak.


dia bergegas pergi karena bahan di pasar lebih murah di banding di rumah.


dia membeli semua bahan untuk membuat nasi kuning karena ternyata nasi pecel di desa itu sudah ada dua warung yang berjualan.


jadi dia memilih jualan yang tak sana dengan orang lain, dan tak hanya nasi kuning, ada juga teman yang lain seperti sate-satean.


akhirnya dia pun pulang membawa semua barang belanjaan, dia pun mulai memasak, dan mempromosikan semua di sosial media miliknya.


bagi yang sudah mengenal Nia, pasti akan tau masakan wanita itu yang memang di kenal cukup enak di sekitar kompleknya dulu.


dia sangat sibuk, tapi beruntung anak-anaknya sangat pengertian, terlebih putra pertamanya yang membantu menjaga adiknya.


dia menata meja di depan rumah dan mulai membereskan dagangannya, dan kali ini dia tak membuat banyak karena masih awal dia berdagang.

__ADS_1


entah bagaimana, beberapa tukang ojek online datang ke lapaknya, "permisi apa mbak yang jualan nasi uduk mak-nyak," tanya tukang ojek yang kebingungan mencari alamat karena pesanan ini tidak melalui aplikasi.


"iya pak, itu nama warung saya dulu di kota, ada apa ya pak," tanya Nia bingung.


"aduh mbak, saya muter-muter dari tadi, saya mau pesan lima nasi uduk komplit di tambah sate usus Lina dan ati ampela juga lima," kata tukang ojek itu.


"iya pak, tunggu sebentar ya, Alhamdulillah mas Fahri, akhirnya ada pembeli juga," kata Nia dengan sangat senang.


setelah membungkus pesanan dari tukang ojek itu Nia begitu senang, "mbak, coba daftar di aplikasi ya, biar mudah karena mbak kan sudah punya panjang tetap sebenarnya," usul tukang ojek itu.


"iya pak, insyaallah," jawab Nia.


akhirnya dia mencoba untuk mengaktifkan kembali warungnya yang ada di aplikasi tapi berbeda alamat.


beruntung aplikasi juga mengizinkan dia ganti alamat, meski beberapa menu harus di hapus dari menu yang terdaftar.


akhirnya pagi itu nasi jualan Nia habis, meski dia membuat lima puluh porsi, jadi besok dia akan membuatnya lebih banyak.


"mas Fahri ayo kita cari sekolah, karena mas Fahri kan harus mulai masuk sekolah," kata Nia yang tak sabar ingin menyekolahkan anaknya.


"iya mas, tapi mas harus belajar agar bisa membanggakan bunda nanti ya," kata Nia memohon.


akhirnya bocah itu mengangguk dan mau di ajak jalan Nia untuk mencari sekolah.


beruntung ada sekolah dasar yang tak jauh dari rumah, dan hanya berjarak beberapa ratus meter, terlebih di samping sekolah itu juga ada TK.


"Alhamdulillah besok mas Fahri bisa sekolah dekat rumah, meski harus jalan sendiri, mas Fahri berani kan?" tanya Nia pada putranya itu.


"iya bunda, mas Fahri berani karena sudah besar," jawab bocah itu.


akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi, tapi bukan pulang, melainkan belanja ayam untuk kebutuhan jualan.


beruntung tadi di pasar dia bertemu dengan orang baik yang memberitahu tentang agen potong ayam yang murah.

__ADS_1


terlebih jika dia mengambil semua di rumah, benar saja bisa selisih dua hingga tiga ribuan perkilo.


dia membeli cukup banyak karena tadi ada banyak yang tak kebagian sate-sateannya.


dia memutuskan untuk membeli kulkas karena butuh, beruntung listrik di rumah itu cukup besar dia pun tak takut akan mati nantinya.


Bu Eka kaget melihat ada mobil yang mengantarkan kulkas ke desa, kebetulan dia sedang duduk santai bersama ibu-ibu yang lain.


"permisi Bu numpang tanya, tau rumah bapak Sofyan, atau ibu Nia penjual nasi uduk?" tanya pria itu.


"oh rumah mbak Nia putri pak Sofyan,itu mas yang ada tulisan baso uduk di tembok rumahnya," kata bu Anas yang memang tau karena dia yang menerima laporan wanita itu seminggu yang lalu.


"terima kasih ya Bu, kalau begitu saya pamit," kata pengantar kulkas itu.


"loh Bu Anas, rumah pak Sofyan di tempati Nia, memang kemana rumahnya yang di kota?" tanya Bu Eka yang memang wanita itu terkenal kaya dulu.


"loh Bu Eka tak tau ya, jika dia itu sudah bangkrut bahkan rumahnya di jual untuk menutup hutang suaminya, itu tuh suami tak tau diri, masak mati ninggalin hutang banyak, kan nyebelin," marah Bu Anas


"aduh kasihan amat, bunga desa sekarang blangsat hidupnya, padahal dulu mah... beh," kata Bu Eka.


"alah Bu namanya juga roda itu berputar, kadang di atas kadang di bawa, ya kau bagaimana lagi," kata Bu Tomo.


"itu mah orangnya saja yang gak pernah shodaqoh mungkin, terlalu pelit hingga di balik sama Tuhan," kata Bu Eka dengan sombong.


keduanya pun saling diam karena tak ingin ada ucapan yang lebih panjang lagi.


terlebih mereka benar-benar tak ingin mengusik hidup Nia yang harus berjuang keras.


"sudah Bu, jangan di bahas lagi, kasihan tau dia itu harus berjuang untuk anaknya," jawab Bu Anas.


"kamu menyindirku," kata Bu Eka yang merasa di sindir.


"aduh baru sadar ya, sudah ya Bu Eka, sebisa mungkin jangan mengatakan apapun tentang Bu Nia, kasihan dia harus berjuang untuk anaknya," kata Bu Tomo.

__ADS_1


"iya iya aku mengerti," jawab wanita itu yang tak suka


__ADS_2