Stts... Tetangga Kok Gitu

Stts... Tetangga Kok Gitu
jangan sentuh anakku


__ADS_3

Santi menginap di rumah Bu Lastri, meski pak Eko awalnya tak mengizinkan.


tapi mau bagaimana lagi sudah malam dan tak mungkin pak Eko tega mengusir adik iparnya itu.


"hei dek itu adik mu suruh yang sopan kalau pakai baju, sudah tau di rumah ada anak laki-laki yang mulai dewasa malah Paksi hotpants begitu," tegur pak Eko.


"iya mas iya... ih makin cerewet saja sih," ketus Bu Lastri.


sedang pak Yudi mengeleng pelan mendengar jawaban istrinya itu, pak Eko pun ngopi di teras.


tak lama para pria yang sedang keliling untuk ngeronda lewat, "mampir ngopi dulu," panggil pak Eko.


"wih makasih nih pak, tau saja kita lagi butuh asupan kopi," jawab salah satu hansip.


"Bu buatkan kopi empat buat bapak-bapak yang sedang ngeronda," kata pak Eko


"iya pak," jawab Bu Lastri.


Santi keluar dengan baju piyama milik kakaknya yang terlihat kekecilan.


meski Santi memiliki gigi yang sedikit keluar dan kulit yang sawo matang, tapi dia itu memiliki body tubuh yang sangat seksi.


"ini pak kopinya," kata Santi.


Bu Lastri datang dengan pisang goreng, "ini ada pisang goreng panas,"


"terima kasih bu kasun, oh ya pak Kasun saya mau tanya, itu pak Yudi sama mbak Nia pacaran ya, kok anak mbak Nia terus di sana," tanya pak Joko.


"setahu saya tidak pak, lagi pula anak-anak Nia itu membantu pak Yudi untuk pulih, sedang Nia mendapatkan bantuan untuk menjaga anaknya, itulah namanya simbiosis mutualisme," kata pak Eko.


"tapi mereka menikah juga tak masalah, orang-orangan sama sendiri gitu kok, memang kenapa pak Joko, mau nikah lagi pengen di unyet sama istri mu," kata pak Toto tertawa.


"memang mas Yudi itu tertarik dengan wanita tua yang kucel itu, kok kasihan banget jadi pesuruh mau," kata Santi yang membuat para pria itu menoleh.

__ADS_1


"maaf mbak, siapa yang mbak panggil kucel?" tanya pak Toto penasaran.


"itu di Nia Nia itu, orang masih cantikan saya kemana-mana gitu," kata Santi sombong.


"mampus kalau bentukan begini cantik, terus istri kami bidadari dong, mbaknya lucu deh, mana ada mbak Nia kucel orang glowing nan menggoda begitu kok," kata pak Joko.


"sudah kalian ini malah ngomongin apa, sudah Santi pergi tidur, besok kamu harus pulang," kata pak Eko.


"ih... kakak ipar, kan mbak janji mau kenalin aku ke mas Yudi itu, jangan gitu lah kakak ipar..." kata Santi.


"Halah Halah gak usah, gak akan mau, dia masih trauma untuk nikah,"kata pak Eko sedikit kesal dan malu.


karena tingkah Santi yang seperti wanita gatal tak tau tempat dan situasi.


keesokan harinya, pak Yudi datang menjemput Raka sekalian mengantar Fahri yang mau sekolah.


tak lupa keduanya pamitan dan cium tangan, dan Nia pun tersenyum melihat dua putranya itu pergi.


Nia sedang membuat pesanan dari pria itu yang ternyata maju satu hari, tapi itu tak membuat Nia panik.


"loh pak Yudi, kok masih santai memang tak persiapan untuk kirim doa nanti malam?" tanya Bu Anas.


"saya pesan saja Bu dari pada merepotkan," jawab pak Yudi.


"aduh seharusnya lebih afdol masak sendiri, karena bisa memberi lebih kan, kenapa harus pesan itu kan mahal," kata Bu Lastri.


yang ternyata mengajak adiknya untuk ikut membantu niatnya, "memang kenapa Bu, toh itu yang saja, jadi tak masalah, dan terima kasih sudah peduli," kata pak Yudi.


tanpa sengaja Raka yang bermain bola menendang bola yang sedikit kotor itu ke arah Santi yang berdiri di samping Bu Lastri.


Santi kaget saat bole kotor itu mengenai bajunya, "dasar anak nakal, kamu buta ya gak lihat ada orang, dasar tak tau sopan santun, ini nih anak yang gak di didik," marah Santi.


senyum di wajah pak Yudi langsung hilang mendengar umpatan sari Santi.

__ADS_1


"maaf Tante, adik masih kecil,"


"apa Tante, dasar anak nakal," kata Santi menjewer kuping Fahri.


"lepaskan tangan mu dari putraku!!" bentak pak Yudi menampik tangan Santi dengan kasar.


dia langsung mengendong Raka dan melindungi Fahri, "kamu tak bisa membedakan atau buta, bagaimana kamu marah hanya karena baju terkena bola tanpa sengaja, mereka masih anak-anak, dan lebih baik jangan berada di depan ku atau aku akan menunjukkan apa yang bisa aku lakukan," kata pak Yudi marah dengan wajah merah padam.


"apa, mereka yang salah, lagi pula kenapa kamu begitu peduli dengan anak janda tak tau diri itu, bisa-bisanya menggoda pria dengan mengunakan anaknya cih..." kata Santi yang merasa benar.


"tutup mulutmu, dia itu wanita terhormat yang menjaga harga dirinya, bukan dirimu yang tak tau diri berpenampilan seronok tapi tak melihat wajah, sudah kalian semua silahkan pulang, dan jika aku butuh bantuan pasti aku panggil, dan untuk mu orang asing, sekali lagi aku tau kamu menyakiti kedua anak ku ini, aku akan pastikan tangan mu itu tak akan berfungsi lagi," kata pak Yudi yang terlihat benar-benar murka.


bahkan Bu Lastri tak menyangka akan melihat sosok pak Yudi yang tengah marah.


Bu Anas dan ibu-ibu yang lain pun ikut merasa malu dengan tingkah dari adik Bu Lastri.


"Bu Lastri,jika lain kali mau ikut membantu warga tak usah ajak adik mu itu, dia itu wanita tapi tak bisa menjaga mulutnya," marah Bu Anas


"eh Bu RT, kamu jadi RT saja sudah sombong, aku itu ibu Kasun jadi terserah aku," kata Bu Lastri.


"tapi kami semua setuju dengan Bu RT, jadi Bu Kasun kalau tak suka tak usah bantu, bikin malu saja, lagi pula dia anak itu anak yatim, semoga kamu dapat karma yang buruk karena sikap mu itu, cih..." kata Bu Tono yang kesal melihat tingkah adik ipar dari Kasun mereka itu.


"dasar orang kampung norak," ejek Santi.


"kalau kami norak, kamu apa ***** huh!!" teriak Bu Toto kesal bukan main.


Bu Lastri dan adiknya pun pergi, sedang para ibu kembali ke rumah pak Yudi untuk minta maaf.


dan membantu untuk menyiapkan semuanya, dan ternyata pak Yudi pesan di tempat Nia.


bahkan semua berkat yang akan di bagikan untuk acara tahlilan pun sangat bagus.


sedang pak Yudi mengobati Fahri, dan tak sengaja Bu Anas yang melihat pak Yudi tidur dengan di peluk oleh dua bocah itu.

__ADS_1


"ya Allah... jika ini jalan mu tolong jodohkan mereka, terlebih mereka sepertinya sudah sangat menyayangi," batin Bu Anas merasa hangat.


__ADS_2