
Bu Lastri terlihat santai di rumah, malah akhir-akhir ini wanita itu tak memakai riasan sama sekali.
ya entah apa yang di pikirkan wanita itu, sedang pak Eko makin hari makin sibuk dengan kegiatan di balai desa dan juga usaha miliknya yang di pegang adik kandungnya.
"bu, kamu ini kenapa males banget dandan sih sekarang," tegur pria itu.
"ayah, ibu ini mulai mengurangi biaya hidup tau, karena gaji yang ayah berikan selalu kurang, terlebih anak mu itu juga sudah SMA butuh biaya banyak," saut Bu Lastri.
"ya sudah terserah saja, nanti aku ke tempat warung kopi ya, mau lihat Joni karena harus memeriksa laporan keuangan," kata pak Eko.
"baiklah, tolong jangan pulang larut ya," kata Bu Lastri.
pak Eko pun pergi begitu saja, entahlah makin hati istrinya itu makin menyebalkan menurutnya.
sedang Bu Lastri yang sudah tak ada kegiatan memilih keluar rumah, tentu dengan perhiasan yang dia miliki pun di gunakan seluruhnya.
kebetulan dia melihat Bu Tomo yang sedang duduk sendirian di bawah pohon jambu, jadi dia pun mendatangi wanita itu.
"aduh sendirian saja, mana nih temennya?" kata Bu Lastri.
"iya nih Bu, kayaknya sibuk semua, lagi pula saya di sini nunggu bakul jamu lewat," kata Bu Tomo yang asik makan jambu air pagi-pagi.
"sini aku temani, aku juga mau beli jamu juga, eh ada berita apa nih,aku sudah lama gak keluar rumah, maklum nungguin anak-anak belajar Jan mau ujian kelulusan," kata Bu Lastri dengan sombong.
"iya Bu, setahuku tidak ada berita baru sih, paling-paling tuh rumah bu Sundari sudah terjual dengan orang dari kota, aku sih gak tau ya, katanya ya yang beli itu duda tapi kaya, beliau beli karena mau hidup santai di kampung setelah pensiun," kata Bu Tomo.
"aduh... bisa jadi sasaran empuk dong untuk Bu Eka yang baru jadi janda," kata Bu Lastri.
"kayaknya sih tuh duda juga gak mau kali Bu, ya kali ada yang kuda Krenyes mau cari yang bangkotan, ha-ha-ha," kata bu Tomo menyahut.
tak di duga ada Bu Anas yang juga pulang dari belanja di toko kelontong pak Hadi.
__ADS_1
"eh Bu RT sini,duduk dulu sambil nunggu bakul jamu," ajak Bu Lastri.
"loh belum lewat, kebetulan kalau begitu," kata Bu Anas yang ikut duduk.
"eh bagaimana nih rencana pernikahannya, pasti gak bakal biasa saja dong, kan mantu pertama ini," jata Bu Lastri yang mulai nyerempet.
"ya pasti dong, tak mungkin anak pak RT nikah dengan sederhana, tapi kalau saya ya... sekuatnya saja tak perlu ngoyo dari pada habis mantu hutang banyak kan repot," kata Bu Anas tertawa.
"Halah nyindir si Retno segala sih Bu," kata Bu Lastri
"loh emang Bu Retno begitu, padahal dia kan orang mampu," kata Bu Tomo yang baru tau.
"yey di Bu Tomo ini ketinggalan informasi,itu kan cuma gayanya saja yang sok kaya,padahal mah hutang di bank punya, mingguan yang itu loh, sama kredit baju juga punya, hemm... belum lagi yang lain, pokoknya hutangnya gak ke itung deh," kata Bu Lastri.
"lah kok bisa begitu, apa gak malu habis mantu malah punya hutang segitu banyaknya," kata Bu Tomo.
"buktinya juga tidak gitu loh Bu, entah ya itu perhiasan yang di pakai itu asli apa palsu,tapi kalau asli kan gak mungkin hitamnya,kayak gini nih," kata Bu Lastri yang memamerkan koleksi terbarunya.
"wes, gak ada yang ngalahin kalau Bu Lastri, model selalu terbaru ya," kata bu Anas
"eh masak, kok saya tidak tau, gimana kok bisa bukannya harusnya fokus sekolah saja ya," kata Bu Tomo
"eh ibu ini gimana sih, kan sekarang bapaknya usah mati, Bu Eka juga di rumah terus, ya jadi dia harus bekerja dong, tapi kadang juga kasihan karena tak laku loh Bu, aku juga kata Lala sih," kata Bu Lastri yang pura-pura kasihan.
"ya Allah.... ya sudah kapan-kapan kalau keluar sama ayah anak-anak aku tak mampir, kebetulan Feby itu suka tahu ranjau," kata Bu Tomo
"iya Bu bantu lah dia, oh ya gak ada kabar lagi nih masalah anak perempuan Bu Eka yang ternyata anak dari ayah Bu Anita, padahal aku kaget dan tak menyangka ya, Bu Eka yang selalu tampak suci di banding kita, nyatanya *****," kata Bu Lastri.
"iya loh,aku tak sangka, tapi ya itu mah karma, karena kalau punya mulut gak di jaga," kesal Bu Anas.
"aduh masih dendam saja Bu RT," kata Bu Tomo.
__ADS_1
"ya bagaimana tidak dendam, dia ngomong asal njeplak saja," saut Bu Anas.
akhirnya bakul jamu yang di tunggu lewat, Bu Tomo pesan jamu macan kerah, begitupun Bu Anas plus manjakani yang sudah siap minum.
sedang Bu Lastri memilih jamu khasiat Madura dan manjakani juga agar rapet dan singset.
"kok lama toh Bu, biasanya jam sembilan sudah lewat, ini sampai jam sepuluh lebih..." protes Bu Tomo.
"ngapunten loh mbak, tadi ada yang beli jamu kunir asem banyak jadi saya pulang dulu untuk ambil," jawab ibu penjual jamu.
"hiii... siapa sih Bu, pahit banget," kata Bu Lastri yang minta air gula.
"itu loh Bu yang punya warung nasi sama gorengan di jalan raya," jawab ibu penjual jamu.
"ha-ha-ha-ha, memang mau apa beli jamu kunyit asem, mau punya anak lagi, anak baru kecil-kecil begitu, belum lagi pak Yudi masa bisa teng, orang pernah kena serangan jantung begitu," kata Bu Lastri tertawa.
"astaghfirullah... nyebut Bu, buktinya mereka bahagia, berarti urusan ranjang beres, memang ibu Lastri seminggu berapa kali," kata Bu Anas penasaran.
"lah kalau saya mah setiap hati ayo, orang udah gak bisa hamil lagi," kata Bu Lastri.
"lak kok bisa, memang rahimnya kenapa Bu, tidak subur?" tanya Bu Tomo yang langsung di sikut oleh bu Anas.
pasalnya di desa tak ada yang berani mengatakan hal itu, terlebih setelah Bu Lastri melahirkan putri keduanya itu.
wanita itu sudah kehilangan rahimnya karena pendarahan hebat, Hadi rahimnya di angkat total, tapi beruntung Bu Lastri sudah punya dua anak sebelum itu.
"sudah jadi berapa Bu, saya ingat harus masak dulu karena Anto pulang hati ini, mari Bu," pamit Bu Lastri yang langsung pergi setelah membayar
Bu Anas melihat temannya itu, "Bu Tomo ini pelupa apa cari mati sih, apa lupa jika Bu Lastri itu sudah gak punya rahim," lirihnya.
"aduh Bu saya lupa, ini mulut kok ya enteng banget kalau ngomong sih," gumamnya.
__ADS_1
"sudah Bu, tapi itu perlu sekali-kali di ingatkan, biar Bu Lastri ini lebih menjaga omongannya," kata penjual jamu yang memang mengenal tabiat hampir semua ibu-ibu di desa itu.
"Bu Lastri ingat tabiat, aku bisa salto sepuluh kali kalau itu terjadi, sudah bu berapa," kata Bu Anas yang di tertawa kan oleh Bu Tomo.