Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Sebuah anggukan.


__ADS_3

Hari sudah berganti warna, yang semula berwarna biru kini berubah menjadi warna hitam yang sangat pekat. Namun, di langit, awan putih masih terlihat putih.


Rian mengancing gebang depan rumah nya, dia membuka pintu rumah nya namun tidak merasakan tanda tanda adanya kehidupan.


Rian melangkah masuk, mengamati rumah yang semula sangat kosong kini sudah termodifikasi dengan sangat apiknya oleh tangan istrinya.


Di mulai dengan ruang tamu yang sudah memiliki beberapa foto antik hingga rak yang semula kosong kini terisi dengan puluhan novel yang Naya ciptakan.


Rian membuka ruang kerja nya yang sudah di modifikasi, mengamati sekeliling untuk mencari keberadaan istrinya, namun, lagi-lagi kosong.


Rian menutup pintu ruang kerja nya, dia beralih membuka pintu kamar utama di rumah sederhana nya. Mengedarkan pandangannya dan menemukan seseorang yang dia cari sedari tadi.


Rian tersenyum ketika melihat istrinya tengah tertidur hanya menggunakan daster nya. Bebannya yang menumpuk seakan sudah menghilang hanya melihat istrinya.


Tidak ada niatan untuk Rian membangunkan tidur nyenyak istrinya. Dia melangkah memasuki kamar mandi.


Setelah mandi dan bersalin, dia duduk di pinggiran ranjang sambil bersandar, dia mengelus rambut Naya yang berada tepat di paha kirinya.


Naya yang merasa terusik pun melenguh pelan, membuka matanya secara perlahan dan melihat suaminya tengah duduk dan mengelus rambut nya.


Naya teringat kejadian tadi, dia langsung berdiri untuk menghindari suaminya, namun, tangan nya di cekal dan di tarik hingga Naya kembali terjatuh di atas ranjang empuk itu.


“Jangan menghindar Naya, aku ingin berbicara” ucap Rian membenarkan posisi duduk nya menjadi melihat wajah Naya dengan jelas dan sepenuhnya.


Naya diam, dia menunduk, tidak ada niatan bagi nya untuk mendongak dan menatap balik manik mata yang kini tengah menatapnya serius.


Meskipun dia bagun tidur, tetapi reflek dan kesadarannya akan langsung bangkit ketika mata nya terbuka, karena, dirinya sudah di latih keras dirinya dulu ketika mendengar sesuatu yang menyakitkan.


“Kalau aku berbicara jawab Naya” ujar Rian mengelus rambut Naya. Rian kembali merubah posisi duduknya, dan kini mereka sudah saling berhadapan.


“Iya” hanya itu jawaban yang mampu Naya jawab sekarang.

__ADS_1


Rian menghela nafasnya, keduanya nampak terdiam karena kesalahpahaman yang telah terjadi di antara keduanya.


Rian kembali mengelus bahkan kini sudah sedikit menyisir rambut Naya dengan jari jari nya. “Tadi itu bukan seperti yang kau pikirkan” ujar Rian memecah keheningan di antara mereka.


Sebagai kepala rumah tangga, tugas nya bukan hanya menjaga dan memberi nafkah saja. Kepala keluarga harus bisa menjelaskan, memberikan contoh dan mengatur serta menjadi penegak jika sewaktu-waktu ada yang salah seperti sekarang.


“Memang nya kamu tau apa yang aku pikirkan?” sahut Naya, dirinya akan pura pura bodoh sekarang.


“Tau, di pikirkan mu sekarang ada sebuah kesimpulan bahwa suaminya ini tengah berselingkuh dengan seorang wanita yang lebih dari mu” jawab Rian menatap wajah Naya yang masih tertunduk.


Naya tersentak kecil, jawaban yang di berikan oleh suami nya itu sangat benar dan tepat sasaran, namun, wanita dengan segala gengsi yang di milikinya, dia tetap diam tak bersuara sedikit pun.


“Kamu harus membuang pikirkan negatif itu,” Rian menjeda kalimat nya, dia mengelus pipi Naya lembut.


“Karena, karena aku sama sekali tidak akan berselingkuh dan bahkan mendua” ucap Rian menyampirkan helaian rambut Naya di belakang telinganya.


Naya tetap diam, dirinya tidak menjawab apapun, padahal di dalam dirinya sudah berkecamuk karena kembali mendengar penjelasan dari Rian dan mendapatkan perlakuan sederhana namun sangat berkesan bagi nya.


Naya menggeleng keras.


“Tidak. Aku tidak tertidur” jawab Naya.


Rian mengangguk, kedua tangan nya kini menggenggam kedua tangan Naya dengan sedikit erat. “Jika kamu tidak berselingkuh, maka siapa wanita yang berani mencium mu itu?” tanya Naya sebal mengingat kembali apa yang dia lihat tadi siang.


“Dia Rima” jawaban yang di berikan oleh Rian belum membuatnya puas.


“Siapa Rima?”


Rian terdiam sejenak, sebagai kepala keluarga yang baik, dia memilih dan memilah perkataan apa yang akan dia keluarkan agar tidak menjadi pertanyaan dan kesalahpahaman lagi.


Naya diam sembari menantj jawaban dari Rian.

__ADS_1


“Rima adalah orang yang menjadi bagian dari masa lalu ku” jawab Rian mengungkapkan kebenarannya.


Naya mengangguk, jika Rima adalah bagian dari masa lalu Rian, berarti Rima adalah mantan kekasih Rian itu saja. “Jadi apakah dia cantik?” tanya Naya menatap Rian, dan Rian refleks mengangguk karena melihat tatapan itu.


Cantik dan Sexy. Adalah dua kata yang tidak mampu Naya saingi, ah, hatinya sedikit sakit rasanya melihat anggukan itu. Naya tersenyum membuat dunia Rian kembali pada kenyataannya, seperti nya dia telah membuat kekacauan baru yang akan menjadi kan masalah ini lebih rumit.


“Tidak, maksudku dia tidak secantik dirimu” ucap Rian menyela ketika melihat istrinya itu akan mengucap sebuah kalimat.


“Ah benar, dia sangat cantik bukan, makanya kamu senang di raba raba di bagian sini mu dan di sini oleh dirinya kan?” tanya Naya menunjuk dada dan bibir Rian yang tadi nya di sentuh oleh wanita itu.


Naya hendak beranjak, namun Rian menekan pundaknya dulu membuat dirinya tidak bisa kabur lagi.


Rian gelagapan. “Tidak, tidak, jangan pergi, aku belum selesai berbicara!” ucap Rian menekan kedua pundak Naya agar tetap berada di depannya.


“Kalau begitu bicaralah, aku tidak ingin membuang waktu ku hanya mendengar omong kosong mu” ujar Naya, tidak sopan memang, tapi kekesalan di hati nya membuatnya berani berbicara seperti itu. Dan kekesalan itu berasal dari Rian.


Rian terkejut, namun dia memaklumi. “Dia adalah mantan kekasih pertama ku dulu”


“Ya sudah, jika itu mantan kekasihmu dulu, kenapa? kau belum bisa melupakan nya? atau kau masih mencintai nya dan berniat untuk memadu ku ha?” sela Naya dengan nada tinggi.


“Kamu dengar cerita ku dulu Nay,” ucap Rian masih mencoba meredam emosi Naya.


Naya diam menunggu penjelasan dari suaminya.


“Dia adalah mantan kekasih ku dulu, dan yang namanya mantan itu sudah pasti putus. Aku dan dia sudah lama putus, dan aku sekarang tidak berkaitan lagi dengan dirinya.”


Naya tetap diam mendengarkan.


“Dan untuk di panggilan video tadi, aku sama sekali tidak bermaksud, aku sudah memberikan nya pelajaran dan pengertian”


“Lalu, apa motif nya melakukan itu?” pertanyaan Naya kembali membuat Rian terdiam. Menarik nafasnya lalu berkata “Dia bilang hanya ingin menyapa mantan lama”

__ADS_1


“Lalu, apakah dia yang mengajarimu berciuman?”


__ADS_2