Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Raya...


__ADS_3

Ini yang di takutkan oleh Naya, sebuah perkataan yang bisa membuat nya sakit.


Naya diam. Dia tak tau harus menyahuti seperti apa lagi atas ucapan sang ayah.


"PADA DASAR NYA KAMU YANG TIDAK MAU MENGANGKAT TELEPON KU DASAR BABI HUTAN!" pekik Wifqi membuat Rian terkejut bahkan sangat terkejut, rahang nya mengeras, selain karena istrinya di caci, dia juga heran dengan sikap Wifqi yang lebih pantas di sebut sebagai titisan iblis.


Siapa ayah yang dengan gampang nya mencaci anak kandung nya.


Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir tipis Naya.


"DASAR ANAK TIDAK TAHU MALU! MENTANG MENTANG SUDAH MENIKAH MALAH LUPA DENGAN KELUARGA NYA!!"


"Maaf ayah" setelah lama diam dan berpikir, akhirnya hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibir Naya. Percuma jika dirinya membantah dan melawan apa kata ayahnya, jika dirinya tidak pernah sekalipun di beri ruang untuk itu. Untuk menyalurkan segala pendapat.


"MAAF, MAAF, DASAR ANAK SIA LAN!" pekik nya meluapkan semua emosi yang ada di ulu hati nya.


"Apa mau ayah sebenarnya?" tanya Naya pada akhirnya, pasti ada yang begitu penting sehingga sang ayah menelepon dirinya.


"Raya akan tinggal di kota, dia akan melanjutkan kuliah nya, dan dia akan tinggal di rumah mu" ucap Wifqi melunak karena membahas tentang anak pertamanya.


Naya terkejut, begitupun dengan Rian, namun, Rian langsung merubah raut wajahnya takut menyakiti istrinya.


Naya menoleh ke arah Rian sekilas, dia membenarkan posisi duduk nya agar tegap. "Aku tinggal bersama suami ku, dan ini adalah rumah suami ku, aku tidak bisa memutuskan—" ucap Naya menjelaskan kepemilikan rumah yang di tinggalnya sekarang, dan mana mungkin seorang wanita yang masih gadis tinggal serumah dengan ipar nya?


"Dia hanya suami penebus hutang, jadi dia tidak berhak mengatur ku, jika dia ingin mengatur ku maka bayar dulu hutang nya!" potong Wifqi membuat perasaan Naya tidak nyaman.


Tanpa di ketahui oleh Wifqi, Wifqi telah berbicara buruk di depan orang nya sendiri. Dan Naya tidak enak karena dia tidak bisa mengecilkan suara di ponselnya sehingga Rian dapat mendengar semua nya.


"Tapi ayah—"


"TIDAK ADA BANTAHAN!!."


Tut....


Naya menghela nafas nya dengan kasar, baru saja menikmati sebuah ketenangan tanpa adanya pengganggu dari keluarga nya, namun, kini, kenikmatan itu sudah tidak lagi.


Naya mendongak ke arah Rian yang sedang melihatnya dengan alis yang yang terangkat satu. "Kenapa?" tanya nya santai seperti tidak pernah mendengarkan perkataan dari mulut Wifqi.


"Maaf— maaf, aku tidak bisa mencegah nya, aku tidak tahu harus sepeti apa ke depan—"

__ADS_1


Dor..


Dor..


Suara gedoran pintu membuat percakapan mereka berhenti di tengah jalan. "Siapa sore sore bertamu?" tanya Naya membuat Rian menggeleng, dia tidak merasa jika mengundang temannya untuk datang ke rumah nya.


"Tidak tahu, ayo kita membuka nya" ucap Rian berdiri, mengulurkan tangan kiri nya ke depan Naya dengan senyum manis nya.


Naya mendongak, kemudian tersenyum lebar mendapatkan perlakuan sepesial dari Rian. "Terimakasih..." ucap Naya menerima uluran tangan Rian, mengambil novel dan kedua handphone nya lalu berjalan pergi dari halaman belakang itu.


"Apapun untuk mu sayang... "


"Apa mungkin yang mengetuk adalah seorang kurir peket?" tanya Naya mencoba menerka-nerka.


"Apakah kamu memesan sebuah paket?" tanya Rian. Dia merasa jika yang menggedor pintu rumah nya adalah seorang kurir. Di dengar dari suara pintu yang sangat besar menandakan tekanan yang di berikan juga besar.


Naya menggeleng, dia tidak memesan paket apapun, "Aku tidak pernah memesan paket akhir akhir ini" jawab Naya membuat Rian mengangguk.


"Lebih baik kita melihat nya saja"


*


*


*


Suara ketukan pintu itu semakin terdengar sangat kencang, membuat Rian dan Naya yang sedang berjalan ke depan untuk membuka pintu rumah nya kembali menghela nafas nya.


Sudah gedor gedor tidak sopan, tamu itu seperti nya tidak memiliki stock kesabaran yang banyak.


Naya melepaskan pegangan tangan mereka, "Aku akan meletakkan ini, kamu saja yang membuka pintu nya, 'tak apa 'kan?" tanya Naya meminta izin.


Rian mengangguk, "Tidak papa, kamu ke kamar saja dulu" ucap Rian mengelus rambut Naya sekilas, lalu beranjak untuk membuka pintu rumah nya.


Cek lek...


"Raya?"


*

__ADS_1


*


*


"Mom, kemana daddy?" tanya seorang gadis kecil dengan kepala yang plontos bersih itu.


"Mommy tidak tahu sayang, daddy kan sudah bilang kemarin, bahwa daddy sedang bekerja" jawab wanita yang di panggil oleh gadis kecil itu mencoba memberikan penjelasan yang tidak membuat anak nya berharap lebih akan kehadiran sang ayah.


Gadis cilik itu terdiam, pertanda telah menerima jawaban dari sang ibu.


"Baiklah, aku akan menunggu daddy, tapi kapan aku akan sembuh mom? kapan aku akan merasakan memiliki rambut yang indah seperti anak anak yang memiliki umur seperti ku? kapan aku akan bermain dengan rambut ku yang tergerai dengan indah nya kapan mom?" tanya gadis cilik itu seperti sedang protes dengan keadaan nya.


Keadaan yang memaksa nya untuk bertahan hidup dengan rasa sakit atas terebut nya masa kecilnya.


Keadaan dengan banyak nya kabel-kabel yang menempel di seluruh tubuh nya?.


"Anak bunda yang sabar ya, nanti kamu akan sembuh, dan jika kamu sembuh bunda akan membiarkan mu berlarian dengan rambut mu yang tergerai dengan indah nya" jelas wanita yang berstatus sebagai ibu gadis cilik itu dengan penuh perhatian dan kasih sayang.


"Tapi kapan waktu itu mom? aku sudah lama berada di atas ranjang ini, aku bosan, aku ingin berlarian mom~" rengek gadis cilik itu dengan polosnya.


Sang wanita hanya mengangguk dan tersenyum manis untuk menutupi rasa sakit yang menyerang ulu hati nya. "Apakah anak mommy ingin sembuh?" tanya wanita itu pada anak nya.


Gadis kecil itu mengangguk dengan polosnya. "Jika ingin sembuh, anak mommy harus tidur sekarang, sekarang sudah malam, jika tidak tidur maka anak mommy tidak akan sembuh" ucap wanita itu dengan sedikit memainkan lidahnya agar sang buah hati tidur dan tidak mengeluh akan keadaannya.


"Apakah seperti itu mom?!" tanya gadis kecil itu dengan sangat semangat. Wanita itu mengangguk sebagai jawaban.


"Baik kalau begitu, aku akan tidur, dan semoga besok aku sudah bisa berlarian di taman dengan rambut ku yang tergerai" ucap gadis cilik itu sebelum merebahkan tubuh nya dan menutup matanya.


Lima menit berlalu, wanita itu sudah mendengar hembusan nafas yang teratur dari sang buah hati langsung keluar dari ruangan khusus penderita kanker itu.


Berjalan dengan sedikit berlari untuk menuju ke arah Rooftop.


Wanita itu duduk dengan tangis yang membanjiri pipi nya. Sudah empat tahun anak nya hanya hidup di atas ranjang rumah sakit itu.


Wanita itu menepuk nepuk dadanya yang sangat sesak karena menangis. Tak lama kemudian, langit sudah menurunkan hujan nya.


Seakan akan merestui wanita yang tengah duduk sambil terisak itu melupakan seluruh emosi yang menggerogoti hati lemah nya.


Dirinya tidak berdaya, tidak berdaya, "AAAHHKK.... KENAPA TUHAN KENAPA!!"

__ADS_1


__ADS_2