
Naya menatap layar PC nya dengan serius, dia harus mengebut menulis naskah untuk film terbaru yang akan tayang dan naskah novel yang akan dia terbitkan besok.
Naya mengebut karena dia ingat perkataan suaminya dua Minggu yang lalu, suaminya itu butuh dana. Dan sekarang Naya akan berusaha mendapatkan dana itu.
Masalah tadi pagi, dirinya sudah tidak mempersalahkan nya lagi, dia akan menunggu suaminya pulang dan akan menanyakan kenapa suaminya sebegitu marah tadi. Dia tidak akan mengikuti saran dari Vita yang menyuruhnya untuk menghiraukan Rian.
Sakit hati? oh tidak Naya sudah kebal akan sakit itu.
*
*
*
"Maaf Bu, anak ibu tidak bisa kami operasi karena biaya pengobatan anak ibu lima puluh persen masih belum di bayar" ujar seorang wanita di belakang dokter laki laki itu.
__ADS_1
Rima menitihkan air mata nya. "Berapa sus?" tanya nya lirih. Mau mencari kemana lagi uang, dia sudah tidak memiliki apapun sekarang, bahkan kedua orangtuanya pun sudah tidak menganggapnya.
Suster itu mengambil sebuah kertas dan memberikan nya ke Rima.
"Kami permisi dulu Bu," pamit dokter itu yang langsung beranjak dari hadapan Rima.
Rima mengangguk, dia membaca angka angka yang tertera di kertas itu. "Enam ratus juta?, mau cari di mana aku yang sebanyak itu? Hiks" monolog Rima, tubuhnya merosot ke bawah, dia duduk dan menatap tembok di depannya kosong.
Di otak nya sekarang adalah, Uang, uang, dan uang. Bagaimana dia mencari uang senilai enam ratus juta dalam semalam? Apa dia harus jual diri?.
"Rima!" Rian memekik, dia berlari ke arah Rima dengan nafas yang ngos-ngosan, setelah dia mendapatkan pesan dari Rima mengenai anak nya, Rian langsung bergegas untuk pergi ke rumah sakit selepas bel kantor berdering.
Rian ingin bertanya nampak ragu. "Kenapa —" pertanyaan Rian terhenti ketika Rima menyerahkan kertas yang sudah tak berbentuk oleh tangannya.
Tanpa bertanya apa isi kertas itu, Rian menerima dan mulai membukanya.
__ADS_1
Mata Rian bergerak dengan cepat untuk melihat tulisan serta angka angka yang berada di atas kertas itu, sementara batin nya yang bergerak untuk membacanya.
"Enam ratus juta untuk biaya pengobatan selama dua tahun, dan dua ratus juta untuk biaya operasi besok?" ucap Rian lirih sambil memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu.
"Bagaimana ini Rian?" tanya Rima lirih di ikuti oleh isak tangis nya.
Rian mendekap tubuh Rima, "Aku memiliki uang, aku yang akan membayar nya nanti" ujar Rian sambil mengingat usaha yang tengah dia kembangkan saat ini.
Usaha yang sedari dulu ia mimpikan. Usaha itu membutuhkan modal yang besar, karena Rian tahu, bahwa usahanya sudah laku bahkan laris di pasaran satu bulan ini.
Dan Rian memutuskan untuk menggunakan uang modal yang tersisa sebanyak 1,5 m itu untuk pengobatan sang anak. Urusan usahanya dia akan pikiran nanti. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan anak nya.
Anak yang tidak pernah dia nafkahi selama umur hidupnya.
***
__ADS_1
Maaf banget, ini seperti memaksa ya, pikiran author mumet sekarang, kalau ga mumet akan up lagi kok..
Maaf ..