
"Sudahlah, kalau gendut ya gendut saja, tidak usah kebanyakan tingkah pakai acara program program. Kurus tidak, buang buang duit iya" ucap Raya sinis.
Naya yang sedang melakukan olahraga lompat tali pun menoleh, dia memberhentikan kegiatan nya. "Ada apa kak?" tanya Naya sembari mengatur nafas nya.
"Pengganggu ini..." gemas Vita melihat Raya yang tengah bersandar pada tembok dengan melipat kedua tangannya.
"Minta uang buat jajan kuliah" ucap Raya mengulurkan tangannya, satu tangannya sudah bertengger manis di pinggang ramping nya.
Naya mengerutkan dahinya, bukannya sang ayah adalah jutawan yang memiliki sawah puluhan hektar, namun kenapa sang kakak malah meminta uang pada nya?.
"Apa ayah tidak memberikan kakak uang?" tanya Naya duduk selonjoran.
"Dia memberi, namun hanya dua juta per hari nya" jawab Raya memutar bola matanya.
"Dua juta itu—"
"Kau gila! dua juta satu hari itu sudah banyak bodoh!" pekik Vita memotong perkataan Naya.
"Aku tidak berbicara dengan mu, jadi jangan ikut campur *** ***!" ujar Raya dengan nada membentak tak lupa dengan jari telunjuknya.
Vita diam, benar tak seharusnya dia tidak ikut campur masalah keluarga, dia sudah terlalu jauh.
"Kakak dua juta masih kurang?"
"Benar, mana uang nya, beri aku satu juta perhari" ujar Raya.
Naya melebarkan matanya. Satu juta perhari? bahkan dia saja tidak pernah mengeluarkan uang satu juta perhari hanya untuk kata 'jajan'. Dia hanya mengeluarkan kurang dari lima ratus perhari nya. Kecuali waktu belanja bulanan.
__ADS_1
Naya nampak mempertimbangkan semuanya. "Aku tidak memiliki uang sama sekali kak, aku hanya di beri uang bulanan, dan itupun sudah habis aku belanjakan akhir bulan lalu" jawab Naya penuh dusta, dan dusta itu berhasil membuat Raya terkejut.
Raya terdiam. "Mana mungkin Rian seperti itu, kau saja yang pelit untuk membaginya dengan ku" ucap Raya menantang.
"Aku tidak berbohong kak, jika kakak tidak percaya maka kakak bisa mengecek nya sendiri"
Raya menggeram. "Kau bohong!, mana handphone mu?!" tanya Raya. Mungkin, jika tidak ada uang chas, maka dia akan mengambil uang di rekening milik Naya.
Tidak mungkin, bahkan mustahil menurut nya jika Rian adalah seorang yang pelit. Dirinya belanja ratusan juta saja waktu itu Rian yang bayar.
Raya maju, dia mencari cari handphone milik naya di halaman belakang nya.
"Ini, ini handphone Naya" ucap Vita kembali menyela. Dia memberikan sebuah handphone miliknya. Naya melihat Vita dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Dengan angkuh Raya merampas handphone itu dari tangan Vita dengan kasar. Tampa adanya rasa curiga setitik pun.
Vita hanya diam tidak mengeluarkan reaksi apapun.
"Apa sandi rekening mu?" tanya Raya menatap judes Naya.
Naya gelagapan. Dia melirik ke arah Vita dan melihat Vita memberinya kode dengan tangan nya. Vita mengangguk.
"Delapan, tujuh, sembilan, dua, satu, empat.."
Raya berhasil memasuki rekening bank itu.
"Dua puluh ribu?!" pekik Raya ketika melihat saldo rekening milik Naya.
__ADS_1
"Aku tidak jadi menggoda suamimu, suamimu ternyata KERE!!"
*
*
*
*
*
*
*
*
"Bagaimana dok anak saya?" tanya seorang perempuan yang tengah menangis sendirian di depan ruangan ICU, menanti kabar dari sang dokter mengenai kondisi anak nya.
"Anak ibu tidak papa, hanya saja kelelahan setelah berlarian di taman, dengan rambut palsunya yang panjang..."
*
*
*
__ADS_1
______________________________
03- June..