Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Sebuah pelukan hangatm


__ADS_3

Rian tersenyum, dia mengangguk, Rian meletakkan kue yang di pegangnya ke atas nakas kamar nya.


Rian mengulurkan tangannya. Membuat Naya yang ingin sekali merasakan pelukan hangat dari tubuh suaminya itu langsung menubruk tubuh bidang dari Rian.


Rian membalas pelukan itu dengan sangat erat, merubah posisinya agar dia dan istrinya merasa nyaman.


Rian membawa tubuh Naya ke atas pahanya, dan itu sukses membuat Naya terkejut sampai tak bisa berkata kata.


"Kenapa kamu merubah posisinya?, aku mau turun, aku berat" protes Naya, dia akan menangis tadi, namun, perilaku Rian membuat air matanya kembali naik ke dalam kelopak matanya dan di gantikan dengan rasa terkejutnya.


"Biarkan saja, aku nyaman seperti ini" jawab Rian mulai menenggelamkan kepala Naya ke dada bidang nya.


Karena tinggi badan mereka yang sangat jauh, membuat Rian bisa mendekap Naya dengan erat.


"Tapi aku berat—"


"Kamu tidak berat, jadi tolong jangan merusak momen ini sayang" bisik Rian membuat Naya terdiam.


Naya mulai menenggelamkan kepalanya ke dada suaminya.


Keheningan mulai tercipta, Naya kembali mengingat momen kejutan yang Rian berikan untuknya, dan air mata nya sudah kembali terjatuh.


Dia terisak, "Terimakasih..." lirih Naya menggenggam erat kaos yang Rian kenakan.


Rian diam, dia akan mendengarkan setiap ucapan dari sang istri.


"Terimakasih sudah memberikan kejutan ulang tahun ku untuk yang pertama kalinya" ucap Naya terisak isak.


Rian tetap diam, dan hanya menyisakan isakan dari mulut Naya di gelap nya malam. Namun, didalam diamnya, Rian merasakan kebahagiaan dan kesedihan yang sangat mendalam.

__ADS_1


Kebahagiaan karena menjadi yang pertama untuk Naya dalam memberikan kejutan dan kesedihan bahwa istrinya itu tidak pernah di beri kejutan sebelumnya.


"Aku, sungguh, tidak bisa berkata apapun lagi.." ucap Naya di sela sela isakan nya.


Tangan kanan Rian memegang punggung Naya agar tidak terjatuh, dan satu tangan nya yang lain mengusap lembut rambut sebahu milik Naya.


Dapat rasakan dengan jelas oleh Rian perubahan yang di alami oleh tubuh Naya. Tubuh Naya nampak sedikit mengecil jika di rasakan perbedaan nya dari pertama memeluk Naya.


"Sudah jangan menangis, maaf tadi aku tidak memberikan kabar untuk mu" ucap Rian menarik pelan wajah Naya dan mencakup dengan kedua tangannya.


"Maaf ya.." ucap Rian sekali lagi. Naya mengngguk.


"Terimakasih.." ucap nya.


"Jangan banyak berterima kasih sayang.." ucap Rian menghapus air mata yang berada di pipi Naya.


"Baiklah" akhirnya Rian mengangguk. Dia mengalah, jika dia protes maka permasalahan ini akan panjang.


Naya tersenyum, tapi, di otaknya masih berproses hingga menimbulkan banyak pertanyaan untuk sikap sang suami.


"Apakah kamu tahu kapan tanggal aku lahir?" tanya Naya membuat Rian mengangguk.


"03-June 'kan?"


Naya melebarkan matanya.


"Memangnya sekarang tanggal berapa?" tanya Naya menatap lekat mata coklat milik Rian.


Rian hanya tersenyum.

__ADS_1


"Dan tunggu, dari mana kamu tahu tanggal ulangtahun ku?" tanya Naya penuh selidik, perasaan nya dia tidak pernah bercerita sedikitpun tentang kapan dirinya lahir.


Rian kembali tersenyum, senyum misterius.


"Apakah kamu tidak tahu?" tanya Rian membuat Raya menggeleng.


"Aku tadi membuat kartu keluarga di kelurahan" jawab Rian membuat Naya mengangguk mengerti jadi Rian mengetahui tanggal lahirnya dari kartu keluarga.


Naya diam, jujur dia tidak tahu apa lagu yang akan dia bahas bersama suaminya. Naya menileh ke arah jam yang berada di dinding kamar nya.


Pukul 00.35


Jadi ini masih dini hari?


"Kenapa kamu membuat—"


"Ayo di makan dulu kue nya sayang" sela Rian memberikan sepotong kue ke depan mulut Naya.


Naya terkejut, namun dia tidak mengelak pemberian dari sang suami. Dia membuka mulut nya, dan perlahan memakan potongan kue itu.


Setelah kue nya di lahap setengah oleh Naya, Rian menyuapkan potongan kue itu ke dalam mulutnya sendiri, lalu melahap nya hingga tak bersisa.


"Ka- kamu?" Naya terkejut.


"Sangat manis--- Cup"


Mata Naya kembali melebar ketika Rian mengecup bibir nya.


"Ayo tidur, ini masih tengah malam, untuk hadiahnya, besok pagi ya sayang.."

__ADS_1


__ADS_2