Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Matahari


__ADS_3

Dengan balutan dress berwarna coklat di padukan dengan putih, bercorak kotak kotak, Naya melangkah dengan tangan yang yang di gandeng oleh pria berbaju hitam dengan celana selutut nya.


Mereka berdua tengah berada di hamparan penuh bunga matahari, tepat nya di ladang matahari yang sangat luas dan indah.


“Wah, sangat indah” ucap Naya melihat hamparan bunga matahari yang memiliki tinggi yang sama.


Rian tersenyum melihat wajah bulat sang istri yang begitu antusias dengan ladang matahari yang menjadi tujuan mereka berlibur minggu ini.


“Kamu senang?” tanya Rian melangkah menuju salah satu gerdu yang di sediakan oleh pihak pemilik ladang dengan tangan yang masih menggandeng tangan Naya.


“Senang” jawab Naya tersenyum lebar.


Tapi, di tengah perjalanan menuju gerdu, Naya memberhentikan langkah nya yang otomatis Rian pun terhenti, dia seperti nya melupakan sesuatu.


Rian merenggut melihat Naya mengotak atik tangan nya dan melepas pegangan tangan mereka.


“Apakah boleh aku berfoto di sini?” tanya Naya mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang dia bawah.


Rian mengangguk bener apa laki, tanpa berbicara dia mengambil dan sedikit menjauh dari Naya.


Naya mulai training berpose, tapi sejauh ini dia belum juga menemukan pose yang pantas dan cocok untuk tubuh nya yang besar.


“Tapi aku tidak bisa berpose” keluh Naya.


“Kamu berpose biasa saja” ucap Rian. Naya mengangguk, pose biasa. Naya meletakkan tangan nya di depan tubuh nya. Tersenyum manis di depan kamera ponsel yang di bawa oleh Rian.


“Ayo!” seru Naya.


Rian mengangguk.


“Satu..”


“Dua.. ”


“Tiga... ”


Cekrek..


Foto berhasil di ambil, Naya mendekat, melihat foto yang baru saja di ambil. Sangat bagus.


“Kamu tidak mau berfoto?” tanya Naya.


“Kita berfoto bersama sam saja” jawab Rian mengarahkan kamera ponsel nya ke atas, sehingga memperlihatkan wajah dan separuh badan mereka.

__ADS_1


Cerkrik...


Sesudah acara foto memfoto, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju gerdu.


Sesampainya di atas gerdu, mereka duduk, kaca mata hitam bertengger mulus di hidung mereka berdua. Sambil melihat pemandangan yang pertama kali Naya lihat secara nyata selama dia hidup.


Rian menoleh, melihat wajah Naya yang sangat cantik meskipun berisi. “Kamu cantik Nay” ucap Rian membuat Naya menoleh.


Di tersenyum. “Kamu adalah orang pertama yang mengatakan itu” ujar Naya kembali memandang hamparan luas itu.


“Aku senang menjadi yang pertama”


Tangan Rian mengelus pipi Naya lembut. Naya kembali menoleh dan menatap manik hitam itu dalam.


“Kamu sangat cantik Naya, sangat cantik” bisik Rian mengecup lama bibir Naya, Naya memejamkan matanya, meresapi semua moment yang mereka buat. Kecupan yang lama kelamaan menjadi ciuman yang sangat panas.


“Khem, maaf tuan, nyonya, kamu juga menyediakan hotel disini” ucap seorang pelayan yang membuat ciuman mereka terlepas begitu saja.


Naya memalingkan wajah nya sambil mengatur nafasnya yang tersengal sengal, rona kemerahan tercipta apik di kedua pipinya.


Rian hanya tersenyum, tidak munafik, sejak dirinya memasuki jenjang perkuliahan dan tinggal di kota, ciuman seperti tadi adalah hal biasa. Namun dirimu beruntung, memiliki istri yang masih polos dalam hal dewasa.


“Maaf, kami tadi terbawa suasana tuan” jawab Rian tanpa adanya rasa atau apapun, tangan nya terulur untuk mengambil makanan ringan yang sudah di siapkan jika seseorang menyewa satu gerdu.


Rian yang meletakkan nampan berisi makan ringan itu agak jauh dari mereka, Rian menyentuh pundak Naya yang masih menyimpan rasa malu karena ciuman pertama mereka terpergok oleh seseorang.


“Kamu kenapa hmm?” tanya Rian tidak bisa menyembunyikan senyum nya.


“Aku malu” jawab Naya membuat Rian tertawa lebar. Biasanya jika seorang perempuan malu dia tidak akan mengatakan nya, tapi istri nya ini berbeda, dia tidak segan untuk mengatakan nya secara langsung.


Naya yang melihat Rian tertawa mengerutkan kening nya, apakah ada yang salah di tubuhnya sehingga suaminya itu tertawa sampai terbahak-bahak?.


“Apa yang kamu tertawakan?” tanya Naya penuh selidik, dia mengalihkan pandangannya, untuk melihat tubuh nya apakah ada yang salah atau tidak.


“Kamu lucu, dan kamu yang membuat ku tertawa”



Naya.


*


*

__ADS_1


*


Naya merenggangkan kepalanya, dia beranjak dari ruang kerja yang telah dia modifikasi sedemikian rupa, mulai ruangan yang hanya berisi satu meja dan kursi kini berisi dua meja dan kursi.


Meja mereka saling berdempetan, bahkan tidak ada cela sedikit pun, di atas meja ada rak yang menggantung berjumlah empat dan tiap tiap rak berisi novel hasil karya Naya.


Dan di tiap tiap meja terdapat satu komputer untuk sepasang suami istri itu bekerja.


Naya kembali ke ruang kerja itu dengan membawa segelas air di tangan kirinya, dan tiga snack untuk menemani dirinya menulis.


Drrtt..


Ponsel Naya kembali berdering, menandakan ada seseorang yang menelepon, Naya melihat nama orang yang menelepon, ternyata dari suaminya, dan dengan cepat Naya menerima panggilan video itu.


“Halo” sapa Naya meletakkan ponsel nya didepan komputer nya agar tetap berdiri.


Naya melihat Rian tersenyum di layar handphone nya. “Halo, kamu sedang apa?” tanya Rian juga meletakkan handphone nya bersandar.


“Aku sedang melanjutkan cerita ku” jawab Naya mengambil laptop yang dia gunakan untuk menulis.


“Kenapa tidak menggunakan komputer saja?” tanya Rian dengan alis menekuk. Komputer mereka berdua baru, dan Rian yang memberinya beberapa hari yang lalu.


Naya menggeleng, “Komputer nya sudah panas, jadi aku memakai laptop ku” jawab Naya tersenyum. Rian mengangguk, tangan nya terulur untuk mengambil kotak makan yang dipersiapkan oleh Naya tadi pagi.


“Kamu sendiri sedang apa?” tanya Naya melihat gerak gerik sang suami dari layar handphone nya.


“Aku makan siang” Rian membuka kotak makan nya, lalu memperlihatkan isi kotak itu. Berisi nasi dengan ayam kecap di samping nya.


“Apakah sudah memasuki jam makan siang?” tanya Naya membuka snack yang dia bawa tadi dari dapur.


Rian mengangguk. “Kamu tidak tidur? apakah kamu tidak merasa capek setengah hari berada di depan layar komputer?” tanya Rian di sela sela makan nya.


“Kamu sendiri?” tanya Naya, dia heran kenapa suaminya bertanya tentang itu, padahal dia sendiri seharian penuh duduk di depan layar komputer di kantor nya.


“Aku sudah biasa”


“Aku juga”


Hening, keduanya saling makan makanan masing masing, hingga Naya melihat tangan lentik yang pastinya seorang wanita menyentuh pundak suaminya dengan mesra.


Naya masih melihat, kepala seorang wanita berambut hitam menghalangi kamera suaminya. Naya masih terdiam.


Namun, suara kecupan mendarat membuat Naya dengan cepat mematikan panggilan telepon itu.

__ADS_1


Hati nya sangat nyeri.


__ADS_2