
"Selingkuh? Tidak, aku tidak pernah selingkuh" jawab Rian mengelak, memang benar, dia tidak tidak pernah selingkuh dengan siapapun, bahkan dengan Rima saja ia tidak menjalin hubungan apapun.
Tidak ada hubungan sepesial antara ia dan Rima, hanya sebatas ayah dan ibu bagi anak nya. Selebihnya tidak, soal perasaan, dirinya juga tidak tahu.
"Jangan berbohong Mon!" hardik Naya. Rian menghela nafasnya lelah, setelah semalaman suntuk tidak tertidur menunggu kabar dari operasi anaknya, pulang pulang dirinya di sambut dengan penampilan istri yang acak acakan dan todongan Naya yang tidak akan pernah ada habis nya.
"Aku lelah Nay, kalau kamu tidak percaya maka biarlah, aku akan pergi ke kantor, minggir!" ujar Rian beranjak dari hadapan Naya.
Naya mematung, setelah ia menunggu kepulangan sang suami hingga ia tertidur di teras rumah nya malah ini yang dia dapat kan? Naya membereskan barang-barangnya, dan membawa nya ke dalam.
Naya membersihkan badan nya, dia sekarang memakai kamar mandi yang berada di dapurnya.
Setelah membersihkan badan nya, Naya menyiapkan roti Untuk sang suami, tidak mungkin jika dirinya memasak di jam sekarang, itu akan menguras waktu yang di miliki oleh Rian.
"Masak apa?" tanya Rian merapikan kemeja yang melekat di tubuh nya.
__ADS_1
Naya mendongak, dia meletakkan dua lembar roti itu ke atas piring dan menyerahkannya pada Rian.
"Ini, aku, hanya membuat roti, aku kesiangan karena malam tadi aku bergadang" ujar Naya menuangkan air ke dalam gelas.
Rian duduk, dia mengambil roti yang berada di atas meja itu "Kenapa kamu bergadang?" tanya Rian di sela sela kunyahan nya.
"Katamu modal untuk usaha kurang lima ratus juta" jawab Naya membuat Rian memberhentikan kunyahan nya sebentar, menatap ke arah Naya kemudian melanjutkan kunyahannya.
Rian berdehem, "Benar, aku membutuhkan lima ratus juta lagi untuk menyetok barang produk kita" jawab Rian, pikirannya melayang ke uang satu miliar milik Naya yang dia gunakan untuk biaya pengobatan anak nya.
Sebenarnya jika uang itu tidak di gunakan, sudah lebih dari cukup untuk menyetok produk nya, dan membuat ruko yang bisa di jadikan sebagai gudang, pemasaran, dan kantor kecil kecilnya.
Hening, Vita sudah memberi tahu ke Naya bahwa dirinya akan sedikit telat.
"Lalu, apa hubungannya uang dan bergadang mu?" tanya Rian seperti lupa bahwa Naya adalah seorang penulis novel dan seorang penulis naskah film.
__ADS_1
Naya duduk, lalu menopang dagunya, menatap mimik wajah Rian lekat lekat.
"Ah, seperti nya alkohol yang kau minum kemarin malam masih ada di tubuh mu, sehingga kamu lupa bahwa aku adalah seorang penulis" ujar Naya tersenyum tipis.
Senyum yang mengutarakan kekecewaan nya, pun suaminya itu tidak bertanya kenapa dirinya ada di luar tadi pagi.
Rian tersentak.
"Khem, aku sudah selesai, aku akan pergi" pamit Rian berdiri.
"Mau berangkat?" tanya Naya ikut berdiri, dia akan mengantarkan Rian ke depan.
Mereka berdua berjalan ke teras rumah nya dengan kecanggungan, "Aku berangkat dulu" ujar Rian mengecup pelan dahi Naya dan menaiki motor nya.
Naya mengangguk "Hati hati" ujar nya melambaikan tangannya.
__ADS_1
Rian hanya mengangguk, dia meng-egas motor nya keluar dari pekarangan rumah mereka.
"NAYA!! TOLONG AKU DI KEJAR ANJINGGGGG!!!"