
"I'm not virgin?'' ucap Rian mengulang perkataan Naya yang membuatnya terkejut. Rian terkekeh kecil, kekehaan yang berati mengejek.
"I'm not virgin?' ucap Rian lagi, kekehaan tadi sudah menjadi sebuah tawa keras yang menggema di seluruh ruangan, Rian kecewa.
Hasrat yang membara tadi sudah di gantikan dengan amarah yang meluas di hatinya, mana ada seorang laki-laki tidak pernah menyentuh wanita yang menjadi istrinya dan beranggapan bahwa istrinya adalah seorang wanita baik baik, ternyata salah, wanita yang menjadi istrinya itu seperti kebanyakan wanita di luaran sana, tidak bisa menjaga dirinya.
Rian pikir, sifat Naya dan Raya berbeda karena Naya yang tidak neko-neko, dan Raya penggoda. Ternyata tidak kakak beradik itu sama saja.
Rian memberhentikan tawa nya, dia melihat ke arah Naya yang menunduk dan sudah mengeluarkan air matanya.
"I'm not a virgin?" ujar Rian kembali, tangan nya sekarang sudah berada di rambut Naya dan menariknya nya hingga wajah Naya yang menunduk kini terangkat ke atas.
Naya menahan sakit di kepala nya karena jambakan kuat yang membuat kulit kepalanya hampir terlepas. Namun, Naya hanya diam ketika mendapatkan perlakuan seperti ini, Naya sadar bahwa pengakuan nya telah membuat suaminya kecewa, dia mendesis pelan menahan rasa sakit.
"Siapa yang telah mengambil keperawanan mu ha!!?" tanya Rian lembut, sungguh dirinya tak habis pikir dengan pernyataan dari mulut Naya, bagaimana bisa?, bagaimana bisa? bagaimana bisa?.
Naya diam, dia tidak menjawab, memori kelam siang itu kembali terputar bagaimana kaset rusak di kepalanya, Naya memejamkan matanya, di sekarang ingin berteriak kencang karena tidak bisa melupakan memori kelam itu, memori yang membuatnya ternoda, memori yang membuatnya takut untuk berinteraksi dengan sembarang orang.
Plak..
"Jawab *** ***!" desak Rian menampar pipi kanan Naya hingga tertoleh.
Naya tetap diam.
Rian menggeram marah, ketika Naya tidak menjawab pertanyaan dari nya, dia mempererat jambakan yang tangannya, menarik nya hingga Naya terjatuh ke atas ranjang nya.
Naya diam, dia merubah posisinya duduk dan menunduk sambil menikmati rasa sakit dari jambakan Rian dan mencoba menghilangkan kenangan buruk itu.
__ADS_1
Rian mengacak rambut nya marah. "Aku kira wanita buruk rupa seperti mu adalah wanita yang baik-baik, ternyata tidak kau sama saja seperti jala Ng di luaran sana!" bentak Rian menunjuk wajah Naya dengan tangan telunjuk nya.
Naya diam, hinaan, hinaan kembali lagi.
"Tidak kakak, tidak adik sama saja, sama sama seorang ******!" bentak Rian mengancingkan kembali baju nya.
"Sudah buruk rupa, ****** lagi Cih.." decak Rian keluar dari kamar mereka.
Brak..
Rian membanting pintu kamar nya hingga membuat Naya berlari ke arah pintu dan langsung mengunci pintu itu.
Tubuh Naya merosot, dia terduduk lemas di depan pintu sambil menangis dengan kencang nya.
"AAAAAHHHHH...." jerit Naya ingin meluapkan rasa sakit yang menyerang secara bersamaan, Naya memukul mukul kepalanya sendiri, berharap dirinya bisa melupakan kejadian siang itu dari pikiran nya. Dan entah kenapa memori itu bukannya hilang malah semakin berputar kencang di otak nya.
Naya berdiri, dia berlari ke arah laci dan mengambil sebuah cutter, Naya mendudukkannya dirinya di bawah ranjang.
Kemudian dia menggores tangannya dengan cutter itu, menggores dan menekan cutter itu hingga menimbulkan luka yang begitu dalam.
Satu goresan...
Dua..
Tiga...
Empat ..
__ADS_1
Lima...
Enam...
Tujuh..
Delapan..
Sembilan...
Sepuluh...
Sebelas...
Dua belas...
Tiga belas..
Empat belas...
Naya menghitung setiap goresan yang dia ukir, menghitung nya hingga angka umurnya waktu di perkosa waktu itu.
Naya melemparkan cutter itu ke sembarang arah, dia menatap lengan nya dalam.
"Hehehe" tawa Naya menggema ketika melihat darah yang mulai bermunculan.
***
__ADS_1
Minta komen nya ...β€οΈβπ©Ήπππππππππππ