Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Belanja.


__ADS_3

Pagi ini hari begitu cerah, secerah sinar matahari yang mulai samar samar menyinari bumi. Sinar matahari sudah menjelajahi separuh bagian bumi. Tapi, sinar matahari tidak dapat masuk menyinari kamar dari seorang pengantin yang baru menikah kemarin.


Kring..


Kring...


Kring...


Bunyi alarm dari jam bakker di kamar itu sudah berbunyi sejak tiga puluh menit yang lalu, tapi tak juga membangunkan pasangan pengantin baru yang tengah tidur sambil berpelukan itu.


Kring...


Kring....


Kring...


Jika saja jam bakker itu adalah makhluk hidup, maka jam bakker itu sudah berteriak dengan sangat kencangnya karena sudah lelah untuk berbunyi dari tiga puluh menit yang lalu tampa henti.


Perlahan, kedua kelopak mata wanita yang berada di dalam pelukan hangat pria yang menjabat sebagai suaminya membuka mata nya. Tangannya langsung meraih jam bakker yang berbunyi dan mematikannya, sebelum mematikannya dia melihat jam itu. Pukul 06.30 pagi.


Wanita itu langsung duduk, membuat sang suami yang memeluknya ikut terbangun duduk menoleh ke kanan dan kiri lalu tidur kembali.


Naya melihat jam itu dengan seksama, seperti ada yang janggal.


Satu detik..


Dua detik...


Hingga... “Hei!, apakah kamu tidak akan bangun?!” pekik Naya mengguncang tubuh suaminya. Dia kaget, tidak biasanya dia bangun se-siang ini. Naya turun dari ranjang nya dengan tergesa-gesa.


Suami nya kemarin sebelum tidur berpesan agar membangun dirinya lebih pagi karena akan meng interview pegawai baru dua kali lebih banyak karena hari ini dan kemarin yang akan di interview.


“Ah.. aku harus memanggilnya apa?” tanya Naya pada dirinya sendiri di tengah kepanikan yang menyerang dirinya.


“Hei! bangun, ini sudah pukul delapan pagi” ucap Naya membuka gorden kamar mereka.

__ADS_1


Rian terlonjak kaget mendengar angka yang di sebut oleh istrinya itu, pukul delapan, tanpa berlama lama dan menoleh ke kanan dan kiri, dia langsung berlari ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar nya.


“Permisi” Naya yang juga ikut panik pun, tanpa membasuh wajah atau yang lainnya, langsung membuka kemari pakaian Rian dirinya langsung tertimpa pakaian. Pakaian dari lemari itu berjatuhan menimpa tubuh nya.


Sekarang, semua pakaian Rian berceceran mulai berada di dalam lemari hingga di pangkuan nya.


Naya terduduk lemas sambil mengelus dadanya.


Rian yang sudah menyelesaikan mandi nya kurang dari lima menit pun terkejut dengan apa yang terjadi dengan istrinya itu.


Istrinya tengah duduk di depan lemari nya yang sangat berantakan. Baju baju nya berceceran seperti menimpa tubuh istrinya. Rian melirik sekilas jam di dinding kamar nya. Masih pukul 06.45, bukan pukul delapan.


Rian menghampiri istrinya, “Kenapa kamu duduk di depan lemari itu?” tanya Rian menyentuh pundak Naya.


Naya menoleh, dengan wajah yang melas menunjuk lemari Rian. “Baju kamu, aku tidak tau, aku tidak tau yang mana kaos dan yang mana kemeja” ucap Naya. Rian melihat kondisi lemarinya, memang terlihat sangat kacau.


Naya berdiri, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Rian menggaruk perutnya, mengambil semua pakaian yang berjatuhan dan mengambilnya dengan satu pelukan tangannya, mengembalikan nya ke lemari dan mengambil pakaian yang akan dia kenakan sekarang lalu menutup pintu lemarinya.


“Makan dulu, kita belum membeli kebutuhan kita, nanti aku akan keluar ke mall sebelah untuk membeli perlengkapan. Dan kemari kan baju mu, aku akan menyetrika nya. Oh, di mana ya setrikanya?” ucapan beruntun itu membuat Rian tersenyum geli.


Istrinya itu sudah bisa mengekspresikan dirinya.


“Setrika nya ada di dalam nakas, dan terimakasih untuk rotinya” ucap Rian mengambil roti yang berada di tangan Naya, sementara Naya mengambil kemeja yang berada di tangan Rian.


•••


Naya melihat deretan angka yang berada di layar handphone nya. Angka itu adalah angka yang menunjukkan berapa banyak uang yang dia miliki saat ini.


“Dua miliyar sembilan ratus tujuh puluh juta” ucap Naya mengeja deretan angka itu. Naya tersenyum, usaha nya selama delapan tahun terakhir akhirnya terlihat hasil nya. Hasil yang sangat memuaskan.


Naya membaca nama toko yang akan di masukinya. 'Dapur bunda' Naya masuk, dia melihat berbagai macam peralatan dapur yang sangat lengkap. Mulai dari yang keluaran dulu hingga yang terbaru. Semuanya lengkap.


Naya mengambil troli yang ada di depan toko. Berjalan, sambil melihat lihat perlengkapan dapur apa yang akan dia beli.

__ADS_1


Naya tersenyum lebar, perbedaan antara di kota dan di desa sangat lah kontras. Benar kata sang suami, bahwa kehidupan di kota adalah kehidupan masing masing. Di kota, Naya merasa sangat bebas karena tidak ada tatapan menghina ataupun mengejek karena bentuk tubuh nya yang besar.



|


••


Hari sudah mulai petang, Naya tertidur di ruang tamu dengan berbagai macam peralatan perlengkapan rumah barunya yang berceceran di ruang tamu itu.


Mulai dari peralatan dapur, perlengkapan untuk mendekorasi rumah hingga persediaan bahan makanan yang akan bertahan selama satu bulan ke depan.


Tak luput dengan alat alat elektronik seperti kulkas, blender, penanak nasi dan lain sebagainya . Harga yang di keluarkan oleh Naya sangat fantastis. Mencapai angka dua ratus juta lebih.


Rian memarkir motornya di depan rumah sederhana nya. Dengan langkah yang lebar dia masuk kedalam rumah nya. Namun, dia di kejutkan dengan semua yang telah di perbuat oleh istrinya.


Mata Rian mengedar, dia mencari di mana istrinya berada, dan kembali terkejut ketika melihat istrinya itu tengah tertidur di sofa ruang tamu nya.


Rian hendak membangunkan istrinya, namun, ketika melihat semua barang barang yang telah di beli oleh istrinya dia mengurungkan niat nya untuk membangunkan istrinya.


Rian masuk ke dalam kamar nya, membiarkan istrinya itu tertidur. Rian mandi, di tengah acara mandinya, dia teringat, teringat jika dirinya tidak memberikan Naya uang belanja. Tadi pagi dia sangat tergesa gesa hingga melupakan Naya akan keluar untuk belanja. Dan sekarang, Naya belanja memakai uang siapa?, kan katanya Naya itu seorang pengangguran.


Rian menyudahi mandi nya, Dia memakai pakaian lalu menghampiri Naya yang tengah tidur di ruang tamu nya.


Tok...


tok...


tok...


Pintu di ketuk, Rian yang sedang berjalan menghampiri Naya mengurungkan niatnya, dia lebih dulu membuka pintu rumah nya.


“Siapa pak?” tanya Rian pada seorang yang lebih tua dari pada dirinya. Jika di lihat dari penampilan nya.


“Saya dari toko bintang kasih, saya mau mengantarkan pesanan meja dan kursi atas nama Rerinaya”

__ADS_1


__ADS_2