
Sekarang sudah pukul setengah sebelas malam, namun, Naya masih berada di teras depan rumah nya untuk menunggu kepulangan sang suami.
Dengn di temani secangkir teh hijau dan laptop di pangkuannya, Naya mendongak, dia melihat satu bintang yang terlihat dari bawah bumi.
Dia lebih menyukai bintang dari pada bulan, entah karena apa.
Tubuh Naya sudah kedinginan, dia mengambil handphone dan menelepon nomor sang suami. Namun, sudah berkali kali dia mencoba tapi hasilnya nihil. Tidak ada satupun jawaban yang di terima oleh dirinya dari sang suami.
Raya berdiri, dia masuk dengan membawa semua alat elektronik yang dia bawa guna menulis novel yang akan terbit dua minggu depan.
Raya menidurkan dirinya di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya dengan semua beban yang berada di dalam pikirannya.
Namun, pikirannya kali ini hanya berousat pada Rian, Rian dan Rian.
Kenapa Rian belum pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas dini hari? apa Rian selingkuh... ?
Tidak, Naya tidak boleh berpikiran seperti itu, mungkin suaminya itu tengah lembur, tapi... Jika lembur kenapa Rian tidak sekedar menghubungi nya, atau yang lebih simple memberikan nya sebuah pesan.
Tak mau cepat kurus gegara kepikiran, akhirnya Naya pun memutuskan untuk tidur dan melupakan masalah nya. Membawa nya ke dalam mimpi yang selam ini ia senangi.
__ADS_1
•
•
•
•
"Sayang, bangun.." bisik Rian pada telinga Naya.
Naya menggeliat sebentar, kemudian, kedua kelopak mata itu perlahan terbuka dan memperlihatkan dua mata berwarna hitam pekat miliknya.
Naya duduk. "Happy birthday babe" ucap Rian tersenyum. Naya pun ikut tersenyum.
Rian duduk di depan Naya, dia mengambil sebuah korek api yang berada di kantung nya, lalu menyalakan nya di lilin bertuliskan angka 25 itu.
Kesadaran yang semula tidak ada kini ada, entah datang nya dari mana.
"Terimakasih.." ucap Naya lirih, ternyata, Rian tidak seperti yang dia pikirkan. Dia semakin yakin jika Rian adalah orang yang akan menemani hati hari nya kelak hingga ajal menjemput.
__ADS_1
"Make a wish dulu" ucap Rian mengelus rambut Naya, lalu menyelipkan rambut nya menghalangi pandangannya ke belakang telinga.
Raya mengangguk senang, dia tersenyum lebar, jujur saja ini adalah pengalaman pertamanya untuk sebuah kejutan seperti ini.
Seumur dirinya hidup, Naya tak pernah yang namanya merayakan ulang tahun nya, kadang kadang setiap tanggal di mana dia dilahirkan dia lupa akan tanggal itu, menjalani nya seperti tanggal tanggal biasanya.
Namun sekarang, Rian memberikan nya sebuah kenangan pertama yang tak akan Naya lupakan selama sisa nafas nya berhembus.
Seperti yang dia tonton di film biasanya, Naya perlahan mulai memejamkan matanya, menadahkan kedua tangannya dan meminta permintaan Kepada Tuhan semesta alam.
"Beri aku kebahagiaan yang sesungguhnya Tuhan, jangan beri aku kebahagiaan yang bersifat fana" ucap Naya di dalam hatinya.
Perlahan mata itu kembali terbuka, dia tersenyum dan menatap Rian dengan sendu, rasanya dia ingin menangis sekarang juga, dengan pelukan hangat Rian yang menyertai.
"Di tiup dulu sayang.." ucap Rian membuat Naya mengangguk.
Fyyuh....
Lilin itu padam, Naya melihat Rian dengan senyum nya.
__ADS_1
"Bolehkah aku memeluk mu?"