
Satu minggu berlalu, semua nya kini kembali seperti normal, kehidupan rumah tangga Rian dan Naya sudah kembali harmonis. Sekarang hari rabu, hari di mana tanggal merah menetap.
Pagi ini, Naya nampak sedang berkutat dengan wajan dan para sahabat nya.
"Kamu memasak apa kali ini?" tanya Rian duduk di kursi dapur.
"Aku memasak nasi goreng pagi ini" jawab Naya menyediakan nasi goreng dan telur mata sapi di atas nya di depan Rian.
"Terimakasih," Rian mulai memakan masakan yang Naya buat.
"Sama sama"
Keadaan hening, kening Rian mengkerut, "Kenapa kamu tidak ikut sarapan?" tanya Rian melihat istrinya tidak makan.
Naya tersenyum "Aku mencoba melakukan diet"
jawab Naya menggeleng.
Setelah satu minggu berpikir dan mempertimbangkan semua manfaat dan resikonya, Naya akhirnya memutuskan untuk menjalani program diet, selain untuk kesehatannya Naya menjalankan diet agar supaya tidak di pandang sebelah mata lagi dan menjadi omongan warga sekitar karena berat badannya.
Rian yang sedang memakan makanan nya berhenti, dia menatap Naya sebentar lalu melanjutkan acara memakannya.
"Kenapa kamu diet?" tanya Rian di sela-sela makannya. Melanggar etika ketika makan memang, namun, dia tidak peduli sama sekali, dirinya berada di dalam rumah. Bukan di luar, jadi it's okay.
"Aku hanya ingin memantaskan diri untuk berada di dekatmu" jawab Naya yang mengutarakan maksud diet nya sebenarnya.
Setelah pertengkaran karena kesalahpahaman beberapa hari yang lalu, Naya menjadi sadar, dirinya merasa tidak pantas berada di samping Rian jika berbadan gemuk. Apalagi Rian yang sangat sempurna. Jadi, jika dirinya ingin pantas maka dirinya harus mengecilkan badanya terlebih dahulu.
Rian diam, dia tidak membicarakan apapun lagi, keadaan hening selama beberapa menit, setelah dia makan dan mencuci piring nya lalu duduk di depan Naya.
Rian mengambil tangan Naya dan menggenggam nya.
"Kamu harus makan, jika ingin diet, kamu harus konsultasi kepada yang paham ilmu diet, tidak sembarangan kamu diet, sekarang buktinya, kamu tidak bisa tiba tiba tidak makan''
Naya diam, memang, dirinya hanya mengetahui bahwa diet itu tidak makan. Tidak lebih.
"Aku tahu kenapa kamu diet"
Naya mendongak, "Kenapa?"
"Kamu merasa sangat kecil kan karena bentuk tubuh kamu? kamu takut di hina kan karena kamu memiliki bentuk badan yang besarkan?, dengar, aku menerima kamu apa adanya, jadi jangan menyiksa dirimu sendiri. Cukup bantu aku untuk sukses"
__ADS_1
"Dan tadi apa? kamu berusaha memantaskan diri di samping ku? kamu bercanda? kamu pantas, sangat pantas untuk berada di samping ku, penilaian macam apa itu!? kamu harus bisa menerima keadaan kamu yang sekarang! jangan memikirkan penilaian orang lain!" ucap Rian seperti nya sedang emosi.
Naya terdiam, dia menunduk. Benar, dirinya kurang bersyukur.
Rian berdiri, dia mengambil sebuah piring lalu mengambil nasi goreng yang berada di dalam wajan dan menyajikan nya untuk Naya.
"Ayo makan dulu" ucap Rian meletakkan piring itu di hadapan Naya.
Naya menatap Rian seperti memohon untuk belas kasih nya, dirinya ingin diet, benar benar diet.
Rian menghela nafas nya, dia menatap Naya tajam, kemudian mengelus kepala Naya dengan lembut. "Kamu makan dulu, nanti kita ke dokter untuk konsultasi diet kamu agar tidak membebani kamu" ucap Rian membujuk.
"Kapan kita akan konsultasi?" tanya Naya
"Nanti sore saja, ayo di makan" ucap Rian membujuk.
Seperti nya bujukan itu berhasil, terbukti Naya langsung memakan nya dengan lahap.
Rian tersenyum, dia duduk dan mengelus rambut Naya lembut.
"Ukhuk... "
Naya mengangguk, dia meminum minuman itu agar tenggorokan nya kembali nyaman "Maaf" ucap nya menaruh gelas yang sudah tak berisi itu di atas meja.
"Jangan meminta maaf, ayo, biar aku saja yang menyuapi mu" ucap Rian mengambil piring yang berada di hadapan Naya.
Naya menggeleng "Jangan, biar aku saja" cegah Naya megegang tangan Rian.
Rian keukeuh, dan pada akhirnya sisa nasi yang berada di piring Naya Rian yang menyuapi.
"Buka mulut nya" ucap Rian menyodorkan sendok ke depan mulut Naya.
Naya diam, dengan perasaan yang sangat canggung dan ragu akhirnya dia membuka mulutnya.
Setelah acara makan itu selesai, Naya mencuci piring dan berdiri dengan canggung di depan Rian.
Rian terkekeh kecil.
"Ayo ikut aku" ucap Rian berdiri, dia ingin menunjukkan sesuatu untuk Naya. Dan menghindari pertengkaran karena emosi dari ucapan Naya. Siapa yang mengatakan dirinya tidak pantas dengan Naya? Naya itu baik, penurut, imut, bahkan pintar, bukan sangat pintar.
Rian membawa Naya untuk pergi ke ruang kerja mereka.
__ADS_1
"Ada apa?, kenapa kamu membawa ku kesini?" tanya Naya namun tidak ada jawaban sedikit pun dari Rian.
Rian diam, dirinya menyalakan komputer dan laptop nya secara bersamaan. "Kenapa—"
"Kamu duduk dulu, aku akan berbicara sesuatu, ini sangat penting" ucap Rian membuat Naya mengangguk kemudian duduk di kursinya, menyeret nya untuk lebih dekat dengan Rian.
"Ada apa" tanya Naya tak mengerti, dia hanya melihat apa yang di lakukan oleh Rian. Duduk dan diam.
"Ini, bacalah" ucap Rian memberikan sebuah kertas yang berada di dalam sebuah map pada Naya.
Naya kembali bertanya-tanya, Rian menyalakan komputer dan laptopnya untuk apa jika ujung ujungnya dirinya di suruh untuk membaca.
Naya membuka map itu, lalu membacanya perlahan.
"Surat kepemilikan perusahaan" ucap Naya mengeja paragraf pertama, dia mendongak untuk melihat wajah Rian.
Rian mengangguk "Teruskan" ucap Rian membuat Naya kembali membaca surat tadi.
Surat itu berisi tentang kepemilikan sebuah perusahaan cosmetic yang sudah bangkrut.
Naya menutup map itu, menaruh nya lalu menatap manik mata Rian dalam.
"Kenapa kamu membelinya?" tanya Naya.
"Aku ingin memiliki perusahaan cosmetic, dan aku tengah merintis nya saat ini" ucap Rian mengotak atik komputer di depan nya.
Naya mengangguk, lagi lagi dirinya kagum dengan pemikiran seorang Rian, biasanya seorang jika sudah bekerja dan memiliki gaji yang sangat tinggi, orang itu tidak akan mencari pekerjaan lain. Berbeda dengan Rian, dirinya tak segan untuk membeli perusahaan yang sudah bangkrut untuk membuat perusahaan nya sendiri.
"Berapa kamu membeli perusahaan itu?" tanya Naya membuat Rian menoleh.
"Satu miliyar" jawab Rian enteng. Dia menunjuk layar komputer membuat keterkejutan Naya hilang.
"Apa ini?" tanya Naya melihat layar komputer yang menampilkan beberapa gambar ilustrasi sebuah wadah cream siang dan cream malam. mulai yang belum jadi hingga sudah jadi.
"Itu adalah desain wadah cream siang dan cream malam" jawab Rian.
"Bagus, tapi apa tujuan mu membuat perusahaan ini?" tanya Naya mengambil mouse komputer dari tangan Rian.
Naya menggeser sendiri, dan melihat seluruh desain dari wadah perlengkapan berbagai produk, seperti wadah facial face, serum, toner, cream siang, cream malam, bedak hingga lipstik, Dan berbagai warna lipstik.
"Aku ingin kaya"
__ADS_1