
Naya melebarkan matanya, dia terkejut ketika mendengar dari bibir Rian bahwa Rian membutuhkan uang sebanyak itu. Lima ratus juta? bahkan di tabungannya saja dia hanya memiliki seratus juta, itupun untuk kebutuhan sehari-hari nya. Mulai dari makan, dan kebutuhan rumah yang lain.
Karena, Naya tahu bahwa Rian sekarang tengah merintis perusahaan cosmetic nya dan itu membutuhkan biaya yang tidaklah sedikit. Maka dari itu semua biaya rumah Naya yang menanggung nya.
"Aku tidak memiliki uang sebanyak itu sekarang, dan bukannya semua tabungan ku sudah ku berikan padamu waktu itu, apa dua miliyar masih kurang?" tanya Naya mengerutkan keningnya.
Rian melihat Naya dengan tatapan sendunya, benar, istrinya itu sudah memberikan semua uang yang berada di tabung nya untuk membantu perusahaan yang dia buka beberapa hari yang lalu.
"Iya, masih kurang" jawab Rian sedikit berbohong, tidak dirinya tidak berbohong, uang satu setengah miliyar sisa dana awal pengeluaran bahan pokok dan tenaga kerja semuanya sudah ludes tinggal setengah miliyar. Jika di tanya kemana pergi nya uang itu maka jawabannya adalah, Rian mengeluarkan uang satu miliyar itu untuk membiayai pengobatan sang buah hati.
"Mm, kurang ya? beri waktu satu bulan bisa? aku akan menerbitkan novel ku" jawab Naya nampak ragu di kedua matanya.
Lima ratus juta bukanlah angka yang sedikit.
Satu bulan lima ratus juta, maka dia harus menerbitkan kurang lebih lima buah novel untuk mencapai itu. Dan naskah novel yang berada di dalam laptopnya hanya ada dua, itu berarti dia harus membuat tiga novel lagi.
Rian menghela nafasnya, stok skincare di rumah nya masih tersisa seribu paket dan Rian mengira bahwa itu akan cukup satu bulan ke depan, jika seribu paket itu habis, maka kira kira untung lima ratus juta yang akan dia dapat.
"Baiklah, jangan di pikirkan, untung kita di stok yang berada di gudang sudah cukup untuk memenuhi angka itu," jawab Rian membuat Naya sedikit tersenyum
__ADS_1
"Benarkah?"
Rian mengangguk, "Kenapa kamu tidak tidur? ini sudah tengah malam" tanya Rian.
"Aku semula tidur, hanya saja aku terbangun dan mencari keberadaan kamu ada di mana" jawab Naya.
"Baiklah, ayo kita tidur" ajak Rian berdiri, mulai sekarang dia harus sedikit lebih sedikit menjauhi Naya.
"Ayo.... !!!"
"NAYAAAA!!" pekik Rian membuat Naya yang sedang melakukan olahraga bersama Vita terkejut, dia menatap Vita dengan penuh tanda tanya.
Tanya kenapa sang suami berteriak di pagi buta seperti ini. Ini masih jam enam, Naya mengira ngira kenapa Rian berteriak, perasaanya dia telah melakukan semuanya, memasak, mencuci, menjemur, mengepel menyapu bahkan membuat kan kopi untuk Rian.
"NAYAA!!" teriak Rian sekali lagi yang membuat Naya langsung berdiri dari duduk nya.
Naya masih menatap Vita dengan rasa bingung nya. "Lebih baik kamu datangi Rian, mungkin Rian sedang kesurupan—"
"NAYAA!!"
__ADS_1
"Benar, dia sedang kesurupan" sambung Vita menyambung perkataan nya yang terputus tadi.
Naya mengangguk, jantung nya sudah berdetak tak karuan karena teriakan pertama kali yang di keluarkan oleh Rian. Naya berpikir, apa sifat Rian perlahan mulai muncul? atau memang benar perkataan Vita bahwa Rian sedang kesurupan.
Tapi tidak mungkin.
Naya berjalan dengan sedikit pelan, mata nya mencari di mana Rian berada.
"NAYA!!!"
Di ruang kerja, benar, Naya mendengar suara Rian berada di ruang kerja mereka. Naya masuk dengan perlahan dia melihat punggung Rian dari depan pintu.
"Kenapa Mon?" tanya Naya ketika sudah berada di belakang Rian.
Rian berbalik badan.
PLAK..
"Ssstt.."
__ADS_1