Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Lepaskan.


__ADS_3

"Lepaskan aku!, lepaskan ini menyakitkan!!" pekik Naya meronta ronta, kali ini, dengan terpaksa Raya dan pihak rumah sakit mengikat tubuh Naya ke ranjang. Karena jika tidak di ikat, maka Naya akan menyakiti dirinya sendiri.


Kata dokter psikologi yang melihat kondisi Naya dan cerita dari Raya, Naya melukai dirinya sendiri di picu trauma masa lalu yang di pendam sehingga menimbulkan depresi yang berlebihan di masa depan.


Trauma itu Naya tekan sendiri tanpa adanya pendukung dari orang terdekat. Memang, biasanya— pada awalnya Naya mampu untuk memendam itu sendirian, lama-kelamaan Naya akan melupakan itu, namun, ketika trauma itu kembali membuat keadaan psikis Naya semakin memburuk.


Raya menceritakan semuanya dari awal pelecehan, mengurung diri di dalam kamar, marah marah tidak jelas selama dua tahun dan tidak adanya support dari figur keluarga hingga cacian, hinaan yang dilontarkan oleh orang-orang.


Dan menceritakan yang sebenarnya mereka pindah ke desa adalah, kedua orang tua nya malu karena Naya seperti orang yang gila, marah marah sendiri, tiba tiba menangis, bahkan melukai dirinya sendiri.


Dokter psikologi itu menyampaikan bahwa, peristiwa traumatik, seperti kekerasan dan pelecehan seksual, kurang mampu bergaul dengan orang lain dan perasaan rendah diri, tidak mampu, marah, atau kesepian memicu trauma itu kembali di masa sekarang.


Seperti ini, dan dokter itu bilang, trauma akan lebih cepat sembuh ketika cepat juga ke psikiater, tapi trauma yang sudah di pendam, apalagi selama bertahun-tahun akan lama untuk sembuh, memerlukan waktu bertahun-tahun.


"Lepaskan! aku tidak ingin hidup lagi!!" pekik Naya meronta ronta. Tapi tatapan Naya kosong, seperti tidak ada kehidupan.


Raya melihat itu menitikan air matanya, sedih. Dia merasa tidak menjadi seorang kakak yang baik, dulu, seharusnya dia mendukung Naya, bukan malah melarikan diri dari kesalahan nya yang membuat Naya trauma.


"Jadi dok, apakah Naya bisa sembuh?" tanya Raya menatap dokter wanita di depannya.

__ADS_1


Raya berada di sofa ruangan VVIP itu, di temani oleh dokter psikologi, dan dokter umum.


Tangan Naya kembali di jahit oleh dokter, karena tusukan Naya hampir menyentuh tulang wanita itu.


"Bi—"


"AAHHHHKKK.... LEPASKAN AKU, INI SANGAT SAKIT, LEPASKAN AAKKKKHHH!!!" pekik Naya menarik tangannya dan kaki nya yang di ikat ke samping ranjang.


Semua orang bisa melihat betapa mengerikannya, dan menyedihkan nya Naya.


Dokter umum itu mengamati pasien nya, seperti ada yang mengganjal di matanya. "Dok, apa boleh saya menyuntikkan obat penenang pada nyonya Naya?" tanya dokter umum itu pada dokter psikologi itu.


Dokter itu diam sebentar, dia melihat kondisi Naya yang memang sudah sangat membutuhkan penanganan yang sangat extra, dokter psikologi terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Berikan, tapi dosisnya setengah, dan jangan coba coba memberikan nya setiap hari, karena jika kau memberikannya setiap hari, maka kesehatan mental Naya akan semakin memburuk. Obat penenang itu akan membuatnya berhalusinasi secara berlebihan jika kau memberikannya setiap hari" jelas dokter psikologi itu membuat dokter umum mengangguk.


Dokter umum itu mengeluarkan obat penenang dan sebuah jarum dari saku dokter nya, lalu dengan cepat dia menyuntikkan nya pada lengan Naya.


"LEPASKAN AKU, LEPA—skan" perlaha Naya mulai menutup matanya, dia tidak memberontak dan mata itu tertutup sepenuhnya.

__ADS_1


Lalu, dokter umum itu membersihkan darah Naya yang kembali keluar.


Raya menunduk, dia menghapus air mata nya. Hancur perasaan nya, sangat hancur.


"Dok, apa adik saya bisa di sembuhkan?" tanya Raya membuat dokter wanita itu mengangguk.


"Dari riwayat yang saya check, seperti nya suami dari ibu Naya sangat berperan penting dalam kesembuhan ibu Naya"


***


*


*


*


*


Note: Semua di novel ini hanya karangan dari penulis ya, jangan di masukkan ke dalam hati, masukkan saja ke dalam kamus hehehehe.

__ADS_1


Jangan lupa dukungan nya, dan komen nya. Saya tunggu.


__ADS_2