
"Ayo makan, Naya!" ujar Ziko dengan nada yang mengintimidasi, sangat lembut tapi dalam.
Umur Ziko dan Naya sepantaran, 25 tahun, sementara, Raya berusia 26 tahun.
Naya yang sedang melamun sambil menatap kosong langit langit kamar nya pun sedikit tersentak, dia menoleh pelan, kemudian Naya langsung terduduk.
"Ka— Kamu, pergi, pe—pergi!" ujar Naya tiba-tiba membuat alis Raya terangkat satu, sementara Ziko sudah mengetahui apa yang akan terjadi, dia diam.
"Makan, jika kau tidak makan aku tidak akan pergi!" titah Ziko memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana pendek nya.
"Kak—" lirih Naya.
Tubuh Naya sudah bergetar, dia memundurkan tubuhnya sambil meringkuk ketakutan melihat wajah Ziko. Dengan bibir yang bergetar dan air mata yang mengalir, Naya kembali mengingat kejadian kelam siang itu, dia menjambak rambut nya sendiri dengan kedua tangan nya .
Dia ketakutan.
Raya yang tidak tahu dan sangat prihatin dengan kondisi adiknya pun berdiri, dia kembali meletakkan mangkuk itu ke atas nakas.
"Naya, kenapa?" tanya Raya mengelus rambut Naya lembut, Raya mencoba menenangkan Naya dengan cara mengelus rambut Naya, bertujuan untuk memberikan maksud bahwa Naya tidak sendiri, dia ada untuknya.
__ADS_1
Naya mendongak ketika melihat mendengar suara Naya yang melantun indah bak melodi itu, Naya melihat ke arah Ziko dengan tubuh yang kian bergetar, lalu Naya menatap kembali Raya.
Naya melepaskan jambakan di kepala nya, dia menarik leher Raya dan berbisik pada nya. "Aku takut, di—dia, ak—aku—" ucap Naya terbata bata dengan tubuh yang bergetar tak lupa dengan sorot ketakutan nya.
Raya kembali mengelus rambut Naya lembut "Bicara pelan pelan okay?" ujar Raya tapi hal itu justru semakin membuat Naya ketakutan.
Naya melepaskan leher Naya, dia melirik ke arah Ziko, "Pergi — pe— pergi!" pekik Naya menoleh ke arah manapun, Naya seperti mencari sesuatu di sekitar nya.
Ziko menatap Naya datar, "Aku pergi" ujar Ziko. Raya hendak mencegah namun suara jatuhnya pecahan beling membuat kedua orang yang kehilangan konsentrasi nya pada Naya terkejut.
Mereka berdua seketika menoleh dan melihat Naya yang sudah memegang pisau buah dan lengan yang sudah tergores kembali oleh pisau itu.
Raya mundur tiga langkah. Untung kamar ini kamar VVIP jadi tidak ada pasien lagi selain Naya di kamar ini.
Ziko menggeram ketika kekasih nya di sodorkan pisau oleh Naya. "Minggir dan panggil dokter, aku melihat seorang dokter berjalan ke arah kanan tadi!" ucap Ziko melangkah menghampiri Naya.
Naya tidak memperdulikan apapun sekarang, dia fokus dengan satu titik yaitu lengan nya yang mengeluarkan darah. Jahitan di tangannya sudah sepenuhnya terlepas karena sayatan yang di lakukan oleh Naya.
Raya mengangguk, dia memencet tombol di atas ranjang Naya beberapa kali, kemudian berlari keluar untuk mencari bantuan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Dokter!!"
Ziko menghampiri Naya dengan rahang nya yang mengeras. Semua gara gara pria tua itu.
Dengan sekali tarikan pisau itu sudah berada di tangan Ziko. Naya marah, dia menoleh, namun, air matanya kembali mengalir dengan cepatnya.
"PERGI! PERGI PERGI! KAU JAHAT" pekik Naya meringkuk, dia menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"PERGI! PERGI! AKU BENCI KAU, KAU JAHAT!"
"PERGII!!!" pekik Naya.
Ziko menatap datar wanita di depannya, dia memencet sebuah alat yang berada di belakang telinganya sekali.
"Wanita mu sudah gila"
****
KOMENNNNNNMNMNMMMMMMMMNNNNNNN
__ADS_1