
Setelah perdebatan tentang nama panggilan yang di lakukan oleh sepasang kakak beradik itu akhirnya Naya pun mengalah, dia tidak lagi memanggil suaminya dengan sebutan “Mas” lagi, tapi akan menyebut suaminya itu dengan “Lemon” entah karena apa, tiba tiba saja nama itu yang keluar di benak nya untuk pertama kali.
"Sudahlah sayang, jangan ribut hanya gara gara nama panggilan ku" ucap Rian mencoba menengahi perdebatan antara kakak beradik itu. Rian membisikkan sesuatu, tangan nya bergerak mengelus punggung lebar Naya.
"Tapi—Ah.. baiklah, kau boleh memanggil suamiku dengan panggilan itu, aku akan memanggil suami ku dengan nama— em... Lemon, ya, Lemon"
*
*
*
Dan disini lah mereka, berada di tengah mall dengan Rian yang menggenggam tangan Naya sementara Raya dengan perasaan cemburu yang membara karena melihat sepasang suami istri itu.
Tapi Raya diam, dia tidak boleh bertindak gegabah, dia harus bermain rapi sebagaimana seorang putri.
"Kita kemana dulu Mon?" tanya Rian yang ikut ikutan memanggil sebutan Lemon.
"Entah, kita membeli perabotan kamar kak Raya dulu saja, dia kalau membeli sesuatu sangat lama nanti jika dia di akhir kan maka kita pulang tengah malam" ucap Naya di akhiri bisikan.
"Oo, begitu," Rian mengangguk.
"Kita membeli kasur dulu saja" ujar Rian pada Raya yang berada di samping nya.
Raya mengangguk disertai dengan senyum kecil. Dia merasa di perhatikan oleh Rian.
*
*
*
Hari sudah sangat larut, kini Rian tengah berada di ruang kerja nya guna membaca sebuah berkas yang berisi tentang pengeluaran bahan, alat tenaga kerja dan lainnya untuk membuat produk cosmetic nya.
Tunggu tiga bulan lagi untuk menyelesaikan penelitian produk yang akan di keluarkan oleh perusahaan yang di milikinya.
Istri Rian sudah tertidur beberapa jam yang lalu karena kecapean pergi kesana dan kemari untuk menuruti permintaan Raya guna mendekorasi kamar nya.
__ADS_1
Kata Naya, berbelanja dengan Raya selain menguras tenaga juga menguras dompet, bayangkan saja, Raya meminta Naya untuk membayar belanjaan nya yang hampir mendekati angka dua ratus juta. Itupun Raya hanya membeli kasur, lemari, meja belajar, buku dan teman teman nya, dua tas dan lima set baju dan jangan lupa dengan laptop baru nya.
Cek lek...
"Ouh, maaf, aku kira tidak ada orang" ucap Naya tersentak, dia pura-pura merasa kaget.
Sebenarnya dia tahu bahwa suami dari adik nya itu tidak tidur dia mengamati nya sedari tadi.
Rian yang semula fokus pada berkas yang dibacanya gini berpindah perhatian dia melihat Raya sang kakak ipar dari atas hingga ke bawah.
Raya memakai baju tidur yang sangat seksi berwarna merah yang sangat menyala baju itu memiliki potongan yang sangat minim yang bisa menutupi separuh dada dan setengah paha.
Di pikirannya sekarang hanya satu, kakak iparnya itu sengaja datang dan menggoda dirinya.
mana ada seorang wanita apalagi yang masih gadis keluar dari kamarnya hanya menggunakan gaun pendek seperti itu?. Jika memang tidak berniat untuk menggoda?.
Dan jika memang kakak ipar nya itu berniat menggoda, maka dia tidak akan pernah tergoda. Dia adalah pria mahal, dan pria mahal tidak pernah tergoda, apalagi selingkuh.
Menurut nya, selingkuh itu murah, dan jika seseorang selingkuh maka orang itu adalah orang murah.
"Maaf aku kira di sini tidak ada orang" ucap Raya tersenyum manis.
"Ada apa datang ke sini?" tanya Rian sekali lagi.
"Aku datang untuk meminjam komputer untuk melihat jadwal ku besok kuliah. Apakah boleh aku meminjam nya?" tanya Raya membuat Rian mengangguk.
Alasan yang basi, kenapa tidak melihat di handphone nya, wanita itu pasti memiliki handphone bukan? kenapa harus datang ke ruangan kerja nya dengan hanya memakai pakaian seperti itu?
Raya duduk dengan gerakan sensual, berharap agar Rian melihat nya. Lalu tergoda bentuk tubuh nya. Lalu menceraikan Naya dan menikah dengan nya.
"Bagaimana cara menyalakan nya?" tanya Raya pada Rian.
"Tekan saja tombol yang berada di bawah layar itu" jawab Rian tanpa melirik ke arah Raya. Dia sekarang tidak fokus karena tidak nyaman akan kehadiran wanita yang menjabat sebagai kakak ipar nya itu.
Raya mendengus kecil ketika Rian sama sekali tidak menggubris nya. Tapi Raya tidak akan menyerah, dirinya datang dari desa ke kota bukan hanya untuk kuliah, kuliah itu alasan, yang sebenarnya dia ingin menggoda suami adik nya yang begitu tampan itu agar tertarik padanya dan menikahi nya.
"Bagaimana Massshhhtt?" tanya Raya dengan suara mendayu dayu.
__ADS_1
Rian mengerutkan alis nya jijik, "Geser sedikit, beri aku ruang" ucap Rian sudah muak dengan tingkah laku kakak ipar nya itu.
Baru saja datang tadi sore, malam nya sudah menggoda suami adik nya sendiri, apa tidak ada lelaki lain yang berada di dunia ini? pikir Rian.
Raya mengangguk sambil tersenyum tipis, dia memundurkan kursi yang ada roda nya.
Rian menggeser layar komputer nya supaya Raya bisa melihat tombol mana yang akan Rian tekan.
"Jadi, kamu harus menekan tombol ini supaya layar komputer nya menyala." ucap Rian menjelaskan.
Raya mengangguk, dia tersenyum tipis, menggeser kursi beroda itu agar berjalan maju.
"Ooh, jadi yang ini ya Masshh" ucap Raya mendayu dayu, Naya memajukan badan atas nya agar payudara besar yang di miliki nya menempel di lengan Rian. Dengan pantat yang masih menempel pada kursi, sehingga tubuh yang hanya terlapisi dengan gaun merah yang tipis itu menampakkan bentuk yang jika di lihat standar di negara ini sangatlah sexy.
Dengan pantat yang besar, pinggang yang ramping dan payudra yang besar serta posisi yang begitu menggoda bagi siapapun yang melihat kecuali Rian.
Rian menarik tangannya, dia menatap Raya datar, lalu kembali duduk di depan komputer nya dan kembali membaca berkas nya. Jika saja dia tidak ada berkas yang harus di baca maka dia tidak akan berada di sini.
Raya tersenyum puas. Sebentar lagi sepertinya Rian akan tergoda.
"Cara menggunakan nya bagaimana Masshh" tanya Raya.
Sudah cukup, Rian sudah muak, Rian menoleh dan melihat Raya dengan tatapan tajam nya. "Kamu tidak bisa menggunakan komputer itu?" tanya Rian heran, jika di pikirkan dari cerita sang istri waktu itu, Raya itu sekolah, sementara Naya tidak. Bagaiman yang sekolah kalah yang tidak sekolah?.
"Tidak bisa" jawab Raya mengerutkan bibir nya.
"Lalu apa yang kau bisa selain bermain handphone?" tanya Rian.
"Laptop" jawab Raya sedikit tersenyum.
Rian menunduk, tanpa berkata kata dia mengambil laptop milik Naya yang kebetulan berada di bawah meja nya.
"Ini, pakai laptop saja jika memang kamu tidak bisa menggunakan komputer itu" ucap Rian berdiri, dia mengambil berkas dan laptop nya, lalu keluar dari sana, meninggalkan Raya yang sedang menahan rasa kesalnya karena dia di tolak oleh seseorang.
"Aku akan tetap menggoda mu sampai kamu tergoda mas"
"Jika begini lebih baik aku memakai laptop baru ku saja huh... " sambung Raya mendengus kasar
__ADS_1