Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Kesalahpahaman


__ADS_3

“Lalu, apa motif nya melakukan itu?” pertanyaan Naya kembali membuat Rian terdiam. Menarik nafasnya lalu berkata “Dia bilang hanya ingin menyapa mantan lama”


Mendengar itu pikiran Naya kembali berputar Liar tentang sejauh mana hubungan mereka, apa sudah berada di tahap melakukan hubungan *** yang sudah menjadi sebuah kebisaan baru di era ini. Karena pikirkan itu berkemungkinan terjadi selama Rian dan Rima menjadi seorang kekasih.


Lalu, ada satu pernyataan yang berada di otaknya, pernyataan yang tiba tiba muncul entah dari mana. “Lalu, apakah dia yang mengajarimu berciuman?” Naya menanyakan pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya itu.


Rian diam, dia melepaskan tangannya dari pundak Naya, berdehem sebentar lalu mengangguk samar.


“Khem... Bukan dia yang mengajari, namun, lebih tepat nya kita yang belajar bersama” jawab Rian jujur. Matanya memandang lurus ke belakang tubuh Naya seakan-akan melihat masa lalunya.


Naya mengangguk anggukan kepalanya santai. Mendengar Rian bercerita dan mengetahui jauh masa lalu suaminya meskipun Rian bercerita tidak ada saringan. Sangat ceplas-ceplos membuat nya sedikit sakit mendengar itu.


“Ah, belajar ya, apakah kamu juga belajar mempraktikkan cara reproduksi?”


“Naya! jaga bicara mu. Jangan kurang ajar, aku sudah bersabar dan menjawab semua pertanyaan mu. Aku bahkan rela mengungkit masa lalu yang ingin aku!” bentak Rian tiba tiba.


“Aku ini pulang kerja Naya, aku lelah, bukan nya di sambut dengan hangat malah di sambut dengan permasalahan yang seharusnya sudah selesai.”


Rian berdiri dari atas kasur, mengacak rambutnya lalu beranjak dari kamar itu untuk menenangkan emosi nya, entah kenapa jika dia membahas hal itu emosi seketika naik. Lebih baik dia pergi daripada membuat masalah semakin rumit dan panjang.


Naya terkejut, bertanya tanya kenapa suaminya tiba-tiba marah akan hal itu? apakah pikirkan liarnya itu ternyata benar?.


Naya terdiam. Apakah dia salah berbicara atau salah memberikan pertanyaan. Apa dia telah membesarkan besar kan masalah yang seharusnya sudah selesai tadi.


Ada benar nya perkataan suaminya itu, seharusnya dia menyambut Rian dengan hangat. Bukannya membesarkan besar kan masalah yang seharusnya sudah selesai tadi.


Suaminya itu lelah.


Ternyata, menikah bukanlah hal yang bisa di anggap remeh. Dia mengartikan menikah itu sangat sederhana seperti di dunia yang di ciptakan nya. Dunia novel.


Namun ternyata dia salah mengartikan. Realita tak seindah dunia khayalan.


Tapi, ada yang mengganjal di otak nya.

__ADS_1


Suaminya itu langsung marah karena dia bertanya tentang ***, apa jangan jangan pikirkan liar nya itu ternyata benar?.


Menyebutkan kata *** membuat Naya teringat sesuatu, sesuatu yang mampu meneteskan air matanya.


Naya menatap kosong bantal di bawah nya. Air matanya menetes seakan akan tengah melihat film yang menampilkan scene menyayat hati.





Rian duduk di teras rumah nya di temani oleh semilir angin malam yang sangat memabukkan.


Rian menghisap rokok nya, menghembuskan nya dengan pelan, meresapi asap yang menjalar di setiap rongga pernapasan nya.


Rasanya sangat tenang dan nyaman.


Selama 26 tahun hidup, dengan delapan tahun hidup di kota, Rian baru mengerti, bahwa menikah itu mudah, namun menjalani nya yang amat sangat susah. Apalagi jika menikah tanpa adanya perkenalan, hanya mendengar penilaian dari orang lain seperti dirinya.


Rian mencoba mencari akar permasalahan ini, permasalahan yang menjadi pembukaan masalah di rumah tangga nya.


Namun, setelah di pikir pikir oleh Rian, yang menjadi akar permasalahan adalah dirinya, dia yang membesarkan masalah ini.


Seharusnya dia tadi berita jujur dan dapat menahan emosi nya, menahan agar emosi nya tetap stabil dan permasalahan nya


Mungkin karena dirinya pulang bekerja dan lelah.


Rian menghela nafas nya, dia beranjak masuk untuk memecahkan permasalahan ini. Cukup menurunkan ego mungkin rumah tangga nya akan berjalan lebih ringan mungkin.


Rian membuka pintu kamar nya, namun hanya menampilkan kamar yang sudah rapi. Rian menutup kembali kamar nya, beralih ke kamar pertama, kamar yang menjadi ruang kerja mereka.


Namun, suara dari wajan dan penggorengan beradu dengan keras membuat Rian mengurungkan niat nya dan berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


Sesampainya di dapur, dia melihat istrinya sedang berkutat dengan wajan, Rian melangkah tampa menimbulkan suara sedikit pun.


“Kamu masak apa?” tanya Rian santai, seakan-akan tidak ada pertengkaran di antara mereka. Dia memeluk Naya dari belakang.


Naya tersentak kecil, tangannya kirinya reflek memegang tangan Rian yang melingkar di perut nua. Setelah mandi dan keramas, otaknya jauh lebih plong menerima dan membuat keputusan dari hasil pembicaraan nya tadi, ternyata ego keduanya masih sangat tinggi. Dan itu yang membuat semuanya lebih rumit.


“Mie goreng,” ucap Naya sama santai nya, dia tidak akan membahas nya kali ini.


“Jangan kebanyakan makan mie Nay” peringat Rian melepaskan pelukan nya. Dia beralih untuk mengambil sebuah karet bungkus yang berada di meja makan nya.


“Kenapa memang nya? takut aku bertambah gendut?” tanya Naya terkekeh kecil.


“Jangan mulai Nay, aku hanya memperingatkan mu, mie itu tidak sehat, bisa mengakibatkan terkena berbagai penyakit seperti permasalahan dalam pencernaan, bahkan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan rusaknya pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung.” jelas Rian sangat rinci.


“Wah, penjelasan mu sangat rinci, apakah kamu dulu waktu kuliah mengambil jurusan ilmu kedokteran?”


“Tidak, aku pernah melihat artikel yang menjelaskan itu, dan aku tengah menyampaikan kepada mu sekarang” Rian mengumpulkan rambut Naya, lalu mengikat rambut hitam itu dengan karet yang dia ambilnya tadi.


“Ingatan mu cukup kuat” puji Naya mematikan kompor nya, dia mengambil piring lalu memindahkan mie itu di atasnya.


“Apakah sudah?” tanya Rian yang diangguk oleh Naya.


“Sudah, ayo duduk, dan ini makanlah, maaf aku tadi ketiduran dan demi menghemat waktu jadi aku membuat mie” ucap Naya meletakkan piring yang berisi mie di tasnya di depan Rian.


“Tidak masalah, ayo makan, nanti dingin”


Naya duduk, kemudian memakan mienya.


Selama makan, sepasang suami istri itu tidak berbicara karena adab makan itu tidak berbicara.


Setelah makan malam nya yang terlambat, mereka berdua kembali ke kamar, menonton serial televisi dengan duduk duduk santai di ranjang nya.


“Maafkan aku” ucap Naya memecah keheningan yang terjadi.

__ADS_1


“Maaf karena apa?”


“Soal tadi, aku merasa jika aku yang membesar-besarkan permasalahan yang seharusnya sudah selesai dan seharusnya aku menyambut mu ketika pulang dari kantor.”


__ADS_2