Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Duduk


__ADS_3

Dan disini lah mereka, di ruang tamu keluarga Rian dan Naya. Dengan Naya dan Rian yang tengah duduk bersama dan melihat perdebatan antara kedua wanita yang saling menatap penuh kebencian.


"Jangan dekat dekat dengan ku penggoda!" seru Vita berpindah tempat duduk.


Raya memutar bola matanya, jika dia tidak di paksa oleh Naya dia tidak akan keluar dari kamar nya, dia masih memikirkan, apakah benar Rian itu kere.


"Aku tidak mencari masalah dengan mu lalat!" balas Raya sinis, matanya mengedar, dan melihat seorang pria yang tak di kenali nya tengah duduk memperhatikan nya.


Rasa percaya diri tumbuh di hati Raya, pikiran nakalnya sudah berkeliaran, jika di lihat dari pakaian yang di pakai oleh pria itu, pria itu bukanlah seorang pria kere.


Raya tersenyum, dia duduk dengan gerakan sensual yang membuat amarah Vita memuncak entah karena apa.


Amarah Vita memuncak setiap kali dirinya melihat Raya yang sok.


"Memang, dasarnya penggoda tetaplah penggoda!" ujar Vita sangat sinis, Raya menoleh, dia menatap tajam penuh emosi ke arah Vita.


"Kau!!—"


"Sudahlah, aku hanya ingin memberikan hadiah ulangtahun istriku, kenapa kalian ribut sekali, jika ingin ribut lebih baik keluar, pintu keluar rumah ku tidak pernah berubah" sela Rian sebelum pertengkaran kembali di mulai.


Mereka berdua diam mendengar suara datar dari seorang Rian, sebelum nya Rian hanya bersikap biasa saja, sangat santai dan tenang.

__ADS_1


Pria itu tertawa kecil. "Baiklah, baiklah, apakah kamu memiliki dua istri Rian?" tanya pria itu terkekeh kecil. Pria itu melirik kedua wanita yang berada di samping Rian dan berada di depan Rian.


Para wanita yang berada di sama tentu terkejut akan hal itu, tak terkecuali Raya yang sudah mengatakan "Sebentar lagi dia akan menjadi suamiku" di dalam hatinya.


"Jangan sembarangan kalau berbicara" peringat Rian.


"Baiklah, sebelumnya, perkenalkan nama saya Ricard—"


"Jangan berasa basi Chard.."


pria bernama Ricard itu mengangguk. "Baiklah aku datang ke sini untuk memberikan sebuah kabar bahwa produk yang sudah aku teliti dan sudah aku daftarkan ke pemerintah sudah mendapatkan izin dan bulan depan sudah bisa di launching!" seru Ricard dengan senyum yang lebar. Membuat mata pria itu menyipit.


Krik..


Krik..


Semuanya diam, tak ada yang mengerti tak terkecuali Naya.


Ricard meredupkan senyum nya, melihat satu persatu orang yang berada di ruang tamu itu dengan kecewa, dia menatap Rian dengan sendu.


"Seperti orang gila saja" ujar Vita membuat Rian menghela nafas nya.

__ADS_1


"Kau boleh pergi Ricard, biar aku sendiri yang akan mengatakan pada istriku, sekalian tolong, bawa kedua wanita itu" ucap Rian melirik ke arah Raya dan Vita.


"Loh, aku, kenapa harus aku—"


"Aku akan pergi" sela Vita berdiri, dia tahu bahwa Rian membutuhkan ruang berbicara dengan istrinya.


"Aku juga" ucap Raya, dia akan pergi ke kampus sebentar lagi.


"Baiklah, aku akan pergi" final Ricard beranjak dari hadapan sepasang suami istri itu.


Naya diam, dia tidak mengerti apa yang dia lakukan sekarang.


Naya menoleh ke arah Rian. "Ada apa Mon?" tanya nya polos.


Rian menghela nafas nya, dia merogoh kantung celana nya dan mengeluarkan wadah kecil berwarna merah.


"Apa itu?"


Rian diam, dia membuka wadah kecil itu dan terlihat benda berbentuk bulat yang memiliki lobang.


Dan benda itu adalah sebuah cincin. Naya terkejut, tangan nya Rian tarik, lalu Rian memasangkan cincin itu di jari manis nya.

__ADS_1


Setelah memasangkan cincin itu di jari manis nya, Rian mengecup jari jemari itu. "Selamat ulangtahun sayang... " bisik Rian mengecup bibir Naya.


Air mata Naya sudah tidak dapat di bendung lagi "Terimakasih..."


__ADS_2