
"Kenapa kamu menampar ku?" tanya Raya meringis sambil memegangi pipi kanannya yang memerah akibat tamparan dari Rian.
Bukan hanya pipinya yang sakit, namun hatinya langsung merasakan sakit yang entah karena apa.
"Kau masih bertanya ha?!" pekik Rian dengan wajah memerah menahan marah. Siapa yang tidak marah, semalaman suntuk begadang untuk menyelesaikan tugas dari atasnya malah dikacaukan oleh tumpahan kopi dari Naya.
"Aku tidak tahu apa salah ku Mon, kamu tiba tiba menampar ku" jawab Naya yang memang tidak tahu di mana letak kesalahan nya.
Rian meraup wajah nya kasar. "Lihat!" bentak Rian menunjuk tumpukan berkas yang berada di atas meja
Naya melihat ke arah yang di tunjuk oleh suaminya. Dan begitu terkejut nya tumpukan berkas itu sudah ketumpahan kopi dari gelas yang dia sajikan tadi pagi.
"Tapi bukan aku yang—"
Plak..
"Mengaku saja kau si4lan!" bentak Rian, tangannya kembali melayang ke pipi istrinya.
__ADS_1
Naya sangat terkejut akan bentakan dan tamparan dari tangan Rian. Selama sembilan bulan usia pernikahan mereka, baru kali ini Naya melihat Rian marah.
Dan marahnya Rian ternyata juga memakai tangannya.
"Aku tidak meletakkan cangkir—" Naya mencoba mengelak, Naya tidak merasa bersalah.
"Masih kau mengelak hah!" bentak Rian memegang lengan Naya, menyeretnya kasar dan mendudukkannya keras di kursi milik Rian.
"Salin semua kata dan kalimat yang berada di kertas itu, aku memberi waktu untuk mu selama sepuluh menit!" perintah Rian membuat Naya menahan nafasnya.
Dia tidak akan menangis, karena sebelum menikah dengan Rian dirinya selalu di perlakukan seperti ini, dan dulu dia berharap bahwa suaminya tidak memiliki temperamen yang sama seperti Wifqi. Dan terkabul selam sembilan bulan terakhir, entah bagaimana besok dan seterusnya dirinya tidak tahu itu.
Naya memutar otak nya, tidak mungkin jika dia mengetik lima belas lembaran itu dalam waktu sepuluh menit.
Naya terus memutar otak nya.
Sementara Rian sudah pergi ke depan halaman depan nya. Halaman yang kosong dan indah. Dia mencoba menenangkan pikiran dan emosi yang menguasai dirinya.
__ADS_1
Naya dan Vita melakukan olahraga di halaman belakang sesuai dengan permintaan dari Rian.
Naya mengambil handphone nya, kemudian dia menghubungkan handphone itu dengan laptop nya melalui sambungan bluetooth.
Setelah terhubung, dia memfoto satu persatu berkas itu. Dan men-scan, lalu mengcopy nya.
Hingga tujuh menit berlalu, dia sudah menyelesaikan semuanya, "Untung ada ata printer di sini" ujar Naya mengusap keringat yang keluar karena rasa gugup dan kagetnya.
Naya mengingat sesuatu, tak mungkin kan jika Rian mencetak tidak ada salinan di komputer nya? Tapi kenapa Rian marah seolah olah tidak ada salinan itu? dan siapa juga yang meletakkan kopi itu di atas ruang kerja? perasaan Naya dia membuat kopi dan meletakkan nya di atas meja makan.
Entahlah, mungkin kakak yang melakukan itu, tapi, ini masih pagi kakaknya tidak mungkin bangun di jam begini.
Mengingat Rian, entah kenapa rasa sakit di hatinya kembali menguap, sedari tadi dia tidak merasakan apa-apa, kosong. Dan sekarang dia merasakan rasa sakit tamparan dan hinaan yang di lontarkan untuk nya.
Raya mengambil sebuah kertas dan pen di atas meja nya, dia menuliskan sesuatu, meletakkan nya di atas tumpukan berkas yang baru dia cetak dan pergi ke halaman belakang dengan air mata yang mulai luruh.
"Kenapa menangis? bukannya sudah terbiasa ya?" ucap Naya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
****
Mau minta komennya boleh???????????