Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Menghiraukan.


__ADS_3

Rian melihat jam yang berada di lengan kanan nya, sudah sepuluh menit dan dia harus pergi ke kantor dan menyerahkan berkas yang berisi tentang data orang yang masuk dan keluar dari perusahaan di tempat nya bekerja.


Setelah merenung selama sepuluh menit, pikirannya kembali terisi, sebelum nya, dia hanya mengikuti emosi sesaat nya. Dan sekarang otaknya sudah bisa berpikir jernih dan memproses semua kejadian.


Rian mengira ngira, tidak mungkin Naya meletakkan kopi itu di atas meja meja kerja nya, setahu dirinya, kebiasaan Naya membuat kopi dan meletakkan nya di atas meja dapur.


Dan ya, Rian baru ingat bahwa di PC nya, dia menyimpan salinan data yang kemarin dia ketik.


Rasa sesal itu mulai menyeruak di dalam hati Rian, dia merasa bersalah dan sangat amat menyesal.


Rian membuka pintu ruang kerja nya. Kosong. Tidak ada istrinya, berarti istrinya itu sudah menyelesaikan tugas paksaan dari nya.


Dengan langkah lebar nya, Rian melangkah untuk melihat berkas yang sudah di sampul oleh Naya.


Di atas berkas itu ada sebuah kertas, Rian mengambil kertas itu dan membaca nya.


Bukan aku yang menaruh kopi di atas meja ruang kerja mu, memang benar, aku yang membuat nya, tapi aku meletakkan nya di atas meja dapur, bukan meja ruang kerja mu. Dan aku sudah menyelesaikan berkas mu, tenang, aku tidak menyalin file yang berada di PC mu, aku mengerjakan nya murni. Kamu marah seolah-olah berkas kamu tidak bisa di salin.


Jantung Rian berdetak semakin kencang ketika membaca surat yang di tuliskan oleh istrinya. Dia merasa bersalah tidak mendengarkan apa yang hendak di katakan oleh Naya.


Dan tangannya?.

__ADS_1


Rian melihat kedua telapak tangannya, dia sudah menampar pipi Naya dengan telapak tangan itu.


Rian segera mengambil berkas yang yang sudah di jilid rapi oleh Naya, memasukkan nya kedalam tas jinjing dan melangkah lebar ke arah halaman belakang rumah nya. Tempat di mana Naya melakukan program diet nya.


Rian melirik sekilas jam yang berada di lengannya, masih kurang lima belas menit untuk rapat itu, dia akan menggunakan waktunya sebaik mungkin.


Rian keluar dari rumah nya, dia akan menemui Naya dan meminta maaf karena emosinya yang meluap-luap tadi pagi.


"Naya, buka Naya!" ujar Rian ketika dirinya tahu gerbang yang menjadi akses masuk nya ke halaman belakang di tutup oleh Naya.


Di perumahan ini, memang di didesain dengan pagar tembok dan pagar besi di sekeliling rumah setiap anggota.


Jika ada maling yang keluar dari rumah pencuri dari pintu belakang dan pemilik rumah mengancing gerbang tengah, maka maling itu akan terjebak. Tidak akan bisa keluar karena dari halaman belakang tidak ada jalan keluar kecuali pintu belakang, dan gerbang tengah.


Rian melihat Naya masih fokus dengan gerakan olahraga raganya yang di pandu oleh Vita.


"Naya!! buka!!" pekik Rian lalu menghela nafas nya. Tidak mungkin jika Naya tidak mendengar teriakannya. Pasti Naya menghiraukan nya sekarang.


Rian melihat jam nya, waktu nya tinggal sebelas menit, dia menghiraukan Naya dan berlari menuju motor matic nya. Menge-gas nya dengan kecepatan yang tinggi.


Rian akan meminta maaf pada Naya nanti

__ADS_1


"Kamu harus yakin Naya!" ujar Vita menyemangati Naya agar tetap yakin untuk menghiraukan Rian selama beberapa hari ke depan. Tujuannya hanya supaya Rian menyesali perbuatannya dan tidak akan main tangan.


"Tapi aku takut durhaka Vita" keluh Naya sambil menangis terisak-isak, dia melihat Rian tadi, dia ingin merespon tapi hati nya masih sakit akan sikap Rian tadi.


"Halah, kamu tidak durhaka jika menghiraukan nya sesekali" jawab Vita dengan enteng nya.


"Kata siapa?" tanya Naya dengan polosnya dia sedikit percaya dengan bualan dari mulut Vita.


"Kata ku lah"


***


Minta komen nya ....


Kenapa saya selalu minta komen dari para pembaca?


Karena, jika kalian mengomentari karya ini, insyaallah karya ini akan semakin banyak yang membaca nya...


Terimakasih jika yang sudah komen dan memberi dukungan untuk saya...


Wassalamu'alaikum.

__ADS_1


__ADS_2