Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Rian.


__ADS_3

Dengan langkah lebar nan menahan emosi yang sudah berada di ubun ubun, Raya membuka pintu rumah Naya dengan Ziko yang berada di belakang nya.


Ziko berjalan dengan tatapan datar nya, dia mengamati dengan mata tajam nya seluruh ruangan rumah Naya. Awalnya Ziko hanya ingin menghampiri kekasihnya, namun, ketika dia ingin masuk ke dalam lift, dia bertemu dengan Raya dan berakhir di sini.


Tok..Tok...Tok...


"Rian!!" panggil Raya mengetok pintu kamar Rian, dia yakin jika Rian berada di dalam kamar nya. Kamar yang masih meninggalkan noda darah milik Naya yang berceceran.


Ceklek..


"Kemana adik si4lan mu itu?" tanya Rian membuat tangan Raya langsung mendarat ke pipi Rian.


plak..


Emosi yang sudah padam tadi mulai kembali merasuki dirinya, dia mengangkat tangannya dan mengarahkan nya pada Raya namun sebuah tangan besar mencegah pergerakan tangannya.


"Aku tahu kau bukan pecundang kawan, pria tidak pernah memukul wanita kecuali di atas ranjang!" ujar Ziko menyentak tangan Rian.


Rian menahan nafasnya. Dia menatap kedua pasangan di di depannya. "Kenapa? kau ingin apa?" tanya Rian melihat Raya.


"Dari mana saja kau?" tanya Raya membuat Rian terkekeh, ingatkan ke Raya bahwa di belakang nya ada seorang pria yang menjadi kekasih nya, tapi kenapa masih bertanya kemana dia pergi? huh j4lanh tak tahu diri.


"Apakah kamu lupa jika di belakang mu ada kekasih mu? dan kau bro, apa kau tidak mempersalahkan wanita mu bertanya dari mana aku?" tanya Rian tersenyum miring seakan akan menghina Raya.

__ADS_1


Ziko diam, biarkan waktu yang menjawab semua perkataan Rian untuk saat ini, di tidak akan mengacaukan kemarahan Raya, lagipula, dia terlalu malas untuk menjawab perkataan bodoh dari Rian.


"Kau!!" ucap Raya tertahan. Dia menghela nafasnya, Raya masih ingat akan datang nya dia kesini.


"Kenapa?" tanya Rian tertawa kecil.


"Kau apakan adik ku ha?" tanya Raya membuat Rian tertawa.


"Ah j4lanh itu rupanya" jawab Rian di tengah tengah tawanya.


Raya mengepalkan kedua tangannya. "Jawab bad jingan!" pekik Raya marah, sungguh demi apapun dia sudah tidak bisa menahan amarahnya.


"Santai dong, aku akan menjawab pertanyaan mu, tapi bagaimana jika kita duduk sebentar?" tanya Rian menawarkan.


"Ah, kau tidak sabaran ya," ucap Rian menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Jawab saja!"


Rian memberhentikan kekehaan kecilnya, dia akan serius kali ini. Dan mencari semua kebenaran yang terasa sangat abu di matanya.


"Apa kau tahu bahwa dia sudah tidak perawan? huh aku kira dia wanita baik baik ternyata tidak dia sama j4lanh nya seperti dirimu—"


Plak..

__ADS_1


"Apa kau tahu dia korban pelecehan ha?!" tanya Raya membentak.


Rian diam. Begitu juga dengan Ziko yang ingin melihat penyesalan Rian.


"Apa kau tahu umur berapa saat dia di lecehkan ha?" bentak Raya langsung pada tujuannya ke rumah ini, mengatakan kebenaran.


Raya terkekeh kecil "Heh, Empat belas, dia di lecehkan saat dia berumur empat belas, dan kau dengan GAMPANG NYA MENGATAKAN BAHWA NAYA ADALAH SEORANG ****** HAH!, DAN APA KAU TAHU NODA MERAH YANG BERADA DI KAMAR MU ITU NODA APA?"


"NODA DARAH, TRAUMA NAYA KEMBALI DAN ITU GARA GARA KAU! KAU PENYEBAB SEMUANYA, JIKA KAU BERTANYA BAIK BAIK DAN MENERIMA NYA PASTI SEMUA INI TIDAK AKAN TERJADI!"


"PERAWAN? HUH? AKU TANYA, APA KAU MASIH PERJAKA? HA APA KAU MASIH PERJAKA?!" bentak Raya kembali menampar pipi Rian.


Plak, plak plak..


Nafas Raya tak teratur, dia memberhentikan tamparan ketika ponsel nya berdering.


Rian terdiam, dia tidak membalas lagi tamparan dari Raya, biarkan dia mendapatkan tamparan itu, dia pantas, dia salah paham, sekarang dia tahu kenapa Naya tidak perawan dan dia sangat menye—


"Apa! Naya meninggal—brukk...


Ziko dengan sigap menangkap tubuh Raya dan menggendong nya. "Penyesalan memang berada di akhir bro, dan rumah sakit Sriwijaya" ujar Ziko meninggalkan Rian dengan penyesalan nya.


****

__ADS_1


Komennn


__ADS_2