
Dengan tangis yang sangat kencang, Raya meronta-ronta ketika jasad Naya di kebumikan, Raya mencoba melepaskan diri dari pelukan Ziko.
"Kamu harus sabar, dia sudah mati" ujar Ziko datar, dia memegang pinggang kecil Raya agar tidak terlepas lalu berlari dan mengacaukan pemakaman itu.
Raya berbalik badan, dia memeluk Rian dengan erat, dengan kedua tangan yang melingkar erat di pinggang lebar nya. "Hiks, semua gara gara pria biadab itu!" pekik Raya mencengkram kuat pinggang Ziko.
Ziko hanya diam, satu tangan nya memeluk pundak Raya dan tangan yang lainnya memegang payung hitam. Mata tajam nya melihat seorang pria yang tengah berdiri sambil menatap kosong jasad yang di timpa oleh tanah.
Sementara pria bernama Rian itu menatap kosong ke arah liang lahat yang hampir sepenuhnya di tutup oleh tanah. Di otaknya, ada banyak penyesalan yang amat begitu mendalam.
Mau bagaimana pun, wanita yang sudah kurus tanpa program diet nya adalah wanita yang sudah membantu usahanya, memberikan semua tabungan pribadi nya hanya untuk membantu usahanya.
Wanita yang rela begadang hanya untuk biaya pengobatan sang anak.
Flashback...
Dengan langkah lebarnya, Rian menaiki lift ke lantai enam bangunan rumah sakit itu, setelah bertanya pada resepsionis rumah sakit itu, Rian menemukan ruangan istrinya.
Lantai enam, ruangan nomor 5.
__ADS_1
Rian melihat seorang dokter keluar dari ruangan nomor lima itu. "Dok, apa benar ini ruangan Rerinaya?" tanya Rian membuat dokter itu mengangguk.
"Benar, kalau boleh tau apa anda salah satu keluarga pasien?" tanya dokter itu membuat Rian langsung mengangguk.
"Benar, saya suaminya dok, bagaimana kondisi istri saya Dok?" tanya Rian tersirat kekhawatiran di matanya.
"Anda suami non Naya?" tanya dokter pria itu sambil menekuk kedua alis nya.
Selama dua Minggu lebih merawat Naya, dokter itu tidak pernah yang namanya melihat pria yang mengaku sebagai suami di depannya ini menyengguk, atau sekedar datang.
"Anda tidak berbohong kan? selama dua Minggu lebih saya merawat non Naya, tidak pernah sekalipun anda menyengguk nya" jawab dokter itu membuat Rian mengepalkan tangannya.
"Saya sedang melakukan perjalanan ke luar negri dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Rian membuat dokter itu mengangguk paham,
"Mari kita bicarakan di ruangan saya sebentar, jenazah nona Naya masih di sterilkan" jawab dokter itu berlalu pergi.
Rian tidak salah mendengar kan, katakan padanya, bahwa dia salah mendengar, Naya masih belum meninggal, dia masih hidup!.
Rian melangkah mengikuti dokter itu keruangan nya, tak jauh dari kamar Naya, jaraknya hanya beberapa ruangan.
__ADS_1
"Silahkan duduk tuan" ujar dokter itu mempersilahkan Rian duduk.
Rian duduk, "Jadi, tolong beritahu saya kondisi istri saya dok" ujar Rian langsung pada point nya. Dia hanya ingin penjelasan dan menguak semua kebenarannya.
"Seperti yang saya katakan tadi, istri anda telah tiada—"
"Kenapa bisa" tanya Naya tidak sabaran sampai memotong ucapan dokter di depannya. Dan Rian berharap apa yang di katakan oleh dokter itu tidaklah benar, dia masih ingin membicarakan semua yang telah terjadi pada istrinya.
Dokter pria itu menghela nafasnya. "Tolong jangan memotong ucapan saya tuan".
Rian diam.
"Jadi nona Naya meninggal karena tusukan pada jantung nya,"
"Siapa yang berani menusuknya dok?"
"Dia menusuk dirinya sendiri"
***
__ADS_1
Komenn