Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Lalat.


__ADS_3

Perlahan, Raya membuka satu persatu kancing baju milik Naya, mulai dari atas hingga ke bawah. Kali ini, Raya akan mengelap tubuh Naya dengan menggunakan air hangat.


Beberapa hari berlalu, kondisi Naya bukannya tambah membaik malah memburuk seiring waktu. Emosi Naya naik turun. Sangat tidak stabil. Terkadang dia marah marah tidak jelas, setelah marah marah Naya tiba tiba terdiam, menatap semuanya kosong bak tidak ada kehidupan di dalamnya. Selanjutnya Naya tiba tiba saja menangis. Tak sampai di situ, Naya juga tiba tiba berdiri dan berlari lari tak tentu arah.


Dan hal itu yang membuat Raya semakin merasa bersalah. Tapi Raya sedikit bersyukur karena, Naya sudah tidak pernah melukai dirinya sendiri, dia sekarang lebih suka meracau tidak jelas.


Tubuh Naya sekarang mengurus dengan sendirinya, tubuh Naya kelihatan seperti dirinya sekarang, tiga belas hari, Naya kehilangan berat badannya sebanyak dua puluh kilo.


Sangat drastis, kata dokter, pasien yang memiliki kondisi seperti Naya akan kehilangan banyak berat badannya. Dan selama Naya di rawat, Raya tidak pernah pulang, dia menetap di rumah sakit, soal kebutuhan nya, Ziko akan memenuhi.


Ikatan di kedua kaki dan tangan Naya sudah di lepas tiga hari yang lalu. Dan hari Ini, Naya tengah duduk dengan tatapan kosong nya, badan nya tengah di bersihkan dengan sang kakak.


"Naya tau bakpao gak?" tanya Raya mencoba berbicara dengan Naya, dengan tangan yang masih membersihkan punggung Naya, selama tiga belas hari Raya mencoba untuk mengajak Raya berbicara namun nihil, tidak ada satupun perkataan Raya yang membuat Naya menjawab, bahkan sekedar dengan isyarat.

__ADS_1


Raya menghela nafasnya, Raya kembali memikirkan apa kata dokter psikologi untuk yang terakhir kalinya, Naya membutuhkan suaminya dalam proses kesembuhan nya.


Raya juga berpikiran seperti itu, namun yang menjadi titik masalahnya adalah, Raya tidak pernah mendapatkan kabar dari tetangga Naya bahwa Rian pulang.


Rian tidak pulang selama dua Minggu penuh. Dan hal itu membuat Raya geram, ingatkan dia untuk menghajar Rian ketika pulang.


Yang laki-laki itu katakan bahwa yang datang ke rumah Naya hanya Vita, setiap pagi, duduk di teras rumah sambil tiduran, dan menjelang siang Vita pulang dan begitu seterusnya.


"Kalau begitu Naya tau hewan kucing ga?" tanya Raya dan ajaibnya Naya langsung menoleh ke arahnya, menatap nya dengan tatapan sedikit penasaran.


"Kucing?" tanya Naya mengulang pertanyaan Raya tadi.


Raya memberhentikan seka an itu, dengar Raya tidak salah mendengar kan nya kan?.

__ADS_1


Raya mengangguk antusias. "Naya tahu kucing?" tanya Raya tersenyum lebar. Dia mencelupkan kain yang berada di tangannya ke dalam air hangat di atas nakas.


Naya mengangguk, lalu dia kembali menatap kosong ke arah depan.


"Bagaimana jika kita membeli kucing untuk Naya?" tanya Raya, namun, setelah beberapa detik tidak ada jawaban membuat senyum Raya perlahan pudar.


"Ddddrrrrrddddd nyiettttt nyiettttt..." Raya mencari sumber suara itu, matanya menyipit dan melihat seekor lalat yang tengah terbang mengelilingi Naya.


Raya berpikir, kenapa ada lalat di area rumah sakit? Raya meletakkan kain tadi ke dalam mangkuk.


Lalu, dia mengusir lalat itu dengan kedua tangannya. Lalat itu pergi. Raya hendak mengambil kain kembali namun suara panggilan dari ponselnya dan nama yang tertera di atas nya membuat Raya lebih memilih ponsel itu untuk di gapainya.


"Halo mbak!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kak Rian pulang...!"


__ADS_2