Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
MAKANN.


__ADS_3

"Naya, ayo makan dulu" ujar Raya menyodorkan sendok yang berisi makanan.


Naya hanya diam, matanya menatap kosong kearah depan.


Tiga hari berlalu, setelah Naya masuk ke ruangan IGD waktu itu, Raya merasakan perubahan Naya yang sangat signifikan, sebelumnya, jika Raya memanggil Naya pasti akan menoleh, namun, sekarang tidak, Naya sama sekali tidak menoleh barang sedikit pun.


"Naya, ayo makan" ujar Raya menyodorkan sendok nya kembali, Naya menggeleng singkat, gelengan kepala seperti orang yang sedang depresi.


Raya menghela nafas nya, dia meletakkan mangkuk yang berisi bubur itu ke atas nakas samping ranjang rumah sakit itu.


Raya melihat Naya menatap kosong, sangat kosong, seperti sembilan tahun silam.


Raya kembali menghela nafasnya, sampai saat ini dirinya masih belum mengerti apa penyebab trauma Naya kembali kambuh.


Dan setelah pengobatan Naya secara fisik selesai, dia akan mengajak Naya ke dokter psikologi untuk mengetahui kondisi psikis dari Naya.


Raya memutar otak nya agar Naya bisa makan, karena sedari kemarin Naya tidak makan. Naya hanya tidur, bangun, dan menatap kosong ke arah tembok. Naya tidak pernah mengeluarkan suaranya sejak tiga hari yang lalu.

__ADS_1


Raya mengambil ponsel nya, dia menekan nomor seseorang untuk datang ke sini. "Halo," ucap Raya.


"Ada apa?" suara pria terdengar dari sebrang.


"Datanglah ke sini, aku membutuhkanmu" jawab Raya kemudian langsung mematikan sambungan itu. Tak perlu memberitahu dirinya berada di mana, karena sang kekasih itu selalu tahu dirinya ada dimana, bersama siapa dan sedang apa.


Raya tidak mempersalahkan bahwa hidupnya seperti di stalker atau di untit oleh kekasihnya, pokok yang paling penting adalah uang di rekening nya tidak pernah habis. Dan Raya tahu bahwa kekasihnya itu bukan orang biasa.


Dan Raya juga tidak ingin mengetahui seperti apa Ziko yang sebenarnya, yang dia tahu adalah, Ziko bukanlah orang sembarangan, dia sangat berbahaya, sangat berkuasa dan sangat mengintimidasi.


Raya melihat Naya yang kini sudah beralih, tubuhnya berbaring dan menatap kosong ke arah atas langit bangunan itu. Entah apa yang sedang Naya lamun kan.


Satu panggilan tak terjawab hingga panggilan ketiga nomor pemilik nomor itu menerima panggilan telepon dari nya.


"Halo," ujar Raya mengawali pembicaraan itu.


"Halo, ada apa mbak?" tanya seorang laki-laki di seberang sana.

__ADS_1


"Apa dia belum pulang?" tanya Raya menggigit bibir nya, dia melihat ke arah Naya dan melihat nya dengan khawatir.


"Belum pulang mbak, sudah tiga hari kak Rian belum juga pulang" jawab laki-laki itu, laki-laki yang saat ini berbicara dengan Raya adalah laki laki pemilik rumah di depan rumah Naya.


Raya meminta tolong agar memberi tahu jika Rian sudah pulang ke rumah, Raya akan memberi tahu Rian bahwa Naya saat ini membutuhkan dia.


Trauma masa lalu Naya tidak gampang untuk di lupakan, dan di saat Naya melupakan, entah tiba-tiba trauma itu kembali.


"Baiklah, nanti kabari aku kalau dia pulang" ujar Raya mematikan panggilan telepon itu.


"Bagaimana? apa kau menyukai suara dari bajing an itu?" suara pria yang amat berat dan begitu mendominasi membuat Raya terkejut, dia berdiri dan langsung menghampiri kekasihnya.


"Eh, kamu sudah datang?" tanya Raya dengan kegugupan nya. Dia takut.


"Aku tidak suka mengulang pertanyaan ku Raya!"


"Dia tetangga Naya, aku menghubungi nya untuk bertanya Rian sudah pulang atau tidak —Mmmmppphhtt"

__ADS_1


***


__ADS_2