Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Menghindar


__ADS_3

"Halo Naya. How are you?" teriak seorang perempuan menggedor-gedor pintu rumah Naya dengan sangat keras.


Dor...


Dor...


Dor...


"Naya, how are you?" pekiknya sekali lagi. Sudah 10 menit dirinya berada di depan rumah Naya dengan segala perlengkapan untuk olahraga bagi pemula.


Mulai dari matras, lompat tali dan lain sebagai nya. Perempuan itu duduk bersandar di depan pintu rumah orang yang telah menyewa jasanya.


"Kemana perginya wanita yang menyewa jasaku? apa aku salah alamat" tanya wanita itu pada dirinya sendiri. Wanita itu mengeluarkan ponselnya, membuka dan melihat foto yang dikirim oleh atasannya. Foto yang menunjukkan sebuah kartu tanda pengenal dan alamat nya.


"Di sini tertulis nama Andrian, tapi kata bos yang menyewa jasanya adalah seorang perempuan ini, apa mungkin kakak nya?, apa mungkin suami nya?" gumam perempuan itu pada dirinya sendiri.


"Apa benar ini adalah Alamat rumahnya, jalan.... rumah nomor dua?" tanya wanita itu mendongak, melihat angka yang besar ada di tembok rumah Naya.


"Benar, tapi ke mana perginya— "


Duk..


"Aduh, baji ngan!" pekik perempuan itu ketika punggungnya menyentuh lantai rumah Naya.


"Siapa pagi-pagi buta seperti ini berteriak seperti orang gila?!" suara pria terdengar oleh panca pendengaran wanita itu.


Wanita itu berdiri, menepuk-nepuk bokongnya sebentar lalu menatap sengit pria di depannya.


"Kamu siapa, apa kamu pria bernama Andrian yang berada di kartu nama ini?" tanya perempuan langsung pada ponit nya. Perempuan itu menunjukkan layar yang berisi foto kartu nama milik Rian.


Rian melihat itu sekilas, mengangguk, lalu pergi dari hadapan perempuan itu. Tanpa mengatakan apapun.


Perempuan itu memekik kesal. "Heh!" tapi ada kepuasan dari dalam diri wanita itu ketika mendapatkan anggukan dari pria bernama Rian itu.


Setidaknya dirinya tidak salah alamat rumah yang menjadi tujuannya.


"Semoga saja perempuan bernama Naya itu tidak seperti pria tadi. Sangat judes," ucap perempuan itu lirih. Perempuan itu kembali duduk dengan tangan yang menyangga dagunya. Menunggu seseorang yang bisa memberikan nya uang.


Rian membuka pintu kamar nya pelan, dan langsung melihat Naya dengan balutan baju olahraga yang sangat menggoda hasrat nya.

__ADS_1


Rian melihat Naya dari atas hingga kebawah dengan tatapan lapar nya. Naya yang di tatap seperti itu menunduk malu, guratan merah sudah tercetak jelas di pipinya.


Dengan celana training pendek dengan atasan yang hanya menutupi bagian payudara yang besar. Sehingga memperlihatkan perut Naya yang membuncit itu.


Rian mendekat dengan senyum manis yang terukir di bibir tebal nya. Rian rian terulur untuk mengusap pipi Naya yang sudah memerah.


"Kenapa ini memerah?" tanya Rian membuat Naya semakin tersipu malu.


"Pipi ku memerah karena kamu mengusap nya" jawabnya Naya sangat jujur.


Rian tersenyum, sekarang kedua tangan Rian sudah menangkap seluruh permukaan pipi Naya.


Rian menatap mata Naya dalam, kepalanya maju dengan perlahan, satu detik kemudian bibir mereka saling bertautan lama. Hanya bertautan.


Entah siapa yang memulai, kini, ruangan yang sunyi itu sudah tak lagi sunyi. Suara penuh kecupan dan decapan dari mulut mereka.


Naya memejamkan matanya, kedua tangannya sudah memegang kaos yang Rian kenakan.


Tangan Rian yang semula berada di pipi Naya sudah merambat turun hingga ke bukit kembar milik Naya.


Naya yang matanya terpejam langsung terbuka, dia mendorong dada Rian. Membuat ciuman mereka terlepas sepihak. Entah karena apa.


"Maaf-maaf Aku.. aku.. aku..." Naya beranjak, langsung keluar meninggalkan Rian yang menatap nya dengan mata penuh kekecewaan.


Rian masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kecewa dan berbagai pertanyaan yang bersarang di otak nya.


Kecewa karena dirinya ditolak, ketika hendak memeras bukit besar itu, dan salah satu pertanyaan kenapa istrinya itu menolak tangan nya.


Naya keluar dengan perasaan bersalah nya, dia mendapati seorang perempuan yang sedang tidur di atas matras dengan lengan yang di jadikan bantalan oleh Naya.


"Halo, apakah kamu orang yang akan menjadi pendamping program dietku?" tanya Naya berjongkok, dia menepuk pelan pipi perempuan yang tengah tidur meringkuk itu. Mencoba membangunkan, namun perempuan itu hanya memutar badannya membelakangi Naya.


Hal itu sukses membuat Naya duduk di samping perempuan yang sedang tertidur itu. Naya nampak termenung sambil menunggu pendamping nya itu terbangun. Entah apa yang tengah ia pikirkan sekarang.


Ceklek..


"Kamu kenapa di situ Naya!?" tanya Rian keluar dari dalam dengan rumah dengan setelan jasnya.


Naya yang sedang duduk langsung berdiri mendengar suara tegas dari suami nya itu. Dia tersenyum, "Aku sedang menunggunya untuk terbangun" jawab Naya menggeser sedikit badan nya agar Rian bisa melihat perempuan yang sedang tidur meringkuk itu.

__ADS_1


Rian melihat dengan jelas. "Sangat tidak profesional" ucapnya.


"Aku- aku minta maaf" ,ucap nanya menunduk sambil memainkan jari jemarinya.


Kening Rian mengkerut. "Minta maaf untuk apa?" tanya Rian. Tangan nya terulur untuk mengelus rambut istrinya. Rian sudah terbiasa mengelus rambut istrinya hingga perlakukan itu berubah menjadi kebiasaan.


"Maaf karena aku telah menolak ciumanmu tadi, aku-aku—" ucap Naya gugup, dirinya sudah tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi, karena, kilas kejadian itu kembali muncul dengan lancang nya.


"Sudah, jangan siksa kamu dengan bercerita yang menurut mu itu sangat privasi sekarang. Kamu bisa bercerita semuanya ketika kamu sudah siap" sahut Rian menyahuti Naya.


"Maaf, aku belum bisa sekarang" ujar Naya dengan perasaan penuh sesal.


"Tidak masalah. Jangan dipikirkan" Rian mencakup wajah bulat Naya dengan kedua telapak tangan nya, dia mengecup bibir Naya, namun kecupan itu tidak kunjung terlepas.


Kecupan itu lama kelamaan berubah menjadi sebuah ciuman yang begitu dalam.


Naya memegang pinggang kokoh Rian, dia memejamkan matanya, meresapi serangan dari bibir Rian untuk bibir nya.


"Aa.. Mataku..." pekikan cempreng itu mampu membuat adegan ciuman panas mereka yang terjadi di depan rumah mereka seketika terhenti.


Keduanya langsung melepaskan diri dan membuang muka nya ke segala tempat.


Rian yang pura pura mengancingkan kemeja yang berada di balik jas nya, sementara Naya yang mencoba mengatur nafasnya.


"Maaf, aku mengganggu ya.." cicit wanita itu pelan, dirinya merasa sangat bersalah karena telah mengganggu kegiatan panas yang seharusnya berlanjut hingga sekarang. Seperti nya lain kali dirinya akan diam dan melihat nya saja.


"Ah, seharusnya aku yang meminta maaf karena melakukan adegan yang membuat matamu ternodai" ucap Naya tersenyum canggung.


"Tidak—"


"Sayang, aku akan berangkat" ucap Rian memotong ucapan perempuan itu.


Naya mengangguk, dia mengambil tangan Rian dan mengecupnya sekilas.


"Hati hati"


"Kamu juga—"


Cup..

__ADS_1


"Aaaa.... "


__ADS_2