
Dengan rasa canggung yang menerpa mereka berdua, akhirnya Naya mencoba memutus kecanggungan ini dengan membuka topik obrolan terlebih dahulu.
"Halo," sapa Naya canggung. Dia malu karena aksi panas mereka di tonton oleh orang lain.
"Hai Naya!" seru perempuan yang berada di depan Naya dengan sangat riang.
Naya mengangguk singkat, "Mm.. Apa kamu yang akan menjadi pendamping program diet ku?" tanya Naya membuat wanita di depannya mengangguk cepat.
"Benar aku yang akan menjadi pendamping program diet mu" jawab nya.
"Mm- kita—" ucap Naya ragu.
"Jangan terlalu canggung terhadap ku, aku tidak akan menggigit mu!" ujar perempuan itu tersenyum lebar.
"Perkenalkan," ucap perempuan itu menyodorkan tangan nya ke arah Naya.
Naya yang melihat itu pun mengerutkan kening nya, dengan ragu ragu dirinya menerima uluran tangan dari perempuan di depannya.
"Nama ku Reyvita, panggil saja aku Vita. Aku adalah pendamping program diet mu mulai hari ini" sambung nya.
Naya mengangguk dan tersenyum canggung.
"Aku, Naya"
"Aku harap jika kamu menganggap ku sebagai teman, bukan sebagai pendamping program diet agar kita lebih leluasa"
*
*
*
Seorang perempuan tengah duduk di dalam sebuah restoran dengan saling perhadapan, tak lupa, tangan nya sudah berada di atas tangan besar milik seorang laki laki. Wanita itu mengelus sebentar punggung tangan itu lalu tersenyum.
"Dia membutuhkan mu," ucap nya.
"Baiklah, aku akan kembali" jawab pria itu setelah mempertimbangkan keputusan nya. Keputusan yang akan menjadi awal semua apa yang akan terjadi.
*
*
*
"Lelah?" tanya Vita duduk di atas matras nya dengan selonjoran. Melihat Naya sekilas lalu tersenyum.
Naya mengangguk dengan nafas yang ngos-ngosan. "Huh... Huh.. huh... Sangat lelah, apa kamu tidak merasakan nya?" tanya Naya mencoba mengatur nafasnya agar tetap seimbang.
"Tidak, aku sudah terbiasa dengan olahraga seperti ini" jawab Vita. Selama empat tahun memulai karier di di bidang kesehatan, dirinya sudah banyak orang yang melakukan program diet di bawah bimbingan nya. Jangka waktu program diet itu sendiri berkisar 6 sampai 12 bulan tergantung berat badan awal, jenis kelamin, dan kegiatannya sehari hari.
__ADS_1
"Kamu hebat, sudah berapa lama kamu menjalani profesi seperti ini?" tanya Naya yang nafasnya mulai kembali teratur.
"Empat tahun"
"Sudah lama ya, tapi omong-omong, waktu diet ku ini berapa bulan?" tanya Naya, dia tidak bisa membayangkan jika menjalani program diet bertahun tahun. Satu hari saja sudah lelah.
"Enam bulan mungkin tubuh kamu sudah menjadi sangat sexy" jawab Vita membuat Naya malu sendiri.
"Apa itu benar?" tanya Naya semangat.
"Benar, asal kamu mengikuti semua yang aku perintahkan"
*
*
*
Sore ini, Rian dan Naya tengah bersantai di halaman belakang rumah mereka dengan Rian yang sedang menyirami para bunga bunga yang bermekaran, sementara naya hanya duduk di atas bangku panjang rumah mereka.
"Bagaimana hari mu tadi? bukan kan tadi adalah hari pertama mu menjalani program diet?" tanya Rian menyirami bunga anggrek yang merambat itu.
Naya yang semula membaca novel nya kini menutup nya. "Sangat melelahkan, rasanya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan nya" jawab Naya seperti sedang mengeluh pada Rian.
"Kamu berhenti saja dari program diet itu, jika program itu membebani dirimu" ujar Rian memberi saran. Rian menyudahi acara siram menyiramnya.
Naya mencari posisi yang nyaman, dia menaruh novel dan kedua headphone milik Rian dan Naya.
"Aku ingin cantik Rian, dan syarat pertama menjadi seorang wanita cantik adalah berbadan kurus" jawab Naya mengatakan syarat cantik yang berada di negara ini.
Memang nyatanya, seseorang jika ingin tampil cantik, harus memiliki syarat; hidung mancung, tubuh langsing dan kulit putih serta halus bak porselen.
"Kata siapa?" tanya Rian. Dia tidak pernah mengatakan itu.
"Standar di negara ini memang begitu, tidak bisa kamu mengelak nya Rian" ucap Naya mengelus dada Rian.
"Baiklah, memang standar cantik di negara ini memang begitu, tapi tidak untuk ku, semuanya cantik, dengan segala sesuatu yang dimiliki nya" jawab Rian membuat Naya terdiam. Tak bisa berkata kata lagi.
"Tapi, seperti nya ada yang janggal dalam percakapan kita" ujar Rian mencerna semua percakapan dari obrolan mereka.
"Apa yang janggal?" tanya Naya.
"Kamu memanggilku apa?" tanya Rian membuat Naya terdiam, dia masih memanggil Rian dengan sebutan nama. Tanpa embel embel apapun. Tapi Naya rasa jika umur nya dan Rian sama.
"Rian" jawab Naya mengecilkan suaranya. Dia takut jika di anggap tidak sopan oleh sang suami.
"Bagus, kamu tidak hormat pada suami kamu ya!" ucap Rian dengan nada bercanda namun seperti tidak sedang bercanda.
"Aku- aku— Maaf, aku pikir kita usia sama, maka dari itu aku memanggil mu dengan sebutan nama" jawab Naya sedikit jujur. Karena pada dasar nya dia tidak tahu harus memanggil Rian dengan sebutan apa.
__ADS_1
"Aku lebih tua satu tahun di atas mu, kamu umur 24 kan?" tanya Rian.
"Ya... Dan aku harus memanggilmu apa?"
"Mas, aku ingin seperti suami di luaran sana yang di panggil Mas" jawab Rian cepat.
"Ah baiklah... Mas—"
Drt...
Drt....
Drt....
Lagi, lagi, dan lagi, ucapan Naya harus berhenti saat ada seseorang yang menelpon dirinya.
Naya melihat kedua handphone yang berada di sebelahnya, memegang satu persatu agar dirinta bisa mengetahui handphone siapa yang tengah bergetar.
Dan ternyata handphone nya sendiri, Naya mengambilnya, dia kembali bersandar pada bahu Rian dan melihat nama yang tertera di di layar handphone nya.
"Ayah Wifqi" ucap Rian melihat layar yang menampilkan nama dari mertuanya itu.
"Kenapa kamu tidak mengangkat nya?" tanya Rian ketika melihat Naya tidak melakukan apapun pada layar handphone nya. Dia hanya melihat nya saja.
"Aku takut" jawab Naya yang masih melihat layar handphone nya yang sudah mati karena berakhir nya panggilan dari Ayah Wifqi.
Dftr...
Drt....
Drt....
"Takut kenapa? angkat saja" ucap Rian melirik layar ponsel yang kembali hidup dan menampilkan nama Wifqi.
Naya menghela nafas nya. Naya mengangguk dia menekan tombol berwarna hijau dan langsung terdengar suara pekikan dari sebrang yang berasal dari suara besar Wifqi.
Rian mengode Naya agar menyalakan speaker di handphone nya.
Naya yang mengetahui makna kode itu langsung menekan tombol speaker.
"DASAR ANAK KURANG AJAR! KENAPA PANGGILAN TELEPON KU BARU KAU ANGKAT SETELAH LIMA KALI AKU MENELEPON MU ANAK SI ALA AN!!?" suara dengan nada tinggi itu terdengar jelas oleh ke empat telinga mereka.
**
*
*
Like, komen, subscribe, vote..
__ADS_1