Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Sebuah penantian sepanjang malam.


__ADS_3

"Nay-Naya, bangun, kenapa kau tidur di luar, seperti orang yang tidak punya rumah saja!" ucap Raya sambil menggoyang-goyangkan pundak Naya yang sudah mengecil itu.


Dapat Raya lihat, bahwa badan Naya sudah mengecil dari awal pernikahan nya.


Mata hari sudah sedikit muncul di ufuk timur sana.


Naya terbangun dengan badan yang sedikit menggigil, dia mendudukkan tubuhnya dan melihat kakak nya itu sudah siap dengan jaket dan legging hitam nya.


"Jam berapa ini kak?" tanya Naya melihat sekeliling.


"Setengah enam, kenapa kau tidur di luar, suami mu tidak pulang?" tanya Raya mengikat tali sepatu nya.


Naya diam, benar, dia semalam tidur di luar karena menunggu suaminya itu pulang sampai ketiduran, dan ketika dia terbangun malah tidak ada siapapun.


Berarti suaminya itu belum jug pulang. Simpul Naya.


"Kakak mau kemana?" tanya Naya mengalihkan pertanyaan Raya.


"Mau joging" jawab nya, dia hari ini tidak ke kampus.


"Sama siapa kak?"


"Sama—"

__ADS_1


"Raya!!" pekik seorang pria membuat atensi kedua perempuan bersaudara itu teralihkan pada pria yang sedang melambaikan tangan nya pada Raya.


Raya tersenyum, "Aku mau joging bersama kekasih ku" jawab Raya berdiri lalu meninggalkan Naya sendirian.


Raya pikir, tidak ada gunanya menggoda Rian, selama empat bulan dia tinggal bersama dengan Rian dan Naya, Raya dapat melihat kehangatan rumah tangga mereka, Raya pikir juga Rian orang nya setia, jadi lebih baik dia mencari seorang pria yang lebih tampan dari Rian, dan tentunya lebih tajir.


Raya pun sekarang tidak pernah meminta uang pada Naya, karena dia sudah di gaji ketika live seminggu dua kali mempromosikan produk yang di rintis oleh suami Naya. Raya jug mencoba saran dari Vita untuk memiliki aku. media sosial pribadi, dan dalam kurun waktu selama dua bulan, Raya sudah mempunyai akun media sosial yang memiliki tiga ratus ribu pengikut.


Mengenai sumpahnya di masa lampau, Raya sudah meng- cansel nya.


Dan masalah kopi kemarin, dia hanya iseng.


Naya termenung melihat Raya tertawa dengan pria yang sangat asing di matanya, dia yakin bahwa pria itu adalah seorang mahasiswa sama seperti kakaknya.


"Dari mana saja Mon?" tanya Naya berdiri.


Rian melepas helm nya, "Dari.. em.. menginap di rumah Ricard, aku membahas masalah penambahan jumlah pembuatan untuk minggu depan, stok yang kita miliki tinggal dua puluh paket kan?" jawab Rian sekaligus member pertanyaan untuk Naya.


Rian turun dari motor nya.


Naya mengangguk. Alasan yang cukup logis.


"Kenapa tidak menghubungi ku? dan kenapa tidak mengangkat telepon ku?" tanya Naya membuat Rian sedikit gelagapan, seperti nya dia lupa untuk mengabari Naya.

__ADS_1


"Aku— Aku— Batrei ponsel ku habis, iya habis" jawab Rian mengambil ponsel yang berada di kantung jeans panjang nya. Menunjukkan kepada Naya bahwa ponselnya itu memang mati.


"Itu masih hidup, tinggal delapan persen dan ponsel mu mode hening" ucap Naya mengamati ponsel Rian yang hidup.


Rian terkejut, ia melihat ponsel nya dan memang benar, ponsel nya itu masih menyala.


"Kamu berbohong ya?" tanya Naya dengan raut yang tidak mengenakkan.


Rian menghela nafas nya, "Maaf, aku semalaman berada di club" jawab Rian.


"Club? ngapain?"


"Ya mabuk Naya.."


Naya mengangguk, dia berdiri dan menghampiri Rian, mengendus aroma tubuh Rian. "Setahu ku, orang mabuk itu pasti ada bau alkohol nya, kamu kok malah bau perfume perempuan?" tanya Naya, hahaha, seperti nya Rian lupa bahwa Naya adalah seorang penulis. Dan seorang penulis sudah biasa mencari , dan mereset tentang semua yang akan di tulisnya, dan Naya pernah mereset tentang alcohol, dan club...


Naya menatap manik mata Rian. "Kamu selingkuh?"


***


*


*

__ADS_1


Selamat membaca..


__ADS_2