Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
permainan.


__ADS_3

"Raya?" ucap Rian ketika melihat seorang wanita yang menjadi penukar pengantin di hari pernikahan nya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raya, kakak dari sang istri nya.


"Hai, adik ipar, apa kabar?" sapa Raya tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putih nya yang berjajar sangat rapi.


"Oh. Silahkan masuk" ucap Rian membukakan pintu rumah nya dengan sangat lebar.


"Maaf, rumah ku tidak sebesar rumah mu" ucap Rian mempersilahkan Raya masuk.


Raya masuk dengan senyum nya yang merekah "Tidak masalah, disini sangat nyaman, dan dekorasi nya sangat bagus serta membuat seseorang yang melihatnya pasti merasakan nyaman" jawab Raya melihat dekorasi yang sudah mengisi ruang tamu ini.


"Ah, terimakasih, dan seharusnya istri ku yang mendengar nya, karena dia yang mendekorasi rumah ini" ucap Rian tersenyum lebar membuat Raya yang mendengar itu meredupkan senyum nya.


Dia berbalik badan, "Ah, adik ku sangat berbakat" ucap Raya sambil menampilkan senyum paksa nya.


"Ya, aku beruntung memiliki istri seperti nya, silahkan duduk, aku akan memanggil istri ku" ucap Rian mempersilahkan Raya agar duduk, dia beranjak dari ruang tamu itu. Meninggalkan Raya dengan emosi nya.


Baru saja dia datang, api kecemburuan nya sudah di sulut oleh seorang Rian. Tapi, sedetik kemudian Raya tersenyum lebar "Sebentar lagi aku akan menjadi milik mu Rian!, ah, dia semakin tampan saja"


*


*


*


Rian membuka pintu kamar nya, dan langsung melihat Naya yang tengah serius membaca novel yang di pegang nya.


"Hai, ada tamu" ucap Rian membuat Naya mendongak untuk melihat wajah tampan suaminya.


"Terus kenapa kamu ada di sini?" tanya Naya yang masih belum mengerti bahwa tamu yang di maksud oleh Rian adalah tamu milik nya.


"Ternyata tamu mu yang datang" ucap Rian memberi tahu. Naya mengerutkan dahinya, mengingat dan menerka-nerka siapa yang datang. Perasaan dia tidak memiliki teman di kota ini kecuali Vita sang pendamping program diet nya.


"Siapa? aku tidak merasa memiliki teman di kota ini selain Vita" jawab Raya menatap manik mata Rian.


"Kamu harus banyak bergaul di luaran sana,"

__ADS_1


"Siapa yang datang Mas?" tanya Naya sekali lagi.


Rian tersenyum, dia mengelus rambut Naya kemudian mengecup bibir wanita itu sekilas "Kakak mu..."


*


*


*


"Hai Naya," sapa Raya berdiri dari duduk nya, menghampiri Naya dan memeluk nya erat.


"Apa kabar adik?" tanya Raya membuat Naya mengerutkan kening nya. Sejak kapan kakak nya itu sangat ramah dan baik padanya, bahkan tadi dia menampakkan senyum nya pada Naya yang seumur hidup Naya tidak pernah mendapatkan senyum itu.


"Ada apa kak?" tanya Naya benar benar tidak mengerti akan perubahan sikap kakaknya yang berubah sangat drastis.


Rian tak mau ikut campur dengan urusan kakak beradik itu, dia akan melihat dan memberikan pendapat nya saja.


"Apa kabar mu?" tanya Raya dengan memeluk Naya sekali lagi, tapi, pelukan itu bukan sekedar berpelukan, pelukan yang membawa sebuah ancaman.


"Kamu harus bisa berpura-pura untuk akrab dengan ku di hadapan suami kamu, karena aku akan merebutnya sebentar lagi, jika kamu tidak melakukan apa yang aku perintahkan, aku akan membeberkan satu rahasia mu, dan jangan bilang suami mu tentang bisikan ini!" ancam Raya mengelus pundak Naya dengan sangat lembut.


*


*


*


*


"Mm, bolehkan aku tinggal di sini sampai aku mengenal, kampus, dan orang-orang orang yang berada di lingkungan ini" ucap Raya membuka percakapan mereka kali ini.


Naya tetap diam, dia bergeming, jika kakanya tidur di sini maka kamar mana yang akan dia tinggali? kamar nya tidak mungkin, kamar ruang kerja mereka juga tidak mungkin, hanya ada satun yang kosong, kamar belakang.


Naya menoleh kearah Rian, kemudian mengangkat bokong nya sedikit dan berbisik pada sang suami.

__ADS_1


"Kamu saja yang menjawab, dan jika memang dirinya tinggal di sini maka kak Raya harus tidur di kamar kosong sebelah malam ini, kan di sana belum ada kasur" beritahu Naya berbisik pada suaminya.


Rian mengangguk, dia setuju dengan semua pendapat yang Naya berikan.


Sementara Raya yang melihat kedua orang di depannya membuat jiwa penasaran nya memberontak ingin tahu, hanya saja dia tahan demi mencari muka di hadapan Rian.


Dia tidak menampik akan pesona yang pria itu keluarkan, dia juga tidak sembunyi sembunyi dalam hal merebut suami adik nya itu.


"Kenapa?" tanya Raya yang tidak bisa membendung tingkat ke penasaran nya.


Rian dan Naya langsung tergagap, seakan akan tercyduk oleh pihak berwajib.


"Tidak, aku hanya memberi usulan ya, kan Mas" jawab Raya ketika matanya tak sengaja bertatap dengan mata Raya yang tengah melotot.


Rian mengangguk, dia membenarkan posisi duduk nya, "Jadi begini, rumah kami yang sederhana ini hanya memiliki tiga kamar dan masing masing sudah ada kegunaan nya masing masing. Dan hanya tersisa satu kamar di belakang sendiri, dan dekat dengan dapur" ucap Rian menjelaskan denah rumah nya.


Raya terdiam, kamar di dekat dapur? Raya tampak bergulat dengan pikirannya, setelah beberapa saat akhirnya dia mendapatkan jawaban nya. "Baiklah, tidak masalah" ujar nya.


"Baik, ayo ikut aku" ucap Rian berdiri, dia mengulurkan tangan nya pada Naya dan dengan senang hati Naya menerima nya.


"Silahkan tuan putri" ucap Rian membuat Raya panas dan sangat iri atas perhatian yang Rian berikan untuk Naya


Mereka berjalan, melewati kedua kamar tanpa adanya percakapan apapun. Berjalan dengan Raya yang membawa tas besar nya. Tas yang berisi semua perlengkapan nya.


Rian membuka pintu kamar belakang yang kosong, dan membuat Raya melongo. "Kosong semua?" tanya Raya membuat Rian dan Naya menahan tawanya.


Melihat itu seketika Raya tahu, tahu jika dia sedang di permainkan oleh kedua orang yang berada di depannya ini.


Raya tersenyum smirik.


"Jadi, ini di letakkan di mana Mas?" tanya Raya mengangkat tas nya dan memperlihatkan pada sepasang suami istri itu.


"Kenapa kamu memanggil suami ku dengan panggilan itu?" tanya Naya memprotes ucapan Raya yang menurut nya sangat lancang.


***

__ADS_1


Maaf sebelumnya, episode yang berjudul DRAF itu jangan di baca dulu, ceritanya saya tadi nulis, lalu ketiduran, entah kepencet atau apa, ketika saya terbangun saya langsung melihay tiga episode draft yang keluar, dan itu pun sama isinya. saya mau hapus tapi tidak bisa, jdi akan saya merevisi nya dan menggantikan dialog yang baru.


Jika tulisan bab nya sudah berubah menjadi judul, maka silahkan di baca, maaf atas gangguan nya ... terimakasih


__ADS_2