
"Apa mau mu ******!" pekik Rian mendorong tubuh seorang wanita hingga terjatuh. Wanita tersebut sudah berani mengganggu makan siang dan menciumnya ketika sedang melakukan panggilan video dengan sang istri.
Rian mengambil ponselnya yang sudah mati, yang berarti istri nya sudah mematikan panggilan videonya.
"Aku hanya ingin mencium mantan kekasihku,"
ucap wanita itu berdiri tegak setelah Rian
mendorongnya hingga terjatuh.
Rian melihatnya sambil menggeram marah, urat
urat di lehernya sudah mulai tercetak.
“Kita sudah menjadi mantan kekasih, dan seharusnya sikap mantan adalah menjauhi, bukan mendekati!" ucap Rian dengan nada penuh penekanan di setiap kalimatnya,
Wanita itu diam, dia bergerak dengan sensual bertujuan sang mantan kekasih tampannya itu
kembali terpesona. Namun bukannya membuat
Rian kembali terpesona, gerakan itu terlihat
menjijikkan di mata Rian.
Dengan lancangnya, wanita itu duduk di kursi kerja Rian. Ia mengambil kotak makan yang berada di meja Rian dan melihat makanan yang berada di dalamnya dengan tatapan menjijikkan, seakan-akan makanan yang berada di dalamnya itu telah basi.
Wajah Rian semakin memerah, raut muka nya
sudah berubah, yang semula sangat bahagia ketika melakukan panggilan video dengan Naya kini berubah menjadi 180 derajat.
"Sejak kapan selera makanan mu berubah menjadi seperti ini? Selera kampungan,” ejek wanita itu membuka sampah dengan telapak kaki nya, sampah itu terbuka, ia hendak membuang kotak makan itu, namun, Rian dengan sigap merebut dengan paksa kotak makan nya.
"Apa yang kamu lakukan, Rima!" bentak Rian
menggebu-gebu, Rian maju dua langkah, merebut kotak makan yang berisi makanan yang sudah setengahnya dia makan.
Rian mengambil tutup makan di meja dan menutup kotak makan itu, lalu memasukkannya ke dalam tas nya.
Wanita bernama Rima itu tersenyum mengejek.
"Seperti nya bekal dari pelacur barumu," ujar Rima mengejek.
Rian sedang meletakkan tasnya di atas meja seketika mendongak mendengar perkataan itu.
Plak...
Satu tamparan mendarat mulus di pipi putih Rima.
"Jaga bicaramu, Rima! bentak Rian memegang
lengan Rima, menyeretnya paksa, lalu melemparkannya hingga terjatuh mengenaskan
sekali lagi.
Para karyawan yang sudah menyelesaikan makan siang mereka terkejut dengan perlakuan Rian pada mantan kekasihnya. Mantan kekasih yang dulu akan di gadang gadang menjadi sekertaris dari sang presdir.
Tidak ada yang ingin membantu Rima, mereka pikir itu adalah urusan sepasang mantan kekasih. Dan ini adalah jam istirahat, tidak ada larangan apapun yang melarang Rian melakukan kekerasan di area kantor di kala jam istirahat.
Rian sudah mengetahui konsekuensi melakukan
kekerasan fisik, apalagi terhadap wanita. Jika tidak di perusahaan, maka di kantor polisi, atau mungkin di keduanya.
__ADS_1
Dia tidak peduli, sikap Rima sudah keterlaluan menurutnya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku, Rian!"
ujar Rima memegang pipinya yang memerah. Air
mata sudah mengalir di pipi mulusnya.
"Seharusnya kamu yang perlu dipertanyakan Rima!. Apakah pantas seorang wanita dengan lancang ya datang dan mencium seorang pria yang sudah beristri di hadapan istrinya langsung, lalu membuang makanannya dan menghina makanan yang sudah susah payah dibuat oleh istri pria yang telah kau cium itu, ha?. Beruntunglah aku berhasil mencegahnya. Jika itu makanan yang terbuang bagaimana?" Rian
kehilangan kesabaran, selama ini dia selalu
bersabar, namun dengan Rima sepertinya dia tidak akan bisa menahan kesabarannya lagi.
Rima dan para karyawan yang mendengar
pernyataan HRD nya terkejut, sejak kapan HRD
tampan mereka menikah?
"Kamu sudah menikah?" tanya Rima berdiri kembali.
"Apakah penjelasan dari ucapan ku tadi tidak
membuatmu mengerti? Apakah aku harus
menjelaskannya sekali lagi?" tanya Rian menatap sengit Rima. Amarahnya masih berada di dada.
"Apakah kamu lupa dengan perjanjian-"
Tet...
Tet...
Tet...
Satu persatu mereka meninggalkan Rian yang
sedang di kuasai oleh emosi dan Rima yang
sedang menangis sambil mengelus pipinya yang
tak kunjung berubah warna.
"Eca, bawa dia pergi dari hadapanku!" pinta Rian
pada salah satu perempuan yang tengah
menonton, dan hendak pergi dari sana.
Eca mengangguk, dia membawa Rima pergi
hadapan Rian. "Aku akan menagihnya, Rian!” pekik Rima sebelum pergi menjauh dari Rian.
Rian mengacak-acak rambutnya kesal, "Akkkjh.." jeritnya frustasi, Rian duduk dan melihat layar ponselnya.
Dia ingin sekali menghubungi Naya dan menjelaskan semuanya, namun, dia sadar jika dirinya sedang bekerja.
Dia tidak boleh mencampur adukkan hal pribadi
dan perusahaan. Dia harus bersikap profesional.
__ADS_1
Rian mematikan handphonenya, lalu menyalakan komputer yang berada di depannya dan kembali mengecek setiap G-mail yang masuk.
*
*
*
Sementara itu, di sisi lain, Naya sedang terbaring di kasurnya sambil menangis. Setelah satu minggu lebih dia tidak menangis, pada akhirnya dia menangis lagi.
Naya menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Dia tidak melanjutkan menulis, karena jika mood
nya kacau, maka tulisannya juga akan kacau.
Sudah terbang setinggi langit, namun
dihempaskan oleh kenyataan sejuram-jurang.
Mungkin pribahasa itu cocok untuk Naya sekarang. Dia sudah membawa perasaannya untuk suaminya, namun, hanya dengan beberapa menit sang suami bisa membuatnya terjatuh dengan kenyataan.
Naya menggigit bantalnya kesal, menggigit demi
meredakan emosinya yang meronta begitu saja.
Bagaimana jika Rian selingkuh atau lebih parah
lagi, sudah memiliki kekasih yang lebih dari dirinya, lebih cantik, lebih seksi, dan lebih segalanya? Karena dirinya datang untuk menjadi istri Rian, apakah Rian hanya menghormatinya sebagai seorang istri?
"Ahkk..." jerit Naya. Dia benci dengan pikiran
buruknya. Gara-gara terlalu sering membaca dan
membuat novel, dirinya menjadi terkontaminasi
oleh pikiran-pikiran yang hanya terjadi di dunia
fiksi.
Namun, satu hal yang membuat pikiran dan hati
Naya setuju dengan spekulasi yang menghantuinya. Bukankah Rian hanyalah suami
penebus hutang?
"Akhhh, Naya mengacak-acak rambutnya,
mendesah berat, lalu membalikkan badannya,
menatap langit-langit kamar, dan perlahan
memejamkan matanya. Lebih baik dia tidur
daripada harus memikirkan hal yang sedikit tidak
mungkin.
*
*
__ADS_1
*