Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
penantian malam yang panjang


__ADS_3

Naya melihat jam yang berada di handphone nya, dia menghela nafas, sudah pukul dua dini hari namun sang suami tidak datang datang.


Naya mencoba ratusan kali menghubungi nomor suaminya itu, namun hasilnya nihil, tidak ada satupun panggilan nya yang di angkat.


Di benak Naya sekarang, Rian marah karena kejadian kopi yang tumpah ke atas berkas. Naya tahu bahwa yang menumpahkan kopi itu ke berkas Rian adalah Raya, kakak nya, namun dia hanya diam, dia tidak ingin membuat kekacauan hanya karena sebuah kopi.


Naya kembali menghela nafas nya, dia beranjak dari hadapan PC nya.


Sudah seharian penuh dia tidak beranjak dari hadapan layar lebar itu. Demi target uang lima ratus juta untuk modal usaha yang tengah di rintis oleh Rian.


Naya hanya ingin menemani Rian dari nol hingga sukses, dan nantinya, jika usaha yang tengah di kembangkan oleh Rian suskes, dia juga bisa menikmati hasil itu.


Maka dari itu dia memaksa matanya agar tetap terjaga dan besok dia bisa menerbitkan dua novel sekaligus dan menyerahkan naskah untuk film yang akan di tayangkan enam bulan lagi.


Lebih baik tidak tidur satu malam daripada gagal satu abad.

__ADS_1


Naya menggigit tangan nya, dia mematikan semua alat elektronik nya, lalu mengambil laptop dan pergi ke teras rumah nya, dia akan membuat novel baru, sekalian menunggu Rian untuk pulang.


Mungkin Rian lembur, tapi mana mungkin lembur hingga pukul dua dini hari masih belum pulang? atau mungkin Rian tengah membantu seseorang, entahlah, yang paling penting adalah, Naya tidak boleh berpikiran negatif.


Naya duduk di sebuah hambal, meletakkan laptop nya dan tengkurap untuk mengetik. Sebenarnya Naya tidak boleh begadang oleh Vita, jika Vita tahu jika dia begadang, maka tamat lah riwayat nya.


Jari jemari Naya mulai bergerak lincah di atas keyboard, pikirannya sedang terbuka, dia akan membuat novel berjudul "Suami penebus hutang" yang terinspirasi dari kisah hidupnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat tengah malam, ketika Rian tengah tertidur sambil mendekap erat tubuh Rima, mereka di kejutkan dengan kondisi sang buah hati yang mengalami kejang kejang.


"Saya akan melakukan operasi sekarang juga, mohon di tandatangani surat persetujuan operasi pengangkatan tumor ganas yang berada di otak anak anda" ujar dokter itu mengambil sebuah kertas dari suster di belakang nya.

__ADS_1


Rian mengangguk, dia mengambil kertas itu dan langsung menandatangani nya.


"Baik, sus tolong panggilkan dokter spesialis bedah dan para staf nya, juga tolong pindahkan nona Nayla ke dalam ruangan operasi sekarang juga, kita akan melakukan operasi itu dalam sepuluh menit ke depan" ujar dokter itu menyuruh suster di belakang nya, dia mengambil kertas yang berada di tangan Rian.


"Saya permisi dulu —"


"Tunggu dok, operasi akan berjalan berapa lama?" tanya Raya dengan air mata yang sudah mengalir bak air terjun.


"Kurang lebih lima jam Bu, kalau begitu saya permisi" ujar dokter itu berlalu dari hadapan kedua orang yang saling merangkul itu.


"Bagaiman ini Rian?" tanya Raya menangis, Rian hanya mampu diam, dia mengelus rambut Rima, dia membawa Rima kedalam dekapan hangat nya.


"Tidak apa-apa, anak kita pasti sembuh, dia anak yang kuat" jawab Rian mengelus rambut Rima.


Rima melepaskan pelukan itu ketika mendengar roda bankar yang di dorong.

__ADS_1


Tubuh Rima meluruh ke lantai ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri tubuh anak nya yang berbaring tak berdaya di atas bankar itu.


"Tuhan" lirihnya..


__ADS_2