
"Hei!, siapa kamu! kamu pencuri ya?!" pekik Vita menunjuk seorang pria yang tengah berada di depan rumah Naya. Pria itu tengah mengintip jendela dari rumah Naya.
Pria itu menoleh, dia sedikit terkejut ketika di teriaki seorang maling oleh seorang perempuan bertubuh pendek.
Pria itu mengamati dari ujung kepala sampai ujung kaki Vita. Kemudian berdecak kesal melihat penampilan Vita.
Dengan legging super ketat dan sport bra yang berwarna abu, mungkin perempuan di depannya ini akan olahraga.Tapi, tampilan perempuan di depannya nampak tidak cocok dengan tubuh kurus yang sama sekali tidak berisi itu.
"Kau tidak melihat pakaian ku?!" tanya pria itu meninggikan suaranya satu oktaf.
Vita melihat tampilan pria itu dari bawah ke atas, setelan jas. Mungkin dia adalah teman Rian, dan datang untuk menjemput nya.
"Lihat, dan terlihat setelan jas murahan" sarkas Vita membuat pria itu melebarkan matanya.
"Apa kata—"
"Minggir!!" sentak Vita mendorong tubuh besar pria itu.
Tok...
Tok...
Tok...
"Naya, buka dong pintu nya.." pekik Vita menggedor gedor pintu rumah Naya.
"Sudahlah, jangan berisik, ini masih pagi, aku sudah gedor gedor sedari tadi" ucap pria itu menutup telinga nya.
"Diam saja, Naya!!"
Dor...
__ADS_1
Dor..
Dor...
"Naya—"
Cek lek...
"Pagi pagi sudah teriak seperti orang gila!" ucap seorang perempuan yang berpenampilan seperti orang yang baru tidur. Dapat di lihat, bahwa yang
membuka pintu rumah Naya adalah Raya. Sang penggoda.
"Kemana Naya?" tanya Vita pada Raya.
"Tidak tau, cari saja sendiri" jawab nya singkat, Raya berbalik badan kemudian pergi meninggalkan Vita dan pria itu sendirian.
"Idih.."
Menatap lekat kedua mata perempuan di depannya, mata yang sama persis dengan mata seseorang di masa lalunya, mata yang memiliki perbedaan yang sangat langkah. Dengan sebelah kanan berwarna hitam dan kiri berwarna cokelat.
Vita yang di tatap sebegitu intens oleh pria yang tak di kenali nya merasa risih.
"Siapa nama—"
"Maaf, aku terlambat bangun" ucap Naya membuat Vita menolehkan kepalanya, tersenyum manis yang membuat pria di samping nya merasakan detak jantung yang menggila.
"Tidak masalah, ayo aku mau numpang makan, uang ku habis kemarin" ucap Vita memegang lengan Naya, dia menggelayuti lengan yang sedikit besar itu.
Naya tersenyum, dia sudah mengetahui layar belakang hidup Vita yang kekurangan, dan maka dari itu dia meminta Vita untuk tidak segan meminta bantuan kepadanya.
"Ayo, ikut aku memasak, aku belum memasak" ujar Naya menyahuti.
__ADS_1
Naya mengedarkan pandangan nya, dan terkejut ada seorang selain mereka berdua disini.
Naya tersenyum canggung pada pria di hadapan nya. "Maaf, mau bertemu dengan siapa yah?" tanya nya.
Pria itu berdeham pelan, membenarkan kerah kemeja nya "Aku ingin menemui Rian, apakah dia ada?" tanya nya membuat Naya mengangguk.
"Ouh, tamu Rian, silahkan masuk" ucap Naya mempersilahkan dengan ramah.
"Terimakasih.." ucap pria itu masuk ke dalam ruang tamu Naya, namun, dia melirik kembali mata wanita yang menghina nya tadi.
"Ayo masuk dulu Vita" ujar Naya menarik tangan Vita ke dalam.
"Mau minum apa tuan?" tanya Naya.
"Terserah.. " Naya mengangguk.
"Seperti seorang perempuan saja" ejek Vita kemudian menarik tangan Naya untuk masuk ke dalam.
Pria itu mendengus sebal mendengar ejekan wanita tadi.
"Kamu sudah turun berapa kilo?" tanya Vita membuka topik obrolan, mereka tengah berjalan ke arah dapur.
"Emm, mungkin tiga—"
"Mau kemana Mon?" suara berat itu menggelegar di seluruh lorong menuju dapur nya.
Seperti nya Naya lupa untuk mengatakan bahwa ada tamu untuk suaminya. "Maaf, Mon, ada tamu mu di depan" ucap Naya berbalik badan.
Rian mengangguk singkat "Kamu mau kemana?"
"Mau ke dapur, memasak"
__ADS_1
"Jangan masak dulu, ayo hadiah ulangtahun kamu ada di depan..."