Suami Penebus Hutang

Suami Penebus Hutang
Uang


__ADS_3

“Ah iya, benar, ini adalah alamat nya” jawab Rian yang masih menyembunyikan pertanyaan dari mana istrinya itu mendapatkan semua uang yang di belanjakan nya sekarang.


“Silahkan tanda tangan di sini pak” ucap pria itu menyodorkan sebuah kertas.


Rian membubuhkan tanda tangannya. “Sudah datang, Eh Rian” ucap Naya tersenyum lebar.


“Kami permisi pak, buk” pamit kedua pria itu meninggalkan meja dan kursi itu.


Rian melihat Naya, dia menarik tangannya dan membawanya duduk di ruang tamu. “Kamu dapat dari mana uang?” tanya Rian selidik.


Naya yang mendapatkan pertanyaan itu pun kaget. Dia baru bangun bahkan, suaminya itu langsung menodongkan pernyataan terkait dengan uang.


Uang.


Uang.


Uang...


Naya berdiri, “Ayo ikut aku” ucap Naya berjalan mendahului Rian menuju kamar mereka.


Rian hanya mengikuti Naya dari belakang. Naya duduk di atas kasur. Di pangkuannya sudah ada laptop milik Naya.


“Duduk dulu, kemungkinan ini akan lama” ucap Naya yang lagi lagi di turuti oleh Rian tanpa menjawab, otak nya masih memproses kemungkinan pekerjaan apa yang di jalankan oleh istrinya itu. Dia duduk di sebelah Naya.


Rian dapat melihat Naya membuka laptop, memasangkan memori card dan mengotak atik nya sebentar. Sebelum laptop itu menunjukkan puluhan file.


“Aku adalah seorang penulis dari delapan tahun yang lalu, jika di hitung mulai aku menghentikan study ku di jenjang menengah atas.” ucap Naya menjelaskan awal dirinya menulis.


Rian merasa ada yang janggal dari cerita Naya. Jika Naya berhenti sekolah di jenjang menengah atas, bagaimana bisa menjadi seorang penulis. Setahunya menjadu seorang penulis itu harus mengerti rumus dan tataan kebahasaan dan lainnya.


“Bagaimana bisa kamu menjadi seorang penulis jika kamu tidak melanjutkan study mu?” tanya Rian. Naya tersenyum.


“Aku belajar menekuni ilmu bahasa Indonesia dari sebuah situs online, di situs itu kita di ajar kan dari pelajaran SD hingga kuliah dan hanya membayar satu juta rupiah perbulan” jawab Naya membuka sebuah file yang terdapat foto dirinya tengah belajar di depan sebuah komputer.

__ADS_1


Rian hanya diam memperhatikan apa yang di jelaskan oleh Naya.


“Lalu ku menulis satu tahun kemudian, dan mulai menulis di salah satu platform online, dan satu bulan kemudian aku mendapatkan uang ku untuk pertama kali nya” jelas Naya menunjukkan satu gambar yang berisi tentang karya pertama nya.


“Singkat cerita, Karya ku sangat laris di kalangan pembaca dan karya ku berhasil di terbitkan” ucap Naya menggeser file itu ke bawah.


Satu file yang berisi tentang semua perjuangan nya menjadi penulis tersembunyi yang memiliki berjuta juta penggemar.


“Aku terus menulis, dan tiba saat aku mendapatkan tawaran kerja sama untuk menjadikan series di karya aku yang memiliki enam ratus episode dan movie untuk karya ku yang bergenre Action dalam waktu yang bersamaan” ucap Naya membuka file lain yang memiliki banyak gambar karya novel yang di terbitkan dan semua series serta movie yang telah di tayang kan.


Naya menggulir semua gambar karyanya. “Stop!” pekik Rian ketika melihat satu cover film yang pernah dia lihat, dan pernah meledak pada tahun lalu.


“Kamu yang membuat novel itu?” tanya Rian heboh, jari telunjuknya menunjuk salah satu cover novel, di sampingnya terdapat gambar film yang sudah mendunia.


Naya menganggukkan kepalanya. “Kenapa memang nya?”


“Itu kan film yang di produksi oleh Lucerne Entertainment.. ” ucap Rian menggantungkan kalimat nya. Lucerne Entertainment adalah produsen film yang berasal dari negara paman sam.


“Iya” jawab Naya membuat Rian histeris sendiri. Dia memiliki istri yang sangat pintar. Dia memiliki istri yang sangat berbakat. Dia memiliki istri yang sangat sempurna.


Naya menangis di pelukan Rian. Selama ini tidak ada yang pernah percaya pada nya, selama ini tidak ada yang bangga seperti Rian. Selama ini dia hanya di banggakan oleh orang orang yang tidak pernah mengenal nya. Dan sekarang, dia telah di banggakan oleh suami nya. Orang yang pertama kali membanggakan dirinya secara langsung.


Air mata Naya meluruh.



*


*


Sudah satu minggu berlalu, satu minggu yang mampu mempererat hubungan mereka, satu minggu, hanya, hanya satu minggu mereka dapat mengetahui dengan pasti sifat pasangan mereka.


Dan tepat nya hari ini adalah hari minggu, hari yang di tunggu oleh tiap tiap insan yang berada di bumi ini.

__ADS_1


“Kamu mau pergi tidak?” tanya Rian memakan masakan yang di buat oleh Naya.


Naya mendongak, mengalihkan pandangan yang semula untuk makanan nya kini untuk Rian. “Ingin pergi kemana memang nya?”


“Kamu ada tempat yang ingin kamu kunjungi tidak?” tanya Rian baik.


Naya menggeleng, dia sudah terlalu nyaman dengan dunia di dalam rumah nya. Lagi lagi, dia takut untuk keluar. Takut hinaan serta cacian untuk tubuh besar nya. Seperti pecundang memang, tapi dirinya tidak perduli, yang dia peduli hanya kesimpulan orang tentang dirinya.


“Aku tidak memiliki rencana untuk keluar dari rumah” jawab Naya menyelesaikan makanan nya, dia berdiri “Sudah?” tanya nya.


Rian mengangguk, dia mengambil piring yang berada di tangan istri nya. “Biar aku yang mencuci nya” ucap Rian sebelum Naya berbicara panjang lebar.


Satu minggu tinggal bersama istrinya dia tau, tau bahwa sebenarnya istrinya itu orang yang sangat aktif, lincah dan jangan lupakan istrinya itu sangat CEREWET.


Naya mengangguk, dia mencuci tangan nya terlebih dahulu, ya meskipun dia makan memakan sendok. Kemudian duduk melihat suaminya tengah mencuci piring.


“Aku ingin berlibur” ucap Rian memecah keheningan yang menerpa mereka selama beberapa detik.


Naya menaikkan sebelah alis nya. “Ingin berlibur kemana memang nya?” tanya Naya sama sekali tidak keberatan suaminya itu pergi berlibur tanpa dirinya. Dia terlalu nyaman untuk tinggal di dalam rumah.


“Ingin berlibur berdua bersama dirimu” jawab Rian menyelesaikan kegiatan cuci piring nya. Dia mendekati Naya dan mengulurkan tangan nya.


Naya langsung menerima uluran tangan itu. “Bersama ku?” tanya Naya memastikan ucapan sang suami. Rian membawa pergi Naya ke dalam kamar mereka.


“Benar, ayo kamu ganti baju mu, aku akan mengganti baju ku” ucap Rian melepas tangan mereka dan membuka lemari yang sudah sangat rapi dan tertata karena Naya sudah membereskan nya.


Dengan bagian kiri baju Rian dan bagian kanan baju Naya.


“Aku tidak ingin ikut” ujar Naya mendudukkan dirinya di ujung ranjang.


Rian menghela nafasnya. “Kalau kamu tidak ikut pergi bersama ku, jangan harap kamu bisa membuka pintu ruang kerja kita!” ancam Rian sudah lelah memberikan pengertian bahwa Naya itu sempurna.


•••

__ADS_1


Jangan lupa untuk mendukung karya aku ya, karena dukungan dari kalian sangat berharga.


Terimakasih ❤💞


__ADS_2