
3 tahun lalu saat pertama kali tiba di kampung nelayan ini, usia kandungannya baru menginjak 4 minggu. Dia tidak mengalami Morning Sick dan napsu makannya meningkat. Karena perutnya yang selalu kelaparan Yan Hao selalu pergi ke pasar tradisional untuk berbelanja bahan makanan, lama kelamaan para penduduk di kampung nelayan mulai mengenalnya bahkan sering memberi bahan makanan segar dari laut.
Yan Hao juga bukan orang yang pelit, dia selalu suka membantu jika penduduk ada yang mengalami kesulitan. Kecintaannya kepada bunga membawa dia belajar banyak cara membuat makanan, minuman, dan kosmetik yang bahan dasarnya bunga. Jika selesai membuat satu percobaan, maka dia akan membaginya pada wanita-wanita di kampung nelayan, terutama krim pencerah kulit dan minuman tonik anti penuaan yang dikembangkan dari bunga.
Namun meskipun kehamilannya tidak mengalami Morning Sick, namun emosinya sangat sensitif. Dia tiap malam akan menangis tersedu-sedu hingga puas setelah itu tidur dengan nyenyak. Atau jika tidak menangis maka dia akan memuntahkan semua makanan yang sudah dia makan hari itu hingga perutnya kosong, dan tubuhnya lemas.
Suatu ketika, Yan Hao menemukan artikel saat sedang berselancar di internet, bahwa ibu hamil bisa membagi penderitaannya saat mengandung dengan sang suami agar suami juga tahu penderitaan ibu yang tengah hamil. Antara percaya dan tidak, saat sedang down dan terserang perasaan melankolis, Yan Hao ingat artikel yang dibaca di internet, dengan emosional, dia mengelus perutnya dan berkata "sayaaang, jangan buat mami sedih ya hiks...hiks...hiks..." air matanya jatuh "buat aja papahmu yang bodoh itu merasakan perasaan mami sekarang, jangan membenci papah, papah hanya terlalu sayang sama mami hingga cemburu melanda hati hiks..hiks..." air matanya kembali mengalir. "Kenapa gak mempan? kenapa aku masih ingin menangis? hiks..hiks..." Yan Hao masih menangis tapi sejurus kemudian perutnya berbunyi minta diisi, dia melupakan tangisnya dan pergi ke dapur membuat makanan.
Entah apa itu benar atau ada pengaruh lain, setiap kali Yan Hao ingin menangis atau perasaan ingin muntah maka dia akan mengelus perutnya sambil meminta agar papa anaknya aja yang mengalami semua itu. Tapi dia sendiri tidak pernah tahu apa yang terjadi pada si papah bodoh, yang jelas dia sudah tidak lagi merasa perasaan melankolis ataupun pingin muntah yang dahsyat seperti awal kehamilannya.
Sementara itu, di Guangzhou. Saat malam tiba, Gu Xin Ji yang masih lembur di kantor tiba-tiba mengalami perasaan melankolis. Dia rasanya ingin menangis, matanya memerah menahan air mata, namun air mata itu tetap mengucur dari matanya. Untunglah dia cuma sendirian dalam ruangan Presiden yang luas itu. Karena tak sanggup menahan perasaan melankolisnya Gu Xin Ji pergi ke kamar mandi dan mulai menangis, dia membiarkan air matanya turun seperti hujan, sambil terus berpikir apa yang salah dengan dirinya.
Setelah puas menangis, Gu Xin Ji mulai merasa lapar, dia memanggil Lin Chao dan menyuruhnya membeli makanan yang ingin dimakan. Lin Chao yang mendengar aneka pesanan Presidennya hanya bisa menahan rasa heran. "banyak betul, bos" ujarnya dalam hati. "Apakah bos berubah menjadi hantu kelaparan setelah kehilangan nyonya?" Lin Chao masih terus berbicara dalam hati, namun karena takut dimarahi, Lin Chao cuma diam dan segera pergi membeli pesanan bosnya.
Pernah suatu ketika Yan Hao melihat artikel tentang buah durian yang tumbuh di Indonesia, "durian montong" namanya, seketika liurnya tumpah, dia sangat ingin memakan buah yang tumbuh di Indonesia tersebut. karena tahu buah itu susah di dapat, dengan ekspresi licik, Yan Hao mengelus perutnya dan berucap "telur kecil mami, biarkan papahmu yang merasakan buah itu untuk kita, mami gak bisa dapatkan buah itu, sayaang." lima menit kemudian liurnya kering, rasa ingin makan 'durian montong' hilang seketika.
__ADS_1
Tapi lain cerita di Grup Gu Corporation. Gu Xin Ji yang sedang memimpin rapat penentuan investasi real estate bersama para direksi mendadak ingin makan 'durian montong', kalimat itu terucap dalam pikirannya begitu saja. Tentu saja perasaan ingin makan buah itu sangat mengganggu, apalgi ditengah rapat penting. Menahan rasa laparnya, Gu Xin Ji menunda rapat hingga besok karena perutnya sudah tak sanggup menahan rasa 'ingin makan durian montong'.
(menderita amat lu Xin Ji wkwkwkwk)
Lin Chao yang mendapat instruksi untuk membeli buah tersebut hanya bisa menganga. Rasanya terlalu Absurd. "Boooss, apa yang terjadi padamu!?" Lin Chao ingin menangis dalam hati.
Melihat Lin Chao yang tidak bergerak dan hanya melongo. Xin Ji jadi marah. "Belum bergerak!?"
"Bergerak, Tuan." Lin Chao berjalan seperti akan terbang.
Lin Chao membawa buah yang aromanya menguar kemana-mana, bahkan para karyawan harus menahan nafas ketika asisten Lin lewat di depan mereka.
"Tuan, buahnya." Lin Chao menyodorkan durian motong ke hadapan sang bos, untunglah saat dia pergi ke swalayan, buah tropis itu baru saja diimpor dari Indonesia sehingga dia tak perlu susah payah mencari.
Xin Ji menatap Lin Chao dengan dingin, "bawa keluar!"
"tapi, tuan? apa tuan tidak ingin memakannya lagi?"
__ADS_1
"Tidak!" wajah Xin Ji berkerut jijik, dia mencubit area diantara alisnya, bersandar dengan lesu di kursi, dan mulai berfikir dengan serius.
"Tuan." Lin Chao memanggil pelan. "Apakah tidak sebaiknya tuan berkonsultasi dengan dokter Si Ye?" Lin Chao menyarankan takut-takut.
"Buat janji!" perintah Xin Ji. Dia sudah merasa ada yang salah dengan dirinya. Sudah sebulan dia mengalami hal-hal absurd ini. Belum lagi hilangnya Yan Hao masih belum ditemukan. Xin Ji menjadi pusing. Berat badannya merosot banyak. rahangnya semakin terlihat persegi, sudut-sudut wajanya semakin tajam. Namun aura lelaki dewasa justru memancar dengan kuat dari dirinya.
Si Ye memeriksa Xin Ji dengan cermat, namun tak ada yang salah, setelah mendengar semua keluhan Xin Ji, Si Ye memandangnya dengan tatapan simpatik.
"Apa yang salah, dokter Si?" Xin Ji bertanya setelah melihat tatapan simpati dokter.
"Apakah nyonya sedang hamil tuan?"
"Apa Hubungannya ini dengan nyonya?" Xin Ji bertanya kesal
"Karena Tuan Gu mengalami Couvade Syndrome atau kehamilan simpatik." jawab dokter Si Ye enteng.
😅
__ADS_1