
Gu Xin Ji menatap anak yang memakai kostum Spiderman dan menatap anak yang satunya lagi dengan muram. Kedua anak itu masih berada di pelukannya. Dan mereka juga sepertinya tidak ingin tergesa-gesa turun dari pelukannya.
Keduanya memandang dia dengan tatapan curiga, seolah dia adalah seorang penculik anak. Kepala Gu Xin Ji seperti mati rasa, dia merasa seolah akan diinterogasi karena sebuah kejahatan. Lin Chao yang melihat pemandangan itu, hanya bisa menyembunyikan senyuman.
Meskipun begitu mereka tidak lupa berterima kasih pada Xin Ji. "Terima kasih paman penolong." ujar mereka bersama-sama. "Kata mami, kita harus selalu berterima kasih atas bantuan seseorang meskipun itu kecil" Lanjut Yibao menjelaskan.
Hati Xin Ji langsung meleleh mendengar ucapan kekanakan dari kedua anaknya. "Yah, ini memang anaknya" ujarnya dalam hati dengan bangga.
Namun itu tidak berlangsung lama.
"Kenapa paman bisa masuk rumah kami?" tiba-tiba yang tidak memakai kostum bertanya.
Gu Xin Ji seperti melihat versi dirinya ketika masih muda dulu. Tatapan anak ini, ekspresi wajahnya, dan nada suaranya semuanya seperti dirinya dalam versi mini.
"Paman bahkan tidak melepaskan sepatu." kata Yibao yang memakai kostum Spiderman ada nada menegur dalam suaranya.
Gu Xin Ji hampir muntah darah mendengar kata-kata kedua anak itu. "kalau aku buka sepatu dulu, kalian berdua akan jadi agar-agar di lantai, oke." jeritnya dalam hati. tapi lupakan saja, mereka berdua adalah anakku, aku tidak mungkin kan terlalu perhitungan dengan mereka.
"Paman adalah teman ibu kalian." ucapnya lembut
"Benarkah?" tatapan mereka seolah tidak percaya.
"Nah, apa yang kalian berdua lakukan tadi? apakah kalian tahu kalau itu berbahaya? apakah ibu kalian tidak akan marah saat tahu perbuatan kalian? " Gu Xin Ji mulai dengan rentetan pertanyaan penyelidikan.
Begitu mendengar kata-kata paman penolong, ekspresi keduanya berubah, Yibao yang telah melepaskan topeng spiderman memandang saudaranya dengan bingung.
"Apakah paman akan memberitahu mami?" tanya Yibao cemas. Bagaimanapun dia hanya anak yang baru berusia 2 tahun lebih beberapa bulan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita bekerjasama?" tanya Dabao mencoba bernegosiasi dengan paman penolong
Sudut bibir Xin Ji berkedut, antara mau tertawa atau menangis. Anak-anaknya masih bayi tapi sudah tahu cara mencari solusi atas masalah. "Mereka memang anak-anakku" ujarnya bangga di dalam hati.
"Katakan." Xin Ji berkata sambil memandang kedua anaknya yang telah turun dari pelukannya dan duduk di kursi ruang tamu seperti pria dewasa mini.
"Kami tidak akan memberitahu mami." Kata Yibao malu-malu.
"Bahwa paman tidak melepas sepatu." Dabao melanjutkan sambil melipat tangannya di dada. Lin Chao disisi lain, hampir luka dalam menahan tawa.
"Paman harus membersihkan lantai." Yibao menyambung ucapan saudaranya.
"Kami akan membantu." Dabao berkata dengan serius sambil memandang paman penolong.
"Asalkan paman tidak beritahu mami kejadian tadi." Yibao berkata penuh kemenangan. Mereka berkata bergantian seolah itu sudah diatur.
Lin Chao sudah tidak tahan lagi. Dia berjalan cepat keluar dan tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya erat, takut kalau-kalau bos nya marah mendengar tawanya. Ini begitu lucu. Mereka begitu kecil tapi mereka sudah sangat cerdas. Tuan mudanya sepertinya mendapat lawan yang tangguh kali ini, pikir Lin chao masih tertawa.
Dia mencubit alisnya, kepalanya sakit membayangkan kedua anaknya yang nakal. Ini tidak bisa berlanjut, dia harus segera mengambil alih pendidikan putra-putranya sebelum bertambah kenakalan mereka.
"Apakah kalian tahu, kalau perbuatan kalian tadi sangat berbahaya?!" Xin Ji bertanya dingin, Bagaimana kalau kalian jatuh dan terluka? Apakah ibu kalian tidak akan bersedih?!" Dia menatap anaknya satu persatu, kepala mereka tertunduk.
"Maaf, paman." Dabao berkata pelan dengan mata berkaca-kaca, mata bulatnya yang besar dan berair memerah, sedangkan Yibao sang kakak sudah lebih dulu mengeluarkan air mata.
"Huaaaa.....huuuuu..hiikkss...." Yibao menangis, awalnya pelan kemudian menjadi besar dan terdengar sangat menyedihkan, melihat sang kakak menangis, Dabao yang cool dan tenang pun jadi ikutan menangis, mereka menangis dengan sangat menyedihkan. Biar bagaimanapun mereka hanyalah bayi kecil yang masih belum bisa menahan tekanan.
Melihat kedua anaknya menangis, Xin Ji jadi panik, seumur hidupnya dia belum pernah berhadapan dengan anak batita apalagi anak bayi yang menangis. Bingung bagaiman membujuk anak-ananknya, dia segera mendekati mereka dan berjongkok dihadapan mereka.
__ADS_1
"Ssstttt.... Jangan menangis, jangan menangis, paman minta maaf." kata Xin Ji mencoba menenangkan. Bukannya diam Yibao dan Dabao malah semakin kencang menangis. Dengan panik dia memanggil Lin Chao.
"Lin Chao!"
"Ya, Tuan." Lin Chao segera datang.
"Bagaimana membujuk anak yang menangis?" tanyanya.
Lin Chao bengong, "Hah, apa tuan? dia bertanya tergagap.
"Mungkin tuan harus menggendong mereka dan membujuknya dengan kata-kata lembut." Lin Chao memberi saran yang kedengarannya masuk akal.
Gu Xin Ji mendekati anak-anaknya, menggendong mereka dan membisikkan kata -kata lembut seperti saran Lin Chao. "Sssssttttt..jangan menangis lagi..paman minta maaf...paman tidak akan memberitahu ibumu." katanya membujuk.
"Janji," kata Yibao
"Janji." Xin Ji mengiyakan
"Janji kelingking." Dabao berkata sambil menyodorkan tangan gemuk kecilnya yang menggemaskan.
Sudut bibirnya berkedut, dia hampir tertawa, tapi demi menjaga martabatnya di depan sang anak, dia menjaga raut wajahnya tetap tenang. Menyodorkan jari kelingking, dia menautkan jarinya bergantian antara Yibao dan Dabao.
Begitu mendapat janji dari sang paman, kedua makhluk kecil itu langsung merosot turun dan berjingkrak-jingkrak
Xin Ji: "...."
Lin Chao: "...."
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada batita yang menangis sedih tadi" mereka berkata dalam hati.
Gu Xin Ji bahkan terserang sakit kepala, seumur hidupnya baru kali ini dia dikalahkan oleh seseorang dan itu bukan orang dewasa tapi anak bayi. Dia akhirnya sadar kalau da telah masuk dalam skema meraka.