SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 57. St. Maria 2


__ADS_3

Beberapa pengurus panti keluar saat mobil mewah yang berisi Sanbao dan yang lainnya memasuki halaman panti.


Dulu mobil mewah kerap kali keluar masuk halaman panti ini, namun semenjak pengurus panti yang lama meninggal, panti ini mulai ditinggalkan. Para pendonor juga seperti melupakan panti asuhan kecil di pinggiran kota ini.


Para penghuni panti melakukan kerja apa saja untuk menghasilkan pendapatan bagi panti asuhan St. Maria.


Bunda kepala yang memimpin sekarang bernama Bunda Mariana.


Bunda Mariana sudah 6 tahun memimpin. Dan sudah enam tahun juga para pendonor mulai menghentikan santunan mereka untuk anak-anak di Panti ini, terkadang bunda Mariana menangis, mengapa setelah dia memimpin para pendonor mundur satu-satu, bahkan anak yang diadopsi pun berkarang perlahan-lahan hingga akhirnya tidak ada sama sekali.


Terakhir, seorang datanh ingin mengajukan prosedur peng adopsian 2 tahun lalu, namun akhirnya mundur saat anak yang ingin di adopsi tidak mau bicara, keluarga itu akhirnya membatalkan rencana mereka dan akhirnya malah mundur.


Anak itu adalah Yasmin.


Yasmin kecil memang tidak pernah berbicara dengan siapa pun, tapi dia mengerti apa yang di omongkan orang, dia hanya tidak ingin berbicara, Yasmin baru berbicara setahun belakangan, itu pun hanya dengan orang-orang yang dia suka yang salah satunya April.


April memang yang menjaga Yasmin saat Yasmin masih bayi merah, jadi dia memiliki ikatan yang kuat dengannya.


Saat mobil memasuki pekarangan, Dabao melihat sosok laki-laki berperawakan besar dan berpakaian hitam berjalan keluar dari bagian belakang panti, Dabao cuma meliriknya sekilas setelah itu dia membuang muka tak peduli, namun kesan laki-laki itu sudah ada di benaknya.


Mereka berlima turun, disambut anak-anak panti yang berhamburan keluar dari dalam mendekati mereka dengan antusias.


Sudah lama sejak kebahagiaan itu datang, April tersenyum, matanya berbinar sekaligus sedih, dulu para donatur sering datang tapi sekarang.... ah sudahlah, pikir April.


"Kakak, apa yang kalian bawa?"


"Kakak, apakah ini makanan?"


"Kakak, apakab kita akan makan enak malam ini?"


"Yeeee... kita tidak kelaparan lagi malam ini!!"


Satu per satu anak-anak itu datang dan bertanya dengan antusias pada April, mereka juga mengelilingi Yasmin sambil mengendus-endus aroma makanan.


Sanbao dan dua saudaranya bertatapan, mata mereka memerah, mereka tidak pernah tau kalau membeli sedikit makanan seperti ini bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain.

__ADS_1


"Ayo masuk, Bunda Carla wakilnya bunda Mariana mengajak anak-anak masuk dengan senyum du bibirnya.


April dan Yasmin mengajak Sanbao, Yibao dan Dabao masuk ke panti, mereka dibawa keruang ketua atau kepala panti, karena mereka datang dengan membawa makanan, maka mereka telah dianggap sebagai pendonor bagi panti asuhan ini.


Kepala panti menyambut ketiga saudara kembar itu dengan tubuhnya yang ringkih dan sakit. Ada kekhawatiran dari raut wajah April melihat Bunda Mariana yang sudah dianggap sebagai orang tua mereka yang semakin kurus dan ringkih, sakit itu sudah menggerogoti tubuh bunda sejak setahun yang lalu, awalnya hanya pilek biasa, namun karena tidak diobati belakangan semakin parah.


"Saya bunda kepala, panggil saja bunda Mariana." Bunda mariana memperkenalkan dirinya kepada Sanbao dan yang lainnya. Bagi dia, tidak masalah orang yang datang hanyalah anak-anak, selama mereka membawa kebahagiaan bagi penghuni panti, mereka akan tetap disambut.


"Apakah kalian datang bersama April?" bunda bertanya ramah, ada keteduhan diwajah tirus itu.


"Itu benar, bunda." Sanbao menjawab sambil tersenyum. Wajahnya yang cantik semakin cantik saat tersenyum, tak ada seorang pun yang kebal terhadap pesona Sanbao, dia selalu mampu memicu rasa sayang dari orang lain hanya dengan satu senyum.


Setelah bertukar kata beberapa kali, mereka akhirnya pamit, dengan janji mereka akan kembali besok dengan membawa lebih banyak makanan dan juga dengan seorang dokter.


Bunda Mariana tersenyum senang mendengarnya, baginya adalah suatu kebahagiaan apabila ada yang datang dan mengulurkan tangan pada panti asuhan ini, terlepas apakah itu janji kosong ataukah janji yang akan ditepati.


Sanbao dan kedua saudaranya memasuki mobil, saat mobil dinyalakan, Yasmin berlari keluar dengan kaki pendeknya.


"Kakak... Kakak...!" panggilnya.


"Apakah kakak akan pergi?"


"Apakah kakak akan kembali lagi?"


"Apakah kita akan bertemu lagi?"


Mata Yasmin sudah merah, wajah sedihnya. Dia sangat suka sama kakak-kakak ini, kapan dia akan bertemu mereka jika mereka pergi.


"Kenapa? apa Yasmin cantik sudah mulai merindukan kakak-kakak?" Sanbao mengacak rambut panjang Yasmin dengan sayang.


Yasmin mengangguk semangat, kepala kecilnya yang mengangguk-angguk nampak sangat menggemaskan.


"Apakah Yasmin mau mengikuti kakak pergi, nanti kakak antar kembali."


Yasmin mengangguk kemudian menggeleng.

__ADS_1


"Yasmin tidak ingin tinggalkan bunda kepala, bunda kepala sedang sakit." jawabnya sedih.


Sanbao tersenyum, "Kakak-kakak akan kembali besok, kakak akan membawa dokter untuk mengobati bunda kepala, apa Yasmin senang?"


Yasmin tersenyum lebar hingga giginya yang belum tunbuh sempurna terlihat, pemandangan itu sangat menggemaskan dan lucu, Dabao langsung mencubit pipi Yasmin gemas sedangkan Yibao mengelus sayang rambut panjang Yasmin.


"Yasmin ikut kakak ya, nanti kita akan kembali dengan dokter untuk mengobati bunda kepala." Yibao mencoba merayu Yasmin.


April berjalan mendekat, dia mendengar ucapan Yibao dan melihat Yasmin, sekilas Aprul langsung tau kalau Yasmin pingin ikut namun takut meninggalkan Bunda Kepala.


"Pergilah dek, nanti kakak bilang sama Bunda, bunda pasti mau."


"Tapi bunda sakit." Yasmin menjawab sedih.


"Nggak papa, kan Yasmin udah belikan obat untuk bunda,"


"Benarkah?" Yasmin bertanya penuh harap, disampingnya Sanbao dan yang lainnya tersenyum.


"Pergilah dek, nanti Yasmin kembali dengan dokter untuk obatin bunda, oke?"


Yasmin mengangguk semangat, matanya berbinar.


"Benarkah kita akan bawa dokter untuk bunda?" Yasmin bertanya pada Sanbao.


"ya, kita akan." Dabao yang menjawab, tangannya tidak ketinggalan mengacak rambut Yasmin.


Yasmin memandang April dengan semangat, "Kakak, apakah kakak akan ikut?"


"Tidak sayang, kakak disini saja tunggu Yasmin kembali dengan dokter."


"Kakak, ayo pamit sama bunda kepala." Yasmin menggamit tangan Sanbao dan April membawa mereka ke tempat bunda kepala. Sanbao dan yang lainnya mengikuti dwngan tak berdaya.


Sejurus kemudian, anak-anak itu telah berada dalam mobil yang sedang melaju dijalanan.


Karena mereka sejak turun dari pesawat hingga saat ini belum beristirahat, ketiganya pun tertidur, Yasmin yang melihat pun ikut tertidur.

__ADS_1


__ADS_2