SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI

SUAMIKU, AKU MENCINTAIMU, AYO BERCERAI
Chapt 24. Dia Benar-Benar Menangis


__ADS_3

Ddrrrttt...ddrrttt.. diiringi OST lagu Spiderman... suaranya berasal dari kamar.


Ketika mendengar suara Hp, Yibao dan Dabao bergegas ke kamar. Di layar mereka melihat sang mami yang melakukan panggilan video


"Hallo, Jagoan mami!" Yan Hao menyapa anak-anak.


"Mamiiiiii....." Yibao memanggil maminya sedangkan Dabao cuma melihat sang mami dengan antusias.


"Iya, sayang.... Bentar lagi mami pulang ya, patuh sama bibi Qi." Yan Hao berkata dengan lembut. Sebenarnya dia tidak ingin menginggalkan anaknya sendiri di rumah, tapi kondisi tidak memungkinkan anaknya untuk ikut, rumah sakit bukan tempat yang cocok untuk anak-anak. Dengan berat hati dia menghubungi Bibi Qi agar bisa menjaga anak-anaknya, sementara dia membawa Sanbao ke rumah sakit.


"Mami,bagaimana Xiao San? Apakah dia takut, apakah dia menangis?" Yibao bertanya sedih.


"Apakah Xiao San merindukan Dabao?" Dabao bertanya. "Yibao juga!" Yibao berteriak. "Dabao dan Yibao merindukan adik perempuan." lalu mereka mulai menangis, Xin Ji ingin sekali memeluk mereka dan menghibur anak-anaknya, namun dia tidak ingin Yan Hao mengetahui keberadaanya.

__ADS_1


"Tidak...tidak...tidak... jangan menangis, nanti adik perempuan akan sedih." Yan Hao membujuk anak-anaknya. Matanya juga berkaca-kaca, dia tidak tega melihat anak-anaknya menangis, kalau bisa membelah diri menjadi dua, dia pasti akan melakukannya demi anak-anaknya.


Sejujurnya, sebagai orang tua tunggal, ada waktunya ketika dia merasa sangat lelah, itu biasanya terjadi jika anak-anaknya sakit. Ketiga anaknya terlalu dewasa, saat mereka sakit, mereka tidak akan mengeluh, mereka hanya akan diam, karena mereka tahu ibunya akan kecapean mengurus mereka. Mereka tetap akan minum obat meskipun obat itu pahit, mereka bahkan akan berkata bahwa obatnya manis agar ibunya tidak bersedih melihat mereka.


Pernah suatu ketika ketiga-tiganya terjangkit virus, Yan Hao tidak menyadarinya karena saat itu anak-anaknya bermain seperti biasa. Selesai merekam suara dan mengirimnya ke radio tempatnya biasa mengisi suara di slot jam 9 malam, dia masuk ke kamar dan hendak tidur, saat itulah dia tahu kalau ketiga anaknya mengalami demam tinggi ketika membetulkan selimut ketiganya, Dengan panik dia menggendong anaknya satu per satu dan meletakkan di dalam mobil, namun naas, mobilnya mogok karena Yan Hao lupa membawanya ke bengkel saat mulai ngadat.


Yan Hao tetap tenang, dia segera menelpon taksi online agar bisa mengantar mereka ke rumah sakit, namun panggilan tidak tersambung. Ketenangannya mulai teruji saat dia kembali masuk ke dalam mobil untuk melihat anak-anaknya, saat itulah dia mulai menangis karena tubuh anaknya mulai menggigil. Dia menggendong mereka kembali ke dalam rumah satu per satu sambil terisak-isak.


Dia ingin menggendong mereka bertiga sekaligus tapi dia tidak memiliki kekuatan. Akhirnya dia ingat, dia memiliki gerobak roda tiga yang biasa digunakan untuk mengangkut tanah atau pun bunga-bunga. Dengan cekatan dia mengambil gerobak itu dan meletakkan selimut diatasnya, dia kemudian menggendong anak-anaknya dan meletakkannya di atas gerobak tanah itu.


Yan Hao mengerahkan semua kekuatannya untuk mendorong gerobak tanah ke jalanan, Saat itu musim panas telah berlalu dan akan memasuki musim gugur, cuaca benar-benar dingin apalagi dimalam hari. Tanpa menghiraukan cuaca dingin, dia tetap berlari mendorong gerobak yang berisi ketiga anaknya, sambil berdoa semoga dia tidak terlambat membawa anaknya ke rumah sakit. Rasa takut kehilangan anak-anaknya memberi dia kekuatan untuk terus berlari.


Di jalanan sebuah mobil Pick Up berhenti di dekatnya, ternyata tetangganya baru saja mau kembali ke rumah mereka. Begitu melihat Yan Hao mendorong gerobak, mereka segera berhenti dan bertanya mengapa dia mendorong gerobak malam-malam di tengah cuaca dingin. Yan Hao langsung menangis melihat mereka.

__ADS_1


"Tolong....tolong... tolong bawa mereka ke rumah sakit," Yan Hao berkata sambil menangis terisak memeluk kaki Bibi Qi.


Bibi Qi segera menarik Yan Hao berdiri dan memeluknya, "Ayo, kita kerumah sakit."


Yan Hao akhirnya jatuh tersungkur tidak sadarkan diri segera setelah anaknya mendapat perawatan dokter. "kelelahan akut dan terlalu tertekan." kata dokter, dia dan anak-anaknya akhirnya dirawat bersama-sama.


Yan Hao segera tersadar mendengar panggilan Yibao dan Dabao.


"Mami, apakah kami boleh melihat Xiao San?"


"Boleh, mami ke sana." Yan Hao masuk dan menunjukkan gambar Sanbao yang dipasangkan selang oksigen di hidungnya, dan alat nebu yang menutupi hidung juga mulutnya.


Xin Ji terdiam disamping, hatinya begitu sakit melihat putri kecilnya begitu menderita. Tanpa sadar dia menangis. benar-benar menangis.

__ADS_1


__ADS_2