
"Mommy... Kapan kita akan pulang?" Sanbao keluar dari bagian dalam toko, lengkap dengan set baju dingin yang lucu, di lehernya terlilit syal rajut tebal berwarna merah berbahan wool, dan dikepalanya ada penutup telinga imut dan cantik juga berwarna merah.
Jika anak-anak seusianya, menyukai warna pink, maka Sanbao sangat menyukai warna merah, dikamar mereka jika ada sesuatu yang berwarna merah, maka itu sudah bisa dipastikan kalau milik Sanbao.
Dibelakangnya menyusul Yibao dan Dabao yang juga menggunakan set pakaian musim dingin,dan syal rajutan berwarna putih untuk Yibao dan Hitam untuk Dabao, dan penutup telinga yang juga berwarna sama seperti syal mereka.
Pak tua tersenyum lembut pada triplet, dia mengeluarkan gelang kecil yang lucu dari dalam kantong celananya.
"Ini untuk kalian." ucapnya sambil menyodorkan ketiga gelang kecil itu pada triplet.
Sebelum mengambil, mereka melihat ke arah mommynya, saat kepala Yan Hao mengangguk, mereka baru mengulurkan tangan menerima gelang pemberian sang kakek.
"Terima kasih, kakek." ucap mereka berbarengan.
"Kalian tunggu sebentar di dalam, mommy bicara sebentar dengan kakek."
"Baik," mereka bertiga masuk ke dalam.
"Nyonya, saya akan kembali ke penginapan."
"Bagaimana kalau bapak tinggal di tempat saya sampai badai salju berhenti, besok jika badai salju sudah berhenti, saya akan mengantar pak tua ke bandara."
Pak tua nampak malu. "Apakah itu tidak merepotkan?"
__ADS_1
"Tidak, mereka malah akan senang, biasanya kakek buyut mereka akan datang setiap akhir bulan, namun sampai sekarang masih belum datang, mungkin karena ada badai jadi kedatangan kakek buyut mereka terhambat, jadi anggap saja pak tua adalah pengganti kakek buyut mereka.
Mata pak tua memerah, dia merindukan anak dan cucunya, namun takdir tidak berpihak padanya.
Sekarang, Tuhan mengirimkan seorang malaikat beserta 3 peri kecil untuk mengobati luka hatinya.
Sebelum kembali ke Indonesia, dia ingin membantu Nyonya Yan untuk membuka mata batinnya agar mampu melihat ke depan lebih jelas, bakat alami yang dimiliki nyonya Yan harus diasah, baru bisa digunakan dengan baik.
Sekilas memandang, akan ada tragedi berdarah yang menimpa keluarga kecil ini. Sebagai orang yang di besarkan dengan kultur Indonesia yang berakar kuat, pak tua ingin membalas jasa Nyonya Yan yang sudah membantunya di Negara Asing ini, dengan meningkatkan kultivasi mata batinnya agar bisa terhindar dari peristiwa berdarah yang secara samar dilihat pak tua.
Di Indonesia, Pak tua dan keluarganya berdomisili di bali. pak tua bekerja sebagai guru bahasa mandarin, sedangkan anaknya Santi, bekerja sebagai tour guaide pada sebuah agen perjalanan swasta di Indonesia, karena itulah dia bisa bertemu dengan Lao Chen. Mereka menjalin cinta selama setahun sebelum Lao Chen akhirnya datang melamar Santi dan memboyongnya ke Negeri Tirai Bambu China.
Dua tahun pertama pernikahan mereka, Santi masih sering memberi kabar kepada orang tuanya di Indonesia, mereka memiliki sepasang anak kembar yang lucu dan menggemaskan.
3 Tahun kemudian, Pak tua mendapat kabar dari KBRI Tiongkok, bahwa Santi putrinya beserta seluruh keluarganya menjadi salah satu korban kebakaran hebat yang melanda daerah pesisir. Proses pencarian jejak Santi memang memakan waktu cukup lama, karena Santi yang sudah berganti nama dan sering berpindah tempat tinggal mengikuti suaminya, membuat petugas KBRI mengalami kesulitan.
Mereka mulai mendapat jejak Santi dan keluarga setelah mendengar pembicaraan acak Warga Negara Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah pesisir, bahwa ada orang Indonesia dalam kebakaran besar yang terjadi di daerah pesisir 3 tahun lalu.
Istri pak tua langsung jatuh pingsan dan koma. Sedangkan pak tua terpaksa meniggalkan istrinya dalam perawatan anak sulungnya, demi mencari kebenaran berita kematian putri bungsunya di Negeri Panda ini.
Pak tua mengikuti nyonya Yan dan ketiga kembar kecil yang lucu dan imut masuk ke dalam mobil. Si kembar tiga yang sepertinya mengetahui suasana hati kakek tua, tak hentinya berceloteh riang untuk menghibur hati kakek tua yang sedang sedih, perlahan tapi pasti, ada senyum yang terlihat di mata kakek tua, itu membuat Yan Hao lega.
Bagaimanapun, tragedi yang menimpa Santi, anak pak tua adalah tragedi kemanusiaan yang menyayat hati. Meninggalkan negara tercinta demi mengikuti sang suami meraih kebahagiaan, namun malah meninggal menggenaskan beserta seluruh keluarga tanpa pernah disadari oleh mereka.
__ADS_1
Untuk mengatasi rasa dingin yang menggigit hingga ke tulang, Yan Hao membuat makan malam yang lezat dengan menu utama adalah hot pot daging sapi dan bakso ikan kesukaan si triplet.
Yan Hao juga menyediakan minuman herbal dari bunga dan jahe agar menjaga ketahanan tubuh di musim dingin juga membuat tubuh tetap hangat.
Karena pak tua akan kembali ke Indonesia keesokan harinya, jadi seperti janjinya, Pak Tua membuka mata batin Yan Hao yang tidak bisa berfungsi dengan baik karena terhalang kabut hitam tebal.
Setelah bermeditasi hampir semalaman, Pak tua akhirnya bisa menghilangkan kabut hitam yang mengahalangi pandangan mata batin Yan Hao untuk melihat ke depan.
Sebelum kembali, Yan Hao memberikan banyak ramuan herbal yang dibuat khusus dari rempah dan bunga untuk istri pak tua I Made Karsa di Indonesia yang sedang koma, dan juga aroma theraphy bunga dalam bentuk dupa untuk merangsang saraf istri pak tua untuk proses pemulihan.
Pak Tua Made, kembali ke Indonesia keesokan harinya dengan di antar sama Yan Hao dan ketiga buah hatinya.
"Nyonya Yan, berhati-hatilah dalam beberapa minggu ke depan." Ucap Pak Tua sambil menatap wajah Yan Hao dengan serius, "terutama untuk ketiga anakmu, jangan biarkan mereka di dekati orang asing." Lanjutnya sebelum akhirnya masuk ke dalam ruang tunggu bandara.
Yan Hao yang telah beberapa kali diperingati pak tua mulai berpikir serius, "Apa yang akan menimpa anak-anak nanti?" batinnya khawatir.
"Mommy, ayo kita pulang, kakek sudah masuk berada di dalam." Ujar Sanbao sambil menarik tangan Yan Hao.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, seorang lelaki menggunakan kacamata hitam, mantel tebal berwarna coklat panjang, dan topi kupluk, berdiri di sudut sambil menghisap rokok, memandang Yan Hao dan ketiga anaknya dengan instens.
Sanbao yang peka, seketika menoleh ke arah sang lelaki misterius dan memandangnya dengan tajam.
"Mommy... Mengapa orang itu memandangi kita dari tadi?" ujar Yan hao sambil menunjuk ke arah lelaki misterius tersebut. Namun saat Yan Hao melihat ke arah yang dituju Sanbao, pria misterius itu sudah menghilang.
__ADS_1